“Dunia jahat dan kau kalah? Lihat telapak tanganmu! Ayah selalu menempa tanganmu itu. Agar tak menyerah. Ibu tak henti memapah tangan itu untuk berdoa. Bangkitlah untuk melangkah.”
- J.S. Khairen, Dompet Ayah Sepatu Ibu (2023)
Kalimat itu terasa seperti tamparan kecil ketika saya membacanya. Tiga hari lalu saya membeli “Dompet Ayah Sepatu Ibu” karya J.S. Khairen. Belum sampai halaman terakhir, baru sekitar separuh perjalanan, saya sudah menangis tiga kali. Yang paling menyebalkan, Khairen sudah membuat saya menangis sejak halaman-halaman awal. Buku ini ternyata bukan bacaan yang aman untuk orang yang sedang rindu rumah.
Informasi buku
- Judul: Dompet Ayah Sepatu Ibu
- Penulis: J.S. Khairen
- Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia/Grasindo
- Terbit: 2023
- Tebal: sekitar 216 halaman
- ISBN: 978-602-05-3022-2
Novel ini mengikuti Zenna dan Asrul, dua anak yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi di kawasan Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Mereka berhadapan dengan pendidikan, pekerjaan, keluarga, kemiskinan, dan impian untuk mengubah hidup. Gramedia sendiri mencatat bahwa novel ini mengangkat persoalan kemiskinan struktural, ketimpangan kelas, rendahnya kesejahteraan guru, hingga keterbatasan digitalisasi di daerah.
Namun saya kira kekuatan buku ini tidak berhenti pada cerita tentang orang miskin yang ingin menjadi sukses. Khairen membuat kemiskinan terasa sebagai kondisi sosial yang konkret. Ada biaya sekolah, pekerjaan yang tidak seberapa, kebutuhan rumah tangga, jarak, kesempatan yang sempit, dan orang tua yang harus menghitung uang sebelum membelanjakannya. Kemiskinan di sini bukan dekorasi untuk membuat pembaca iba.
Judulnya sendiri sudah menjadi metafora yang menyakitkan. “Dompet Ayah” terasa seperti tempat segala kecemasan ekonomi disimpan diam-diam. Di dalamnya mungkin ada uang, tetapi bisa pula terselip utang, kebutuhan sekolah, biaya rumah, dan berbagai kekhawatiran yang tidak pernah dibicarakan kepada anak. Sementara “Sepatu Ibu” seperti jejak panjang seseorang yang terus berjalan agar anak-anaknya dapat melangkah lebih jauh.
Di titik itu saya mulai teringat ayah dan ibu saya sendiri. Ini bagian paling berbahaya dari buku ini. Kita membaca Zenna dan Asrul, lalu tiba-tiba wajah orang tua sendiri muncul di kepala. Kita baru sadar bahwa orang tua ternyata memiliki kehidupan yang jauh lebih panjang daripada peran mereka sebagai “Ayah” dan “Ibu”.
Kita begitu rajin membaca tokoh-tokoh besar. Kita hafal pemikiran filsuf, mengutip sastrawan, mengikuti perjalanan selebritas, bahkan mengoleksi biografi orang yang tidak pernah kita temui. Lucunya, kisah hidup orang tua sendiri kadang tidak pernah kita tanyakan. Kita tahu siapa Marcus Aurelius, tetapi belum tentu tahu apa yang paling ditakuti bapak ketika usianya dua puluh lima tahun.
Mungkin karena itulah novel ini terasa begitu dekat bagi generasi muda. Kita hidup ketika mobilitas sosial sering dibicarakan sebagai persoalan usaha individual, belajar lebih keras, bekerja lebih giat, jangan menyerah. Semua nasihat itu terdengar bagus sampai kita melihat berapa banyak pengorbanan yang sebenarnya dilakukan sebuah keluarga agar seorang anak memperoleh kesempatan untuk bermimpi.
Khairen menulisnya dengan bahasa yang mengalir dan mudah didekati. Ada humor, bahasa sehari-hari, kultur lokal, serta puisi-puisi pendek yang mengawali beberapa bagian. Gramedia juga menilai bahasa novel ini sederhana sehingga cerita yang kompleks tetap terasa mudah diikuti.
Yang paling saya sukai, penderitaan dalam novel ini tidak terasa seperti tontonan. Tokoh-tokohnya memang miskin, tetapi mereka tidak diperlakukan sebagai objek kasihan. Mereka punya kemarahan, ambisi, harga diri, cinta, kesalahan, bahkan kebodohan. Mereka manusia. Justru karena itu perjuangannya terasa lebih menyakitkan.
Saya belum selesai membaca “Dompet Ayah Sepatu Ibu”. Karena itu, rating 4,7/5 ini masih bersifat sementara. Namun kalau separuh perjalanan saja sudah membuat saya menangis tiga kali, saya mulai curiga, mungkin yang sedang saya baca bukan sekadar cerita tentang Zenna dan Asrul. Mungkin saya sedang membaca ulang cerita tentang ayah dan ibu sendiri.
Dan mungkin itu sebabnya buku ini terasa begitu menyakitkan. Sebab pada akhirnya, kita semua punya satu dompet ayah yang tidak pernah benar-benar kita buka dan sepasang sepatu ibu yang baru kita sadari bekas langkahnya ketika kita sudah terlalu jauh berjalan.
Baca Juga
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
-
Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Fourteen Ways of Looking at Jellyfish: 14 Cara Melihat Keajaiban Ubur-Ubur
-
Review Film Runner: Kisah Pengorbanan Mengharukan dalam Balutan Laga Modern
-
Review Dark Matter Season 1: Menjelajah Multiverse Demi Menyelamatkan Cinta Sejati
-
Humor Jurnalistik: Belajar Menulis Tajam Tanpa Harus Mengernyitkan Dahi
-
Membedah Teka-teki dan Teror Psikologis dalam Film The Whisper Man
Terkini
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
-
5 Sunscreen Korea untuk Kulit Sensitif: Aman, Tanpa Alkohol dan Parfum
-
Live-Action Look Back Sukses Bawa Pulang UNIMED Award dalam Gelaran Venice
-
Jadwal MotoGP Austria 2026: 3 Pembalap Ini Bersiap Menyelamatkan Diri!
-
Green Mothers' Club: Obsesi pada Anak Berprestasi dalam Standar Parenting