M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Official MV "maha benar" (YouTube/Salma Salsabil)
Ukhro Wiyah

Setelah sukses dengan lagu "Hatchu!!" yang bercerita tentang realitas pekerja korporat, kini Salma kembali mengejutkan penggemarnya dengan single baru berjudul "maha benar" yang kata netizen seperti sengaja dibuat untuk merayakan haters-nya. Para penggemar yang mengikuti kariernya sejak awal, mungkin tahu berbagai komentar negatif yang diterima Salma karena musiknya yang berani beda dari yang lain. Padahal dari sesuatu yang berbeda itulah, Salma justru berhasil punya ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh musisi lainnya.

Dengan irama upbeat yang asyik, lagu "maha benar" emang enak banget buat didengarkan sambil menemani aktivitas. Meski begitu, sebetulnya lagu ini punya lirik yang tajam dan sarkas abis. Seperti kata Salmine—penggemar Salma—lagu ini cocok untuk para netizen julid di luar sana yang selalu mengomentari hidup orang lain seakan paling tahu segalanya dan merasa paling benar.

Seperti yang bisa kita lihat di video klipnya, lagu ini dibuat untuk seseorang yang bekerja di lingkungan toksik. Namun, saya rasa lingkungan toksik semacam itu tidak hanya berada di dunia kerja saja, tapi juga banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin karena itu jugalah, single baru Salma yang diberi judul "maha benar" ini terasa sangat dekat.

"Stop, di tahun lalu jatuhku jadi lelucon kawananmu. Lantangnya, jari jarimu menghakimi ku seolah paling tau."

Benar kata Salma. Kita mungkin pernah jatuh dan terpuruk karena komentar negatif yang dilontarkan oleh orang lain. Namun, kita berhasil bangkit dari itu. Jadi stop sampai sini aja deh. Toh, mereka yang berkomentar buruk tidak pernah tahu kehidupan kita secara utuh. Mereka merasa paling tahu, padahal yang mereka lihat hanyalah sebagian kecil saja dari semua perjalanan hidup kita.

"Seakan berlomba dengan lainnya. Jadi boneka, sedikit beda kau tak suka. Oh ..., tak bisa, kau buang buang tenaga."

Sobat Yoursay yang akrab dengan perbandingan, lirik ini bakal relate banget, sih. Di lingkungan yang toksik, kita seolah dipaksa untuk berlomba dan terus mengikuti setiap standar yang ada. Lalu kalau aja kita melakukan hal yang sedikit berbeda dari orang lain, sudah pasti nggak akan disukai dan jadi bahan omongan. Namun, pada akhirnya yang mereka lakukan hanyalah membuang-buang tenaga, sebab bagi kita menanggapi komentar julid, ya, nggak ada gunanya.

"Asal kau tau, ku mampu tanpa dirimu. Setidaknya kau perlu tau kumenang versi diriku. Asal kau tau, ku butuh yang masih mau berikan ku satu pelukan dibandingkan sejuta makian. Diamnya aku bukan kalah ku, teriakanmu kuanggap jadi angin lalu. Kau tau, ku selangkah lebih maju darimu."

Ini bagian favorit saya sekaligus jadi bagian yang menurut saya paling menohok di lagu ini. Kita bisa menjalani hidup tanpa komentar dari mereka. Tak menanggapi hal semua perkataan negatif sama sekali tidak membuat kita kalah. Justru dengan tetap bersikap bodo amat dan menjalani hidup seperti biasa tanpa merasa terganggu malah membuat kita menang dalam versi diri kita sendiri. Sebab yang jauh lebih kita butuhkan adalah sebuah dukungan, bukan komentar jahat maupun caci maki. Dan kita bisa terus maju di jalan yang kita pilih tanpa harus mengikuti standar dari orang lain.

"Kau... maha... benar... Ingatlah ingat, sama sama... manusia..."

Seseorang mungkin bisa merasa paling benar, paling hebat, atau paling baik. Namun, pada akhirnya tak pernah ada manusia yang sempurna. Baik kita maupun orang-orang dengan berbagai pemikirannya, semua sama-sama manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Jika kita simpulkan, selain jadi sindiran keras buat orang-orang julid, lagu "maha benar" juga jadi pengingat bahwa tidak semua perkataan perlu kita dengarkan dan tidak semua penilaian harus kita jadikan ukuran untuk menjalani hidup.

Kita tidak akan pernah bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan atau katakan tentang diri kita. Namun, kita selalu punya pilihan untuk tidak membiarkan komentar mereka menentukan langkah yang ingin kita ambil. Dan seperti kata Salma di lagu ini, kita semua sama-sama manusia. Sama-sama pernah salah, pernah jatuh, dan masih terus belajar menjadi lebih baik. Jadi, untuk apa merasa paling benar jika pada akhirnya kita pun masih punya banyak hal yang perlu diperbaiki?