Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Tiga dalam Kayu (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Sebuah perpustakaan semestinya menjadi tempat menyimpan pengetahuan dan merawat ingatan. Namun, bagaimana jika perpustakaan justru menyerupai pekuburan prasejarah, tempat kisah-kisah ganjil tentang manusia, kekerasan, dan kematian tersimpan di antara tumpukan buku? Gagasan itulah yang menjadi pintu masuk Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam novel Tiga dalam Kayu.

Diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 30 Maret 2022, buku setebal 162 halaman ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak biasa. Ziggy menyusun cerita melalui sebelas bab awal yang terasa seperti kumpulan cerita pendek, kemudian dilanjutkan dengan tujuh bab yang membentuk cerita utama. Sekilas, keduanya tampak berdiri sendiri. Namun, pembaca yang bertahan hingga bagian akhir akan menemukan benang merah yang menghubungkan kisah-kisah tersebut.

Isi Buku

Buku ini dibuka dengan gambaran masa depan ketika perpustakaan tak ubahnya pekuburan prasejarah. Di tempat itu, seorang gadis berhadapan dengan sebelas buku yang masing-masing menyimpan cerita berbeda. Kisah-kisah di dalamnya terasa ganjil, absurd, bahkan terkadang asing. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat semuanya seolah saling berkaitan.

Sebelas cerita awal tersebut menghadirkan beragam situasi dan tokoh yang tidak mudah ditebak. Ada kisah seseorang yang begitu menyayangi ikan, tetapi memiliki istri yang justru pandai memasak ikan. Ada pula cerita pasangan kaya, Van Wijk, yang meninggal bersama dan meninggalkan harta kekayaan kepada seorang anak perempuan yang dianggap sebagai keturunan mereka. Cerita-cerita lain juga bergerak dalam dunia yang penuh keanehan, dengan peristiwa yang kadang terasa tidak masuk akal.

Di balik keunikan tersebut, terdapat tema yang lebih kelam: pembunuhan dan kekerasan terhadap perempuan. Baik cerita-cerita pendek maupun bagian novel utamanya sama-sama memperlihatkan bagaimana perempuan menjadi korban kekerasan dalam berbagai bentuk. Ziggy tidak menghindari penggambaran yang eksplisit. Darah, tubuh, dan organ manusia dideskripsikan secara gamblang sehingga sejumlah bagian dapat terasa mengganggu bagi pembaca.

Menariknya, struktur buku ini justru menjadi salah satu aspek yang paling mengundang pertanyaan. Apa fungsi sebelas cerita pendek di bagian awal? Apakah semuanya merupakan dongeng yang diceritakan oleh perempuan penjaga perpustakaan dan seorang arkeolog sushi kepada tokoh utama? Ataukah cerita-cerita itu sengaja ditempatkan sebagai pengantar untuk memperlihatkan berbagai contoh kekerasan terhadap perempuan sebelum persoalan tersebut dibahas lebih jauh dalam cerita utama?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak langsung memperoleh jawaban. Pembaca perlu mengumpulkan potongan informasi dari setiap bab, memperhatikan kemunculan tokoh dan peristiwa, lalu menghubungkannya sendiri. Ketika sampai di bagian akhir, keterkaitan yang sebelumnya tersembunyi mulai terlihat. Dengan demikian, sebelas cerita awal bukan sekadar kumpulan kisah acak, melainkan bagian dari konstruksi narasi yang lebih besar.

Kelebihan dan Kekurangan

Dari segi gaya penulisan, Ziggy tetap mempertahankan ciri khasnya melalui pilihan bahasa yang cenderung formal dan susunan cerita yang tidak konvensional. Namun, gaya tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri. Struktur yang berlapis, perpindahan cerita, serta penggunaan bahasa yang cukup rumit membuat sebagian bagian terasa sulit dinikmati. Pembaca yang mengharapkan alur lurus dengan penjelasan langsung mungkin membutuhkan kesabaran ekstra.

Meski demikian, Tiga dalam Kayu menawarkan pengalaman membaca yang berbeda dari novel pada umumnya. Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya mengikuti jalan cerita, tetapi juga menafsirkan hubungan antarkisah dan memahami persoalan yang tersembunyi di balik keanehan setiap peristiwa.

Tiga dalam Kayu bukan bacaan ringan yang seluruh misterinya dapat dipahami sejak halaman pertama. Ia menuntut perhatian, kesabaran, dan kesediaan untuk menerima cerita yang ganjil.

Di balik bentuknya yang eksperimental, buku ini menyimpan kritik mengenai kekerasan terhadap perempuan dan cara pengalaman pahit manusia direkam melalui cerita. Sebuah bacaan yang mungkin membingungkan, tetapi justru mengundang pembaca untuk kembali memikirkan apa yang sebenarnya sedang disampaikan oleh setiap kisah.