Di balik kesuksesan gelombang Hallyu yang mendunia, industri drama Korea nyatanya kini sedang menghadapi krisis eksistensial di dalam negeri.
Keresahan itu dijelaskan melalui konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, pada Rabu (4/11/2026) yang didatangi oleh belasan asosiasi industri, termasuk Asosiasi Produksi Drama Korea dan Asosiasi Penulis TV & Radio Korea.
Korea JoongAng Daily pada Kamis (5/11/2026), melaporkan bahwa asosiasi tersebut mengungkapkan krisis ini bukan sekadar urusan finansial sektoral, tetapi ancaman bagi ekonomi gelombang Korea secara nasional.
Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea Song Byeong-joon menjelaskan bahwa drakor sukses mendongkrak ekspor makanan, kosmetik, mode, hingga pariwisata, tapi hal itu tak sama dengan nasib industrinya sendiri.
Ia melaporkan jebakan struktur finansial saat ini, di mana modal yang besar sudah tak lagi menjamin keuntungan.
Menurut data yang dipegang asosiasi, hanya dalam dua tahun, volume produksi drama sudah mengalami penurunan yang tajam sekitar 30 persen dari rekor 141 judul pada 2022. Stasiun televisi siaran bebas raksasa seperti KBS, MBC, dan SBS bahkan turut terkena getahnya.
Jumlah tayangan mereka turun drastis dari 91 judul pada 2012 menjadi hanya 32 judul pada tahun lalu, yang makin diperparah oleh efek lesunya perolehan iklan.
Para pelaku industri juga secara terang-terangan menjelaskan bahwa platform streaming global bermodal raksasa, seperti Netflix dan Disney+ menjadi biang kerok dari rusaknya standar biaya produksi.
Kehadiran platform asing ini dianggap menjadi ancaman untuk kemampuan perusahaan lokal agar dapat mempertahankan hak kekayaan intelektual (IP) mereka.
Penderitaan sineas dijelaskan kian lengkap dengan hadirnya tren kecerdasan buatan (AI) dan menjamurnya drama dengan format pendek.
Situasi itu makin ditegaskan akan berdampak langsung pada lapangan pekerjaan. Presiden Asosiasi Produser Drama Korea Kim Jong-chang membahas mengenai hilangnya kesempatan talenta muda untuk bisa menambah portofolio.
"Tidak ada lapangan pekerjaan. Kian ramainya konten format pendek dan AI justru semakin memperburuk masalah ini. Kami menyadari bahwa kami harus beradaptasi dengan perubahan tren, tetapi pada kenyataannya sekarang yang kami hadapi saat ini benar-benar sangat sulit," sebutnya pada konferensi pers saat itu.
Baca Juga
-
Bersiap! Film Naruto Live-Action Siap Diproduksi Mulai Awal Tahun 2027
-
5 Drama Korea Terbaru Bulan November 2026, Ada The Remarried Empress!
-
Sinopsis Fjord, Terpilih Jadi Film Terbaik Cannes Film Festival 2026
-
Sukses Besar, Serial Carrie Resmi Lanjut Musim 2 Gandeng Mike Flanagan
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan Ini, Ada Laut Bercerita hingga The Intern
Artikel Terkait
Entertainment
-
Godzilla Minus Zero Pecahkan Rekor Opening Day Film Live-Action di Jepang
-
Dibintangi Bradley Cooper, Film G.I. Joe Terbaru Siap Tayang Oktober 2028
-
Tak Selalu Mulus, Ini 5 Drakor yang Terseret Kontroversi Sepanjang 2026
-
Comeback Pertama Sejak Debut, UNCHILD Unjuk Sisi Unik di Lagu TiNG TiNG
-
Sinopsis Prosecutor, Dracin Hou Wen Yuan dan Zhang Guo Li di Youku
Terkini
-
Jangan Asal Ikut-ikutan! Begini Cara Cerdas Jadikan FOMO sebagai Peluang Bisnis
-
Menyelamatkan Nyali Birokrasi: ASN Inovatif Diancam Bui?
-
Penyelamat Tanggal Tua! Ini Alasan Bayam Jadi Sayuran Wajib Buat 'Survive in This Economy'
-
4 Calming Sheet Mask Korea Penyelamat Atasi Wajah yang Mudah Kemerahan
-
Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory