M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Conjurig (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Conjurig merupakan drama komedi Indonesia yang disutradarai dan ditulis oleh Tubagus Deddy. Film berdurasi 95 menit ini diproduksi oleh Global Borneo Entertainment bersama Bima Sakti Pictures dan Imagine. Pemeran utamanya adalah Dito Darmawan sebagai Piit (juga dikenal sebagai Ace Abdulov) dan Maizura sebagai Tamy, didukung oleh Shella Fernanda, Ferry Maryadi, Mathias Muchus, Joe P. Project, Trie Utami, Bucek Depp, Anyun Cadel, serta sejumlah aktor lainnya. Lembaga Sensor Film mengklasifikasikan film ini untuk penonton berusia 13 tahun ke atas.

Conjurig resmi tayang serentak di bioskop-bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Tanggal premiere tersebut sesuai dengan catatan Lembaga Sensor Film dan berbagai laporan media hiburan. Film ini terinspirasi dari komunitas nyata bernama Comjurig di Bandung, yaitu sekelompok cosplayer yang mengenakan kostum hantu atau jurig (istilah Sunda untuk hantu) di kawasan Alun-Alun, Jalan Asia Afrika, dan Braga. Mereka menghibur wisatawan sekaligus mencari nafkah.

Kisah Unik Para Cosplayer Hantu di Kota Bandung

Tangkapan layar adegan di film Conjurig (youtube.com/CINEMA 21)

Sinopsis film mengikuti perjalanan Piit, seorang pemuda yang mengalami kesulitan dalam karier dan kehidupan percintaannya. Setelah mengundurkan diri dari perusahaan multinasional di Jakarta dan hubungannya dengan Susan berakhir, ia kembali ke Bandung.

Di sana, Piit memilih bekerja sebagai cosplayer pocong di Alun-Alun Bandung. Kostum tersebut menjadi sarana baginya untuk menyembunyikan luka batin. Di lingkungan yang sama, ia bertemu Tamy, seorang cosplayer bergaya gothic yang menyembunyikan identitasnya sebagai putri atau cucu seorang penyanyi ternama. Pertemuan keduanya menghadirkan hubungan yang tidak terduga di antara dua individu yang sama-sama kehilangan arah.

Film ini berhasil mengangkat sisi humanis dari kehidupan cosplayer jalanan. Tubagus Deddy, yang sebelumnya terlibat dalam penulisan skenario Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, menyajikan kisah dengan perpaduan humor ringan, elemen romansa, dan realitas sehari-hari. Latar Bandung memberikan nuansa lokal yang kuat, mulai dari keramaian alun-alun hingga dinamika komunitas penampil jalanan. Unsur musikal juga hadir melalui lagu-lagu baru yang bersifat mudah diterima, menambah daya tarik film sebagai hiburan yang utuh.

Ulasan Film Conjurig

Tangkapan layar adegan di film Conjurig (youtube.com/CINEMA 21)

Dari segi penampilan, Dito Darmawan menghadapi tantangan teknis yang cukup signifikan. Ia harus menyampaikan emosi kompleks karakter Piit—kesedihan, upaya menyembunyikan luka, dan pencarian jati diri—meski sebagian besar wajah dan tubuhnya tertutup riasan tebal serta kostum pocong. Syuting tidak hanya berlangsung di malam hari, sehingga kondisi fisik menjadi ujian tersendiri. Maizura memberikan nuansa misterius pada Tamy, sementara aktor senior seperti Ferry Maryadi (sebagai pejabat) dan Mathias Muchus memperkuat lapisan cerita yang melibatkan hubungan sosial dan keluarga.

Salah satu kekuatan Conjurig terletak pada kemampuannya menyeimbangkan komedi dan emosi tanpa terasa dipaksakan. Adegan yang paling mengundang tawa muncul dari interaksi sehari-hari para cosplayer di tengah keramaian.

Gestur canggung antara Piit dan Tamy saat saling menutupi identitas, serta momen-momen kecil ketika kostum hantu mereka memicu reaksi tak terduga dari pengunjung atau sesama anggota komunitas, menciptakan humor yang alami dan dekat dengan realitas. Situasi tersebut mencerminkan absurditas kehidupan yang sering kali lebih menghibur daripada menakutkan. Sutradara menekankan bahwa energi unik Alun-Alun Bandung—ramai, hangat, dan penuh kejutan—menjadi sumber komedi yang autentik.

Di sisi lain, adegan paling emosional terfokus pada proses penyembuhan kedua tokoh utama. Momen ketika Piit dan Tamy mulai berbagi pengalaman serta persoalan masing-masing—tentang patah hati, tekanan identitas keluarga, dan mimpi yang belum tercapai—menghadirkan kehangatan yang menyentuh.

Di balik riasan dan kostum, keduanya perlahan menemukan keberanian untuk menghadapi kenyataan. Adegan semacam ini menggarisbawahi tema utama film: bahwa ruang untuk bersembunyi sementara sering kali menjadi langkah awal menuju penerimaan diri. Pendekatan ini menjadikan Conjurig lebih dari sekadar komedi situasional; film menyampaikan pesan bahwa proses berdamai dengan masa lalu tidak selalu berlangsung dalam keseriusan yang kaku.

Jadi kesimpulannya, Conjurig menawarkan perspektif segar terhadap fenomena lokal Bandung yang jarang diangkat ke layar lebar. Film ini menghargai budaya cosplay jalanan sekaligus memberikan ruang bagi talenta muda Bandung untuk tampil berdampingan dengan aktor berpengalaman.

Dengan durasi yang ringkas dan nada yang ringan namun bermakna, Conjurig cocok buat kamu yang mencari hiburan bermutu dengan sentuhan humanis. Film ini berhasil menunjukkan bahwa di balik penampilan yang tampak menyeramkan, terdapat cerita tentang ketahanan, pencarian jati diri, dan harapan untuk memulai kembali. Buat kamu yang menghargai cerita lokal yang autentik dan dibalut komedi yang cerdas, Conjurig layak disaksikan di bioskop. Gas yuk! segera pesan tiketnya yang ada di kotamu. Dan selamat menonton!

Rating pribadi: 8/10.