Film horor sering punya kebiasaan yang membawa penonton merasakan rasanya masuk ke rumah tua, mendengar suara aneh, melihat sosok di ujung lorong, atau menyaksikan ritual pengusiran setan. Film Never After Dark tahu betul pola semacam itu, lalu memilih bermain-main dengan ekspektasi penonton sampai batas yang cukup licik.
Film asal Jepang garapan Dave Boyle ini merupakan produksi perdana SIGNAL181, perusahaan yang didirikan Boyle bersama aktor sekaligus produser Kento Kaku. Boyle menulis sekaligus menyutradarai filmnya, sementara Kaku ikut duduk sebagai produser bersama Boyle dan Kosuke Tsutsumi.
Pemainnya terdiri dari Moeka Hoshi sebagai Airi, Kurumi Inagaki sebagai Miku, Kento Kaku sebagai Gunji, Tae Kimura sebagai Teiko, Mutsuo Yoshioka sebagai sosok misterius, serta Bokuzo Masana sebagai polisi. Film berdurasi sekitar 105 menit ini menggunakan bahasa Jepang dan membawa genre horor, misteri, serta thriller.
Sebelum beredar sebagai tontonan publik di bioskop Jepang pada 5 Juni 2026, Never After Dark lebih dulu world premiere di SXSW 2026 pada 13 Maret. Film ini masuk program Midnighters dan kemudian meraih Audience Award. Rangkaian festival tersebut menjadi pijakan awal sebelum filmnya berhadapan dengan penonton bioskop, lho.
Ceritanya mengikuti Airi, seorang medium yang menjalani hidup dengan membantu roh-roh gelisah meninggalkan dunia manusia. Partnernya adalah Miku, saudara perempuan Airi yang sudah meninggal yang muncul dalam bentuk roh. Keduanya menerima pekerjaan di rumah terpencil setelah Teiko meminta bantuan untuk mengusir sosok pria mengerikan yang kerap muncul di sana. Gunji, putra Teiko, bersikap skeptis dan menganggap pekerjaan Airi sebagai sesuatu yang meragukan.
Airi justru terlihat sangat santai. Ritual yang melibatkan cermin, gunting, dan lilin sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Gangguan aneh mulai muncul, lalu muncullah sosok mengerikan yang memperlihatkan perilaku melampaui pengalaman Airi sebagai medium.
Penelusuran di rumah terpencil itu perlahan membuka rahasia tentang sang hantu, sejarah tempat tersebut, serta masa lalu Airi dan Miku. Ancaman akhirnya bergerak ke wilayah yang lebih rumit karena bahaya terbesar berkaitan dengan manusia yang masih hidup.
Ngeri banget, deh!
Ketika Aturan Horor Mulai Dipermainkan
Kurasa film ini pahan, penonton horor sudah membawa semacam peta sendiri. Rumah terpencil berarti masalah. Hantu berarti ada aturan tertentu. Medium berarti ritual. Semua familier sejak awal.
Boyle kemudian memanfaatkan rasa familier itu sebagai jebakan. Airi dibuat terlalu terbiasa dengan pekerjaannya sehingga adegan yang seharusnya menegangkan malah seperti rutinitas harian. Sikap tenangnya menjadi alat untuk membuat penonton ikut lengah. Miku yang terus memberi peringatan pun awalnya mudah dianggap sebagai bagian dari dinamika saudara, padahal keberadaannya punya fungsi lebih besar dalam cerita.
Pendekatan semacam ini membuat film punya atmosfer yang cukup kuat. Horornya bergerak perlahan, membiarkan rumah, bunyi, benda, dan gestur karakter membangun rasa ganjil. Moeka Hoshi juga cukup efektif sebagai Airi karena ekspresi wajahnya banyak bekerja dalam situasi ketika dialog sengaja dibuat biasa.
Masalahnya muncul ketika film mulai menarik diri dari aturan yang sebelumnya dibangun. Beberapa perkembangan terasa seperti jalan pintas sehingga penonton yang mungkin berharap seluruh misterinya dikupas secara mendalam merasa sedikit ditinggalkan. Pergeseran menuju ancaman manusia juga punya efek ganda: mengejutkan, sekaligus membuat sebagian lapisan cerita supernatural terasa kurang dieksplorasi.
Meski begitu, Never After Dark punya keberanian untuk memperlakukan formula horor sebagai sesuatu yang bisa dimainkan, bukan sekadar diulang. Film ini tahu penonton sudah mengenal banyak aturan cerita hantu, lalu menggunakan pengetahuan itu untuk menciptakan rasa aman palsu. Hasilnya memang terasa ganjil di beberapa bagian, tapi memang begitulah yang film ini mau.
Akhir kata, Film Never After Dark bukan horor yang sibuk menciptakan formula baru dari nol. Film ini mengambil pola lama, membiarkannya berjalan cukup lama, lalu menggeser arahnya ketika penonton mulai merasa sudah memahami semuanya. Plot twist licik deh. Dan sudah selayaknya Sobat Yoursay nonton film keren ini. Selamat menonton, ya.
Baca Juga
-
Review Film The Scout: Karakternya Menarik Kendati Emosinya Tertahan
-
Review Heart of the Beast: Trauma Disorot tapi Nggak Sedalam Petualangannya
-
Review Forgotten Island: Emosinya Kuat, tapi Konfliknya Terlalu Main Aman
-
Review The Love Hypothesis: Fake Dating yang Manis, Romantis, dan Humoris
-
Review Skenario Sang Jenderal: Kupas Kasus Sensitif yang Mengguncang Publik
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Story of an Hour: Merasakan Satu Jam Kebebasan sebagai Perempuan
-
The Revolt of Arabia: Mengenal Revolusi Arab dan Perubahan Kekuasaan di Hijaz
-
Semangat Muda: Ketika Tan Malaka Membaca Indonesia dari Pertarungan Kelas
-
Review Serial American Classic: Kisah Kehidupan Teater Kecil yang Unik
-
Skenario Sang Jenderal: Runtuhnya Tembok Kebohongan Ferdy Sambo
Terkini
-
4 Serum Witch Hazel Andalan Kulit Berminyak Kontrol Sebum dan Atasi Jerawat
-
Jadi Series Baru Netflix, 5 Fakta Pride and Prejudice, Tayang Desember!
-
Winter aespa Absen Konser di Dallas karena Didiagnosis Shingles
-
Sering Sayang Hapus Screenshot dan Chat Lama? Kenali Bahaya Digital Hoarding bagi Mentalmu
-
Pentingnya Jaga Mental Krisis Iklim Anak Muda dari Sustainability Burnout