Rindu tak selalu datang dalam bentuk seseorang yang kita tunggu. Kadang, ia muncul berupa kenangan masa kecil, wajah orang tua, atau kehidupan yang pernah kita jalani tanpa sempat memahami betapa beratnya hari-hari tersebut. Dalam antologi Rindu yang Menjelma Kabut Pagi, rindu menemukan banyak bentuk melalui puisi-puisi yang ditulis oleh Muhammad Rizki Al Toriq, Kaesa Messy Tamaya, dan sejumlah penulis lainnya.
Buku yang diterbitkan melalui penerbit Pena Aksara pada Juni 2025 ini merupakan bagian dari proyek antologi #TunasPuspus yang berlangsung pada April–Mei 2025. Buku ini menghimpun karya dari para penulis dengan latar dan pengalaman yang beragam. Keberagaman tersebut membuat antologi ini tidak hanya menjadi kumpulan puisi, tetapi juga ruang pertemuan berbagai cara manusia memandang kehilangan, keluarga, cinta, dan kehidupan.
Isi Buku
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah puisi berjudul “Menjamu Ritus Kehilangan” karya Muhammad Rizki Al Toriq, yang meraih juara pertama dalam proyek tersebut. Puisi ini menghadirkan potret keluarga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Ayah yang pincang, ibu yang tangannya mengalami keterbatasan, serta anak-anak yang harus berhadapan dengan utang dan tekanan ekonomi menjadi bagian dari gambaran penderitaan yang disampaikan secara lugas sekaligus menyakitkan.
Yang membuat puisi ini kuat adalah pemilihan sudut pandangnya. Tokoh aku merupakan anak bungsu yang bisu. Ia tidak mampu menyampaikan penderitaan keluarganya melalui kata-kata, sehingga tangisan menjadi satu-satunya cara untuk mewartakan apa yang terjadi. Keterbatasan suara tersebut justru mempertegas kesunyian yang dialami keluarga itu.
Dalam puisi ini, kemiskinan bukan sekadar persoalan tidak memiliki uang. Ia menjalar ke tubuh, hubungan keluarga, pekerjaan, bahkan harga diri. Gorengan ibu yang tidak laku karena orang-orang merasa jijik terhadap kondisi tangannya menjadi gambaran tentang bagaimana kemiskinan dapat menciptakan stigma. Di sini, rasa kehilangan bukan hanya kehilangan materi, melainkan juga kehilangan kesempatan untuk hidup dengan bermartabat.
Sementara itu, puisi “Pria Kecil di Pintu Kelas” karya Oktavia Ningrum menghadirkan suasana yang berbeda. Jika karya Muhammad Rizki Al Toriq berbicara tentang luka sosial dan kemiskinan, puisi ini membawa pembaca kepada kenangan masa kecil tentang seorang anak laki-laki yang tumbuh menjadi sosok dewasa yang dikagumi.
Melalui kenangan selama dua belas tahun, puisi ini menunjukkan bahwa kekaguman tidak selalu harus berakhir dengan kepemilikan. Ada perasaan yang cukup disimpan sebagai penghormatan terhadap seseorang yang pernah memberikan kesan mendalam. Rindu dalam karya ini bukan keinginan untuk mengubah masa lalu, melainkan usaha untuk mengakui bahwa pernah ada seseorang yang berarti.
Kedua puisi tersebut memperlihatkan keluasan tema yang dapat ditemukan dalam antologi ini. Ada karya yang berangkat dari persoalan sosial, sementara karya lainnya tumbuh dari pengalaman personal dan kenangan. Perbedaan tersebut menjadi kekuatan antologi karena pembaca dapat menemukan berbagai bentuk emosi dalam satu buku.
Kelebihan dan Kekurangan
Pertama menggenggam buku ini, covernya sangat cantik dan terasa selaras dengan kesan yang dibangun oleh judulnya. Buku ini juga punya ukuran yang cukup tebal untuk sebuah buku antologi puisi. Dengan ketebalan 290 halaman, kumpulan kisah dari ratusan penulis di buku ini membawa keragaman rasa dan gaya tulis sendiri. Menjadi pintu menuju begitu banyak cerita, perasaan, dan pengalaman dari ratusan penulis di dalamnya. Setiap penulis membawa warna, keresahan, kenangan, dan gaya bahasa masing-masing, sehingga buku ini terasa seperti kumpulan kabut yang berasal dari banyak pagi.
Antologi ini bukan hanya tentang rindu, melainkan tentang bagaimana setiap orang memiliki cara sendiri untuk mengingat, kehilangan, mencintai, dan berdamai dengan apa yang pernah tinggal dalam hidupnya.
Selain menghadirkan karya sastra, pembelian buku ini juga mendukung program donasi buku untuk perpustakaan kecil dan taman baca di seluruh Indonesia. Melalui program tersebut, hasil penjualan membantu mendistribusikan buku ke tempat-tempat yang membutuhkan serta mendukung upaya peningkatan literasi.
Rindu yang Menjelma Kabut Pagi menjadi antologi yang mempertemukan karya sastra dengan gerakan literasi. Buku ini mengingatkan bahwa puisi tidak selalu harus berbicara tentang keindahan. Ia juga dapat menjadi tempat untuk menyimpan luka, mengenang seseorang, dan menyuarakan kehidupan yang sering kali tidak terdengar.
Identitas Buku
- Judul: Rindu yang Menjelma Kabut Pagi
- Penulis: Muhammad Rizki Al Toriq, Kaesa Messy Tamaya, dkk.
- Editor: Helva Silvianita
- Penerbit: Pena Aksara
- Tahun Terbit: Juni 2025
- Tebal: 290 halaman
- Kategori: Antologi Puisi
Baca Juga
-
Kenapa Harus Melihat Orang Lain Menderita Dulu untuk Belajar Bersyukur?
-
Jangan Remehkan Kata-kata: Bahasa Dipersempit, Pikiran Ikut Dikendalikan
-
Merangkul Keragaman dengan Komedi di Buku Pahlawan Tanpa Tanda Tangan
-
Kalau Semua Harus Ditanggung Sendiri, Lalu Pajak Kita untuk Apa?
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sisi Lain Anne of Green Gables: Benarkah Dunia Anne Tak Ramah Perempuan?
-
Review Film Urang Bunian: Teror Makhluk Gaib di Hutan Sumatera
-
Esensi The End of Oak Street: Teror Dinosaurus yang Memburu Satu Keluarga
-
Belajar Memahami Diri dan Menemukan Ketenangan dalam Buku Seni Menyikapi Hidup
-
Ulasan Five Survive: Ketika Rahasia Menjadi Ancaman Mematikan
Terkini
-
Buat Kaget! Park Shin-hye dan Choi Tae-joon Sambut Kelahiran Anak Kedua
-
Kenapa Harus Melihat Orang Lain Menderita Dulu untuk Belajar Bersyukur?
-
Paradoks Prestasi Akademik: Ketika Nilai Bagus Justru Jadi Bahan Ejekan
-
Menjual Etika Ekraf: Mengapa Kita Salah Kaprah Memaknai Moral?
-
5 Pilihan Sunscreen Korea Antioksidan untuk Kulit Glowing dan Terlindungi