Bagi kamu pecinta drama China bergenre romantis yang mengangkat kisah budah korporat dan dunia kerja yang rumit, drama The Early Spring sangat layak masuk dalam daftar tontonan kamu. Dibintangi oleh Jing Boran dan Sun Qian sebagai pemeran utama. Drama ini memiliki alur cerita romansa yang bikin deg-deg-an dan dinamika kehidupan nyata yang cukup realistis.
Drama The Early Spring menceritakan kisah Shang Zhi Tao (Sun Qian), seorang lulusan baru yang mendapat tawaran wawancara di sebuah perusahaan iklan terbesar di Beijing. Di sana ia bertemu dengan Luan Nian (Jing Boran) sebagai atasan yang awal mulanya menolak menerima Shang Zhi Tao karena latar belakangnya yang dinilai biasa saja. Namun, kerja keras tidak pernah menghianati hasil. Dengan ketekunan tinggi, Zhitao selalu berusaha keras menyelesaikan pekerjaannya dengan serius.
Hingga pada suatu saat ia mengalami kejadian tidak terduga bersama Luan Nian, yang membuat hubungan keduanya menjadi lebih dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Keduanya berhasil melewati berbagai badai dan permasalahan hubungan hingga tidak terasa mereka telah menjalin hubungan selama 6 tahun. Namun, karena sebuah kesalahpahaman, keduanya berakhir putus dan Shang Zitao kembali ke kampung halaman dan memulai hidup baru, sedangkan Luan Nian masih terpuruk akan kehilangan kekasihnya.
Alur Cepat dan Karakter Wanita yang Tegas
Salah satu alasan mengapa drama ini sangat worth it untuk ditonton adalah alurnya yang padat dan gerak konfliknya yang tergolong cepat. Penonton tidak akan dibuat bosan dengan adegan yang bertele-tele. Selain itu, karakter Shang Zhitao digambarkan sebagai sosok perempuan yang tangguh, mandiri, dan berpendirian kuat. Hampir semua karakter wanita pada drama ini memiliki kesan yang kuat dan mandiri. Kesan wonder woman pada jajaran karakter perempuan ini menjadi nilai plus tersendiri bagi penulis.
Dunia kerja yang rumit, Ketika Kemampuan Dikalahkan dengan Kekuasaan.
Drama ini menceritakan bagaimana realita kehidupan pegawai baru yang selalu berusaha menunjukkan performa terbaik kepada atasannya. Di awal kariernya, Zhitao bahkan tidak mampu menolak perintah senior yang sebenarnya di luar jobdesk-nya.
Puncak konflik realita kerja ini terlihat saat masa pemilihan seorang ahli yang diadakan setahun sekali di perusahaan. Zhitao sudah sangat berusaha dan mengerahkan seluruh kemampuannya demi mendapatkan gelar tersebut. Namun, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa kompetensinya dikalahkan oleh lawan yang menyumbangkan sejumlah uang besar kepada perusahaan. Poin ini menjadi sentilan yang sangat realistis bahwa dalam dunia profesional, bakat dan kerja keras terkadang harus bertekuk lutut di hadapan kekuatan modal dan kekuasaan.
Perjuangan Shang Zhitao tidak berhenti di dunai korporat saja. Setelah mengundurkan diri dari perusahaan dan kembali ke kampung halamannya, ia memutuskan untuk membangun bisnisnya sendiri. Dalam prosesnya, ia mengalami krisis keuangan hingga terpaksa menjual mobil dan menggadaikan rumah. Scene ini memperlihatkan betapa sulitnya membangun sebuah bisnis dari bawah, yang mana membutuhkan mental sekuat baja dan usaha yang tidak main-main.
Budaya Kerja Perusahaan di China: Menggunakan Nama Inggris Sebagai Panggilan Agar Mudah Berinteraksi
Hal menarik lainnya yang saya perhatikan dari drama ini adalah potret budaya kerja di perusahaan periklanan Beijing. Mereka menerapkan penggunaan nama Inggris sebagai nama panggilan sehari-hari. Tradisi ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar pegawai dan mengikis batasan senioritas, mengingat pemanggilan nama berdasarkan marga di Tiongkok terasa cukup kaku. Selain itu, perusahaan di China juga menerima klien asing untuk bekerja sama, sehingga menggunakan nama Inggris jauh lebih mudah dan praktis untuk saling mengenal.
Secara keseluruhan, The Early Spring menghadirkan kombinasi cerita asmara yang dewasa dan potret realistis perjuangan hidup anak muda. Drama ini memiliki 24 episode, dan sudah tamat pada 8 september lalu.
Baca Juga
-
Pagi Hari Nongkrong di Warkop, Mengapa Petani Bojonegoro Sering Dikira Pengangguran?
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
-
Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom
-
Modal Photocard Idol, Penjualan Melejit! Kok Bisa Strategi Marketing Ini Laku Keras di Indonesia?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Memetik Pelajaran Kehidupan dari Buku Harapan Semu untuk Sebuah Masalah
-
Review Serial Ted Lasso Season 2: Kehangatan Komedi yang Menyentuh Jiwa
-
Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!
-
Hendrix and Rocket: Being Brave, Ketika Keberanian Dimulai dari Rasa Takut
-
Review Novel Almond: Sentilan Halus Buat Kita yang Suka Cuek
Terkini
-
One of a Kind Romance Tayang 9 November, Ini Daftar Para Pemain Utamanya
-
Setelah Sukses di Musim Pertama, Anime Draw This Then Die Lanjut Musim ke-2
-
Anti-Breakout! 4 Hybrid Sunscreen Mugwort Redakan Kemerahan dan Iritasi
-
Macklemore Bikin Tur 'Free Palestine', Tiket dari 3 Kota Langsung Ludes
-
Kirain Murah, Ternyata Cuma Pemancing: Prank Harga di Etalase Marketplace