Sejarah Indonesia tidak hanya berisi peristiwa yang dirayakan, tetapi juga tragedi yang selama bertahun-tahun sulit dibicarakan secara terbuka. Salah satunya adalah kekerasan massal terhadap orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah peristiwa 30 September 1965. Dalam Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966), Hermawan Sulistyo mencoba menelusuri tragedi tersebut melalui pengalaman masyarakat di Jombang dan Kediri.
Buku yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada 2000 ini merupakan versi Indonesia dari disertasi doktoral Sulistyo di Arizona State University. Judul aslinya adalah The Forgotten Years: The Missing History of Indonesia's Mass Slaughter (Jombang-Kediri 1965-1966). Dengan 291 halaman, buku ini tidak sekadar membahas pergantian kekuasaan setelah 1965, tetapi berusaha melihat bagaimana konflik politik tingkat nasional diterjemahkan menjadi kekerasan di tingkat lokal.
Isi Buku
Salah satu hal penting yang ditunjukkan buku ini adalah bahwa pembantaian di Jombang dan Kediri tidak berlangsung melalui satu pola yang seragam. Sulistyo melihat adanya berbagai kelompok sosial yang terlibat dalam dinamika kekerasan, sementara konteks lokal ikut menentukan bagaimana peristiwa tersebut berlangsung. Karena itu, pengalaman Jombang dan Kediri tidak dapat begitu saja dijadikan gambaran tunggal untuk menjelaskan seluruh pembantaian di Indonesia.
Dalam pembahasannya, Sulistyo memberikan perhatian besar terhadap komunitas pesantren dan kelompok-kelompok yang terkait dengan NU. Menurut penelusuran yang disajikan dalam buku, sebagian kelompok tersebut tidak hanya berperan memberikan legitimasi keagamaan dalam konflik, tetapi juga terlibat langsung dalam aksi kekerasan. Namun, buku ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara kelompok masyarakat, tentara, dan kekuatan politik tidak sesederhana pembagian antara pelaku dan penonton.
Militer memiliki posisi penting dalam situasi tersebut. Dalam konteks lokal yang dikaji Sulistyo, tentara digambarkan tidak selalu menjadi pelaku langsung setiap pembunuhan, tetapi memiliki posisi yang memungkinkan atau membenarkan berlangsungnya kekerasan. Hubungan antara aparat dan kelompok masyarakat menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana pembunuhan dapat terjadi dalam skala besar.
Kelebihan dan Kekurangan
Hal yang membuat buku ini menarik adalah upayanya melihat kekerasan bukan hanya sebagai akibat dari kebencian ideologis. Struktur sosial masyarakat, konflik antarkelompok, ketegangan politik, serta budaya kekerasan ikut membentuk kondisi yang memungkinkan pembantaian terjadi. Konflik politik di tingkat elite dapat merembes ke masyarakat bawah, terutama ketika propaganda dan konfrontasi politik telah membuat kelompok-kelompok masyarakat saling memandang sebagai ancaman.
Buku ini juga memperlihatkan bahwa korban kekerasan tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan keanggotaan formal dalam PKI. Dalam situasi penuh kecurigaan, label dan tuduhan dapat meluas kepada orang-orang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan organisasi tersebut. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya kekerasan politik ketika proses hukum dan verifikasi digantikan oleh prasangka serta tindakan massa.
Di tengah kisah kekerasan tersebut, terdapat pula cerita mengenai orang-orang yang berusaha menyelamatkan mereka yang menjadi sasaran. Kehadiran tokoh-tokoh yang memberikan perlindungan menunjukkan bahwa masyarakat tidak pernah sepenuhnya terbagi dalam dua kubu yang sederhana. Bahkan dalam situasi penuh tekanan, masih terdapat pilihan untuk menolak kekerasan dan mempertahankan kemanusiaan.
Rekomendasi Pembaca
Penting pula dicatat bahwa buku sejarah seperti ini perlu dibaca secara kritis. Kesaksian, interpretasi penulis, dan konteks penelitian harus ditempatkan dalam perdebatan historiografi yang lebih luas. Pembaca tidak cukup hanya mencari siapa yang paling bersalah, tetapi perlu memahami bagaimana kekerasan dapat terbentuk melalui pertemuan kepentingan politik, konflik sosial, propaganda, institusi, dan keputusan manusia.
Palu Arit di Ladang Tebu pada akhirnya bukan sekadar buku tentang PKI atau pembantaian 1965–1966. Ia merupakan ajakan untuk melihat kembali bagaimana politik yang sangat konfrontatif dapat menghancurkan hubungan antarmanusia. Membaca sejarah kelam bukan berarti menghidupkan kembali permusuhan, melainkan memahami mekanisme yang pernah membuat kekerasan menjadi mungkin. Dari sana, sejarah seharusnya mengembalikan kita pada satu hal yang paling mendasar: bahwa perbedaan politik tidak semestinya menghapus kemanusiaan.
Identitas Buku
- Judul: Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966)
- Penulis: Hermawan Sulistyo
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tahun Terbit: 2000
- Tebal: xv+291 halaman
- ISBN: 979-9023-42-4
Baca Juga
-
Deindustrialisasi Dini: Industri Tumbuh, tetapi Lapangan Kerja Menyusut
-
Gambut Bukan Sekadar Lahan Basah, Ia Penentu Masa Depan Karbon Dunia
-
Ketika Data PISA Berbicara, Narasi Keberhasilan Pendidikan Dipertanyakan
-
Ketangguhan UMKM dan Negara yang Terlalu Nyaman dengan Krisis
-
Rp11 Triliun untuk Rekening Massal: Kebijakan Publik Kehilangan Prioritas?
Artikel Terkait
-
5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
-
Review Film Resurrection: Sajikan Keindahan Sinematik dalam Balutan Misteri
-
Kultus Mi Instan: Mengurai Sejarah Politik Pangan Indonesia
-
Sebagai Alumni Tak Terima GMNI Dicap Underbow PKI, Ganjar: Itu Tidak Betul, Segera Koreksi!
-
Tuding GMNI Underbow PKI, Kepala Kanwil Kemenag Jatim Dilaporkan ke Bareskrim!
Ulasan
-
Visual Apik vs Plot Padat: Menimbang Film Thriller 'The Vvaan', Worth It Ditonton?
-
Hidden Gem Sarapan di Tangerang! Wajib Coba Nikmatnya Katupek Pitalah di Bopet Nan Katuju
-
Bedah Lirik 'Pertiwi' Yura Yunita: Sindiran Keras Buat Penguasa yang Berpesta Tanpa Empati!
-
Review Drama Cases Between Us, Memecahkan Kasus Kejahatan di Era Republik
-
Lima Sekawan Terjebak di Mercusuar Tua, Ada Apa dengan Karang Setan?
Terkini
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
-
Bukan Konflik dengan Rossi, Marc Marquez Sebut Momen yang Buat Dia Tertekan
-
Deindustrialisasi Dini: Industri Tumbuh, tetapi Lapangan Kerja Menyusut
-
Anime Shin Oishinbo Ungkap Tiga Pengisi Suara Utama Jelang Tayang 2027