M. Reza Sulaiman | Dian Haerani
You Will Die in 6 Hours (Instagram/@_jeongjaehyun)
Dian Haerani

Apa yang akan kamu lakukan kalau seseorang tiba-tiba memberitahumu bahwa kamu akan meninggal enam jam lagi?

Umumnya mungkin kita akan panik. Mencari orang-orang yang kita sayangi. Menyelesaikan sesuatu yang selama ini tertunda. Atau justru diam dan bertanya-tanya, kenapa harus sekarang?

Pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk film Korea Selatan You Will Die in 6 Hours. Film yang dibintangi Jaehyun NCT dan Park Ju-hyun ini tidak sekadar mengajak penonton menebak siapa pelaku pembunuhan, tetapi perlahan membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih personal, kalau kita tahu waktu kita terbatas, apakah selama ini kita sudah benar-benar hidup?

Film berdurasi 91 menit ini diadaptasi dari novel Jepang karya Kazuaki Takano. Jaehyun berperan sebagai Jun Woo, pria misterius yang memiliki kemampuan melihat kematian seseorang di masa depan. Sementara Park Ju-hyun memerankan Jeong Yoon, perempuan yang diberi tahu bahwa dirinya akan meninggal enam jam lagi.

Awalnya, Jeong Yoon tentu tidak percaya. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja ditemuinya bisa mengatakan sesuatu seaneh itu?

Namun, ketika beberapa bagian dari perkataan Jun Woo mulai terbukti, Jeong Yoon akhirnya tidak punya pilihan selain mempertimbangkan kemungkinan terburuk. Mereka kemudian berusaha mencari tahu siapa orang yang akan membunuhnya sekaligus mencari cara untuk mengubah masa depan yang seolah sudah ditentukan.

Dari sinopsisnya saja, film ini terdengar seperti thriller yang akan membuat kita sibuk mencurigai setiap karakter. Dan memang ada unsur misterinya.

Jun Woo sendiri menjadi sosok yang sulit dipercaya. Ia datang membawa kabar tentang kematian, tetapi di saat yang sama justru menjadi orang yang membantu Jeong Yoon menghindari kematian tersebut. Lalu, apakah dia penyelamat? Atau justru orang yang harus dicurigai?

You Will Die in 6 Hours tidak terlalu mengejar ketegangan seperti film thriller pada umumnya. Film ini justru lebih banyak menggunakan konsep 'enam jam' sebagai alat untuk membicarakan kehidupan dan pilihan manusia. Beberapa ulasan juga menilai film ini lebih menonjolkan drama emosional dan refleksi karakter.

Bayangkan kalau kita benar-benar mengetahui tanggal dan jam kematian kita. Selama ini kita sering menjalani hidup dengan asumsi bahwa besok masih ada. Nanti saja. Besok saja. Kalau sudah punya uang. Kalau sudah sukses. Kalau sudah tidak sibuk. Kalau sudah siap.

Itulah yang membuat konsep film ini cukup relate dengan kehidupan anak muda.

Kita hidup di zaman yang seolah memaksa semuanya serba cepat. Usia 20-an harus sudah punya pekerjaan. Harus punya pencapaian. Harus tahu masa depan mau ke mana. Harus punya hubungan yang jelas. Harus produktif.

Akhirnya, kita sibuk mengejar kehidupan yang 'seharusnya' sampai lupa bertanya apakah kita menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Jeong Yoon mungkin hanya memiliki enam jam. Kita mungkin merasa memiliki puluhan tahun. Tetapi bukankah kita sebenarnya sama-sama tidak tahu?

Di sisi lain, perjalanan Jeong Yoon juga menunjukkan bahwa mengetahui kematian tidak otomatis membuat seseorang menjadi berani. Justru rasa takut membuatnya semakin sadar terhadap hal-hal yang selama ini ia anggap biasa.

Mungkin itu juga yang sering terjadi pada kita. Kita baru menghargai kesehatan ketika sakit. Baru menghargai seseorang ketika hubungan mulai menjauh. Baru menyadari betapa berharganya waktu ketika kesempatan sudah tidak bisa diulang.

You Will Die in 6 Hours kemudian menjadi semacam pengingat bahwa waktu tidak harus menunggu kita sampai siap.

Menariknya, Jaehyun juga berhasil membawa karakter Jun Woo dengan pendekatan yang tenang. Ia tidak memainkan sosok misterius dengan ekspresi yang berlebihan. Justru sikapnya yang cenderung dingin dan sulit ditebak membuat karakter tersebut semakin membuat penasaran. 

Meski begitu, film ini bukannya sempurna dan tanpa kekurangan.

Bagi penonton yang mengharapkan thriller dengan tempo cepat, You Will Die in 6 Hours mungkin terasa terlalu lambat. Beberapa ulasan juga menyoroti bahwa alurnya cenderung mudah ditebak dan ketegangannya tidak selalu maksimal.

Tetapi mungkin kita memang tidak perlu melihat film ini sebagai thriller murni. Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar film ini bukan “siapa yang akan membunuh Jeong Yoon?”

Melainkan, “Apa yang akan kita lakukan jika tahu waktu kita tidak sebanyak yang kita kira?”

Karena itu, You Will Die in 6 Hours terasa seperti pengingat yang sederhana tetapi cukup menampar, kita tidak perlu tahu kapan hidup akan berakhir untuk mulai menghargai waktu yang kita punya. Sebab bisa jadi, masalah terbesar kita bukan karena waktu yang terlalu sedikit.

Melainkan karena terlalu sering merasa masih punya banyak waktu.

Dan mungkin, kematian memang tidak selalu datang untuk mengajarkan kita bagaimana cara mati. Kadang-kadang, bayangannya justru mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita menjalani hidup.