Sejujurnya, Room No. 7 merupakan salah satu film yang cukup membingungkan menurut saya. Yeah, setidaknya itulah kesan pertama yang saya dapat ketika menonton di menit-menit pertama. Namun, seiring berjalannya cerita, perlahan saya mulai bisa sedikit memahami tentang beberapa hal yang mungkin ingin disampaikan oleh film ini.
Sebelum membahas lebih jauh, lebih dulu saya akan menjelaskan sinopsis dari Room No. 7. Film ini bercerita tentang Doo-shik (Shin Ha-kyun), pemilik usaha penyewaan DVD yang hampir bangkrut dan menanggung utang. Karena hal itu, ia sangat ingin menjual tokonya.
Suatu hari, karyawan part time Doo-shik yang bernama Tae-jung (D.O. EXO) yang sedang terlilit utang terpaksa harus menyembunyikan "barang" di ruang no. 7 toko. Konflik memuncak ketika Doo-shik tiba-tiba menggembok ruangan tersebut dari luar demi menyembunyikan rahasia gelapnya sendiri.
Akibatnya, Tae-jung panik karena tidak bisa mengambil barang miliknya yang terkunci di dalam. Berawal dari sanalah, dua orang yang sama-sama menyimpan rahasia besar ini terjebak dalam situasi kucing-kucingan yang penuh kepanikan, saling membohongi, dan berusaha melindungi rahasia masing-masing.
Ulasan Film Room No. 7
Meskipun sempat merasa bingung di awal, setelah menontonnya sampai akhir, rupanya Room No. 7 merupakan film thriller bergenre dark comedy yang dikemas dengan cerita ringan yang penuh dengan ketegangan psikologis.
Akting Shin Ha-kyun dan D.O. EXO di film ini sukses menggambarkan karakter Doo-shik dan Tae-jung yang putus asa, egois, tapi manusia. Dengan chemistry yang kuat dan solid, keduanya berhasil menyampaikan emosi yang dirasakan karakter masing-masing melalui ekspresi frustrasi dan kepanikan yang natural.
Selain akting dan chemistry, kelebihan lain dari film ini adalah premisnya yang cukup unik. Latar utama toko penyewaan DVD yang sempit membuat suasana cerita terasa lebih menyesakkan dan menciptakan ketegangan yang terasa berbeda dari tontonan thriller biasanya yang mengandalkan adegan kekerasan dan kejar-kejaran untuk membangun ketegangannya.
Kemudian film Room No. 7 juga menyimpan kritik sosial yang cukup tajam. Melalui karakter Doo-shik film ini seolah sedang menyindir realitas sulitnya mempertahankan bisnis kecil di tengah jeratan utang dan berbagai persoalan lainnya. Sementara itu, karakter Tae-jung menjadi gambaran generasi muda sekaligus mahasiswa yang berusaha mati-matian untuk bertahan hidup sembari melunasi biaya kuliah yang tak sedikit.
Namun, meski memiliki beberapa kelebihan, bukan berarti Room No. 7 jadi film yang sempurna. Sebagian penonton menilai eksplorasi komedi di film ini masih terasa nanggung dan terlalu kelam. Jadi alih-alih komedi, film ini kadang rasanya lebih seperti drama kriminal depresif. Saya pribadi sependapat tentang hal itu. Beberapa adegan mungkin ada yang mengundang tawa getir, tapi tetap lebih banyak yang justru bikin saya mengernyitkan dahi.
Hal lain yang membuat eksekusi film ini terasa kurang adalah temponya yang tidak konsisten. Di paruh pertama, kita disuguhkan alur yang cepat dan penuh plot twist. Tetapi sayangnya, di paruh kedua hingga akhir cerita alurnya terasa melambat. Penyelesaian konfliknya pun menurut saya juga masih terasa kurang memuaskan.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, kita tetap bisa mengambil beberapa pelajaran melalui film Room No. 7. Salah satu yang paling mengena menurut saya adalah tentang bagaimana himpitan ekonomi, kemiskinan, dan utang bisa membuat seseorang berubah menjadi egois dan kehilangan empati.
Jika saat ini ada seseorang di antara kita yang mungkin sedang menghadapi persoalan finansial serupa, film ini juga menjadi pengingat bahwa menghalalkan segala cara demi memperbaiki keuangan bukanlah solusi yang bisa kita pilih. Sebab tindakan yang sejak awal tak bisa dibenarkan secara moral ataupun hukum pada akhirnya bisa menjatuhkan seseorang dalam kehancuran.
Baca Juga
-
Bikin Senyum-Senyum Sendiri tapi Berujung Luka, Ini 5 Drakor Romantis yang Susah Banget Dilupain!
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
-
Foto Baru, Pakaian Baru: Haruskah Kita Selalu Tampil dengan Outfit Berbeda di Setiap Unggahan?
-
Review Once We Were Us: Saat Masa Depan Membawa Cinta ke Arah yang Berbeda
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review The Mongoose: Ketika Veteran Tangguh Menghadapi Fitnah dan Maut!
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction
Terkini
-
Tecno Megabook K15S Resmi di Indonesia, Laptop Ryzen 5 dengan Baterai 70 Wh Seharga Rp8,5 Juta
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?