Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Foto Film Skenario Sang Jenderal (Netflix)
Athar Farha

Kasus Brigadir J pernah memenuhi layar televisi, portal berita, media sosial, sampai ruang sidang. Empat tahun berlalu, Netflix membawa kembali tragedi tersebut melalui Skenario Sang Jenderal, film dokumenter true crime berdurasi sekitar 89 menit yang disutradarai Rob Sixsmith. Film ini tayang di Netflix sejak 18 September 2026 dan memakai judul internasional General Mayhem: The Killing of Brigadier J.

Dokumenter ini berangkat dari kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta. Narasi awal yang beredar menyebut Yosua tewas dalam baku tembak dengan Richard Eliezer setelah dugaan pelecehan terhadap Putri Candrawathi. Perjalanan penyelidikan kemudian mengubah gambaran tersebut. Film mengikuti pergeseran cerita itu sampai terungkapnya rekayasa perkara, perusakan CCTV, proses penyidikan, serta persidangan yang berujung pada hukuman Ferdy Sambo dan pihak-pihak lain yang terlibat.

Rob Sixsmith sebelumnya terlibat dalam Film Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso, sehingga pendekatan investigatifnya punya kesinambungan. Skenario Sang Jenderal mengandalkan arsip pemberitaan, rekaman lama, dokumentasi penyelidikan, serta wawancara. Rosti Simanjuntak, ibu Yosua, menjadi salah satu suara penting. Pensiunan Kabareskrim Ito Sumardi dan Komisioner Kompolnas Poengky Indarti turut memberikan perspektif, sementara rekaman wawancara lama Ferdy Sambo ketika masih aktif sebagai perwira Polri dipakai untuk memperkaya gambaran tentang sosok yang jadi pusat perkara.

Menariknya, film ini punya bahan yang sebenarnya sudah sangat dikenal publik. Penonton Indonesia sudah mengetahui perubahan besar dalam kasus tersebut. Karena itu, ketegangan dokumenter ini bukan bertumpu pada misteri tentang siapa yang bertanggung jawab, melainkan pada proses bagaimana versi kejadian bisa dibangun sedemikian rupa sampai dipercaya banyak orang.

Di sinilah Skenario Sang Jenderal begitu kuat memainkan persepsi penonton. Film memperlihatkan kebohongan besar jarang datang dengan bentuk yang langsung terlihat sebagai kebohongan. Kebohongan bisa ‘ada’ melalui pernyataan resmi, potongan informasi, posisi orang-orang yang menyampaikannya, serta kepercayaan publik terhadap institusi yang berada di balik narasi tersebut. Ketika satu demi satu bagian mulai retak, penonton melihat yang runtuh bukan sebatas cerita, melainkan kepercayaan terhadap cerita itu sendiri.

Media kemudian menjadi bagian penting dalam pengalaman tersebut. Pemberitaan awal ikut membentuk persepsi publik, sementara perkembangan penyelidikan membuat media pula menjadi ruang tempat narasi lama dibongkar. Film menggunakan arsip tersebut sebagai semacam mesin waktu. Penonton diajak kembali melihat bagaimana informasi pertama kali diterima sebelum mengetahui apa yang kemudian terungkap.

Namun, di titik yang sama muncul kelemahan terbesar film ini. Skenario Sang Jenderal membicarakan tragedi yang pernah berubah menjadi tontonan nasional, lalu mengemas kembali tragedi tersebut sebagai tontonan global melalui Netflix. Label Netflix sendiri memasukkannya ke kategori true crime sekaligus ‘Media Circus’, penanda yang amat relevan dengan tema filmnya.

Dokumenter ini akhirnya menarik karena berada di tengah kontradiksi tersebut. Film ini membongkar bagaimana publik pernah diarahkan untuk mempercayai sebuah narasi, sambil ikut membawa kembali ingatan tentang tragedi itu ke hadapan jutaan penonton. Skenario Sang Jenderal pun lebih dari sekadar rekonstruksi kasus. Film ini pun jadi gambaran tentang kekuatan sebuah cerita ketika disampaikan oleh pihak yang dipercaya, sekaligus tentang bagaimana cerita yang sama bisa berubah jadi tontonan ketika sejarah sudah selesai jadi berita.

Menarik banget! Buat Sobat Yoursay yang terlewat kasus besar yang mengguncang publik pada masanya, kalian wajib nonton di Netflix. Jangan lupa bagikan pendapatmu tentang Film Skenario Sang Jenderal di sini, ya. Selamat menonton.