Mengubah kebiasaan buruk nyatanya terasa lebih sulit daripada membuat niat untuk berubah. Kita sudah tahu bahwa terlalu sering bermain ponsel tidak baik, tidur terlalu malam membuat tubuh lelah, atau menunda pekerjaan hanya akan membuat pekerjaan semakin menumpuk. Namun, mengetahui sesuatu tidak selalu membuat kita mampu berhenti melakukannya. Ada kebiasaan yang begitu sering dilakukan sampai akhirnya menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Persoalan tersebut dibahas Zachira Indah dalam buku 30 Hari Mengubah Kebiasaan Buruk. Buku yang diterbitkan Laksana pada 2020 ini mengajak pembaca memahami kebiasaan dari hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya bukan sekadar menghilangkan kebiasaan buruk, tetapi membantu pembaca menemukan cara yang lebih masuk akal untuk membangun kebiasaan baru.
Lalu, apakah kebiasaan buruk benar-benar bisa berubah dalam 30 hari? Menurut penulis, waktu tersebut dapat dijadikan kesempatan untuk memulai perubahan. Namun, 30 hari tentu bukan ukuran yang berlaku sama bagi setiap orang. Kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk ditinggalkan. Karena itu, yang penting bukan sekadar menghitung hari, melainkan melihat perubahan yang terjadi selama prosesnya.
Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai kemauan keras. Selama ini, kegagalan mengubah kebiasaan sering dianggap sebagai tanda seseorang tidak memiliki tekad. Padahal, kebiasaan memiliki pemicu tertentu yang membuat kita kembali melakukannya. Penulis menjelaskan pola reminder, routine, dan reward untuk membantu pembaca mengenali hubungan tersebut.
Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sekarang. Kita mengambil ponsel karena ingin mengecek pekerjaan atau pesan, tetapi setelah itu membuka media sosial dan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Tanpa terasa, waktu yang awalnya hanya ingin digunakan beberapa menit menjadi jauh lebih lama. Mengetahui pola semacam ini membuat kita tidak hanya bertanya, “Mengapa saya sulit berhenti?”, tetapi juga “Apa yang membuat saya selalu mengulanginya?”
Penulis kemudian memperkenalkan habit stacking, yaitu menghubungkan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah dilakukan. Gagasan ini menarik karena perubahan tidak dituntut harus langsung besar. Kebiasaan kecil justru bisa lebih mudah dijalankan jika dibuat sederhana dan dilakukan secara konsisten.
Pembahasan buku juga tidak berhenti pada soal disiplin. Kondisi tubuh dan pikiran turut diperhatikan melalui kebiasaan tidur cukup, olahraga, minum air putih, makan buah dan sayur, serta bangun lebih pagi. Penulis bahkan membagikan pengalaman ketika mencoba tidur lebih awal dan harus mencari cara yang sesuai setelah percobaan pertama tidak berhasil. Bagian seperti ini membuat proses perubahan terasa lebih realistis karena tidak selalu berjalan mulus.
Kekuatan buku ini terletak pada penyajiannya yang praktis. Pembaca tidak hanya memperoleh penjelasan, tetapi juga jurnal untuk mencatat perkembangan, catatan penting, dan gambar beberapa gerakan olahraga. Buku ini cukup mudah diikuti oleh pembaca yang baru ingin mulai membangun kebiasaan.
Meski demikian, beberapa gagasannya mungkin terasa familiar bagi pembaca yang sudah sering membaca buku pengembangan diri. Konsep 30 hari juga perlu dipahami sebagai sarana memulai, bukan jaminan bahwa kebiasaan buruk akan hilang setelah satu bulan.
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa kebiasaan sering kali bekerja tanpa banyak kita pikirkan. Justru karena dilakukan berulang-ulang, kita lupa bahwa ada pilihan di baliknya. Mungkin perubahan tidak harus dimulai dengan berusaha mengubah seluruh hidup sekaligus. Cukup dengan mengenali satu kebiasaan yang ingin diperbaiki, kemudian memberinya perhatian lebih setiap hari. Tiga puluh hari mungkin belum menyelesaikan semuanya, tetapi bisa menjadi awal untuk mengetahui kebiasaan seperti apa yang ingin kita bawa lebih jauh.
Identitas Buku:
Judul: 30 Hari Mengubah Kebiasaan Buruk
Penulis: Zachira Indah
Penerbit: Laksana
Cetakan pertama: 2020
Tebal: 164 halaman
ISBN: 978-602-407-751-8
Tag
Baca Juga
-
The Revolt of Arabia: Mengenal Revolusi Arab dan Perubahan Kekuasaan di Hijaz
-
Belajar Memahami Diri dan Menemukan Ketenangan dalam Buku Seni Menyikapi Hidup
-
Take My Hand: Ketika Menjadi Anak Kelas 12 Tak Semudah yang Dibayangkan
-
Pasti Ada Jalan Keluar: Mengubah Cara Pandang dalam Menghadapi Masalah
-
Hamzah bin Abdul Muthalib: Keteguhan Prinsip di Balik Sosok Sang Pemberani
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Serial Honor Thy Mother: Mengulik Duka dan Ambisi dalam Keluarga
-
Lou Lou dan Naga Peliharaannya: Kisah Unik di Hari Pertama Sekolah
-
Belajar Menghargai Perempuan Lewat Sosok Borno di 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah'
-
Barangkali yang Kita Butuhkan Hanya Jeda, Bukan Jawaban Baru
-
Membedah Toxic Relationship Lewat Lagu 'Kau yang Memilih Aku' Syahrini
Terkini
-
Sephora Kids dan Obsesi Skincare Dini: Saat Anak SD Lupa Caranya Bermain
-
Profil Intak P1Harmony, Viral Berkat Cover Hip Song hingga Duet Bareng Rain
-
Sinopsis Don't Be Shy, Film Komedi Romantis India Diproduseri Alia Bhatt
-
Jeong Yein Lovelyz Resmi Gantikan Ha Young di Musim Terbaru The Trauma Code
-
Sinopsis I Live In Your Time, Drama Romantis Zhang Ruo Nan dan Wang An Yu