Film genre survival sering membuat alam liar terlihat jadi musuh utama. Heart of the Beast rupanya mengambil jalan yang lebih menarik dengan membawa karakter mantan prajurit, seekor anjing tempur, dan trauma perang ke tengah belantara Alaska. Masalahnya, ketika film mulai membuka luka batin karakter James Belmont, kedalaman itu terasa kalah kuat dibanding perjuangan fisiknya.
Heart of the Beast merupakan drama survival dari Amerika Serikat yang berdurasi ±101 menit garapan David Ayer dari skenario Cameron Alexander. Brad Pitt menjadi pemeran utama sekaligus produser. J.K. Simmons dan Anna Lambe ikut membintangi. Produksinya melibatkan Wild Chickens Productions, Temple Hill Entertainment, Kino World Productions, dan Crave Films, sementara Paramount Pictures jadi distributornya.
Heart of the Best tayang di Indonesia pada 23 September 2026 dengan klasifikasi Remaja 13 Tahun. Film ini menggunakan empat ekor anjing, dalam proses pengambilan gambar untuk menghidupkan karakter Odin. Lanskap Alaska direkam di kawasan terpencil Pulau Selatan Selandia Baru.
Ceritanya mengikuti James Belmont yang diperankan Brad Pitt, mantan prajurit Pasukan Khusus yang menjalani pensiun bersama Odin, anjing tempur yang pernah bertugas bersamanya. Odin membawa luka akibat masa tugasnya, sementara James masih dihantui pengalaman masa lalu. Dalam perjalanan menggunakan pesawat amfibi, James mengalami serangan jantung yang menyebabkan pesawat jatuh. Mereka selamat, lalu harus menempuh sekitar 58 mil menuju tempat aman. Perjalanan itu membawa mereka melewati cuaca ekstrem, medan berat, menghadapi beruang, serigala, luka fisik, rasa lapar, dan mimpi buruk.
Keren, ya? Sayangnya ….
Trauma dalam Film Heart of the Best Cuma Sebatas Nempel?
Iya! Heart of the Beast punya bahan cerita menarik ketimbang sekadar film tentang manusia dan anjing yang berusaha pulang. James dan Odin sama-sama veteran. Keduanya membawa masa lalu yang seharusnya bisa jadi pusat konflik psikologis film. Sayangnya, film ini lebih sering memakai tempelan trauma ketimbang fokus membedahnya.
Trauma James cuma muncul dalam kilasan, monolog, dan respons emosional yang tersingkir tantangan survival berikutnya.Padahal bagian itu berpotensi membuat James jauh lebih kompleks. Dia bukan cuma mantan tentara tangguh yang tahu cara bertahan hidup. Dia juga seseorang yang harus berhadapan dengan dirinya yang dulu setelah perang selesai. Ada ruang besar untuk membahas kehidupan setelah perang. Heart of the Beast menyentuh semuanya, tapi sama sekali nggak digali lebih dalam.
Beruntung, hubungan James dengan Odin masih berhasil menyampaikan trauma di antara mereka. Odin jadi semacam cerminan bagi James. Anjing itu juga membawa bekas perang, termasuk luka fisik dan mimpi buruk, sehingga keduanya seperti dua makhluk yang memahami rasa sakit tanpa perlu banyak bicara.
Masalah berikutnya ada pada formula survival-nya. Perjalanannya menegangkan, visual alamnya kuat, dan ritmenya relatif sabar. Namun, pola ancaman yang datang silih berganti kadang membuat konflik psikologis semakin tersisih.
Aku justru merasa Heart of the Beast akan lebih kuat kalau berani mengurangi beberapa tantangan fisik dan memberi ruang lebih panjang untuk luka batin James. Inti ceritanya sudah jelas: dua veteran yang selamat dari perang kini harus belajar bertahan di kehidupan setelah perang, lho.
Buatku, itulah kelemahan paling terasa dari film ini. Heart of the Beast berhasil membuat perjalanan James dan Odin terasa berat secara fisik, tapi belum sepenuhnya membuat perjalanan batin James terasa sama jauhnya. Kendati begitu, pesona Brad Pitt nggak bisa diabaikan begitu saja. Sobat Yoursay mau nonton film ini kapan?
Baca Juga
-
Review Forgotten Island: Emosinya Kuat, tapi Konfliknya Terlalu Main Aman
-
Review The Love Hypothesis: Fake Dating yang Manis, Romantis, dan Humoris
-
Review Skenario Sang Jenderal: Kupas Kasus Sensitif yang Mengguncang Publik
-
Review Film Unabomber: Masa Lalu Ted Kaczynski yang Dibongkar dari Dua Arah
-
Review Bisikan Desa Gringsing: Slow-Burn yang Bikin Misterinya Ngeri Banget
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Drama The Early Spring, Hubungan Toxic Antara Bos Dan Bawahan
-
Ulasan Novel 'Partikel': Formula Hollywood di Balik Karya Dee Lestari
-
Sejarah Jawa Jilid II: Masyarakat, Agama, dan Tradisi dalam Catatan Raffles
-
Mengupas 'Emanon', Manga Sci-Fi Santai yang Bikin Overthinking Soal Makna Kehidupan
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
Terkini
-
Honor Magic9 Pro Max Resmi Meluncur, Bawa Kamera ARRI dan Snapdragon Generasi Baru
-
Unik! Festival Musik 'Padepopan: Sweet Escape' Siap Guncang Terminal Jatijajar Depok
-
Rakyat Dipuji Tangguh, Negara Lupa Membenahi yang Rapuh
-
TXT Umumkan Comeback November dengan Mini Album Baru, "PERFECT STORM"
-
Jalan Terjal Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026: Wajib Menang!