Apa yang terlintas ketika mendengar kata sufi dan pelacur dalam satu kalimat? Dua hal yang rasanya sulit disandingkan. Tetapi justru di situlah saya menemukan sisi paling menarik dari Re: dan peRempuan karya Maman Suherman. Awalnya saya kira novel dengan label 18+ ini akan penuh adegan seksual dan menjadikan tubuh perempuan sebagai tontonan. Ternyata jauh dari itu. Dunia prostitusi memang menjadi bagian penting dalam cerita, tetapi yang justru menetap di kepala saya adalah cara Rere memandang Tuhan.
Novel ini berangkat dari pengalaman Maman ketika masih menjadi mahasiswa kriminologi dan mengerjakan penelitian tentang pekerja seksual di Jakarta. Herman, tokoh yang merepresentasikan dirinya, bertemu Rere atau Re:, seorang perempuan yang hidup di bawah kendali Mami Lani. Dari yang awalnya hanya menjadi objek penelitian, Rere perlahan menjadi seseorang yang dekat dengan Herman. Kehidupannya kemudian kembali muncul melalui Melur, anak Rere yang telah dewasa dan berusaha mengetahui siapa sebenarnya ibu kandungnya.
Rere bukan perempuan yang sejak awal memilih kehidupan tersebut. Ia mengalami kekerasan, hamil, melarikan diri ke Jakarta, lalu masuk ke dalam jerat Mami Lani. Utang yang terus bertambah membuatnya semakin sulit keluar. Ia akhirnya menjalani kehidupan sebagai pekerja seksual, termasuk melayani perempuan, sementara anaknya dititipkan kepada orang lain. Bahkan ketika Rere akhirnya memutuskan berhenti, ia justru dibunuh secara tragis. Ironisnya, sebelum meninggal ia sempat menyisihkan tabungannya untuk biaya sekolah Melur.
Di sinilah saya merasa cerita Rere tidak berhenti pada persoalan prostitusi. Rere ternyata mempunyai cara berpikir yang membuat saya teringat pada kehidupan seorang sufi. Nama aslinya pun Rabiah, yang langsung mengingatkan pada Rabiah al-Adawiyah, tokoh sufi perempuan yang dikenal karena kecintaannya kepada Allah. Saya tidak mengatakan Rere sama dengan Rabiah al-Adawiyah. Kehidupan mereka jelas berbeda jauh. Tetapi pemilihan nama itu membuat saya merasa ada sesuatu yang memang sengaja ingin dibangun Maman.
Rere tidak digambarkan sebagai perempuan yang putus asa kepada Tuhan hanya karena hidupnya penuh dosa. Justru sebaliknya. Ia pernah mempertanyakan apakah masih ada surga untuk perempuan seperti dirinya. Namun, kalaupun dirinya tidak mendapatkan ampunan, Tuhan tetap cukup baginya. Bagi saya, bagian ini jauh lebih menarik daripada sekadar cerita tentang seorang pekerja seksual yang ingin bertobat. Ada hubungan dengan Tuhan yang tidak dibangun melalui hitung-hitungan pahala dan dosa semata. Ia seperti mencintai Tuhan bukan karena dijanjikan sesuatu, tetapi karena Tuhan itu sendiri sudah cukup.
Saya kemudian teringat pada hadis tentang seorang perempuan yang mendapat ampunan Allah karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Bukan berarti dosa kemudian menjadi tidak penting atau semua perbuatan bisa dibenarkan. Tetapi kisah itu membuat saya berpikir bahwa rahmat Tuhan memang tidak sesempit penilaian manusia. Kita bisa melihat seseorang dari satu kesalahan dan memberikan cap seumur hidup, sedangkan kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan orang tersebut.
Mungkin itu pula yang membuat Rere terasa manusiawi. Ia bukan tokoh yang tiba-tiba menjadi suci. Masa lalunya tetap ada. Ia pernah menjadi pekerja seksual, pernah berada dalam kehidupan yang gelap, tetapi ia juga seorang ibu yang memikirkan anaknya, berusaha berhenti, menyimpan uang untuk pendidikan Melur, dan masih mempunyai kerinduan kepada Tuhan. Saya justru lebih tertarik melihat Rere sebagai manusia yang sedang mencari jalan pulang daripada sekadar melihatnya sebagai korban prostitusi.
Kelebihan novel ini ada pada keberaniannya membuka sisi dunia malam yang jarang dibicarakan tanpa membuat Rere sekadar menjadi pajangan penderitaan. Hubungan Herman dengan Rere juga membuat cerita terasa dekat karena berangkat dari pengalaman penelitian yang kemudian berubah menjadi hubungan antarmanusia. Bagian Melur memberi lapisan lain karena pembaca tidak hanya melihat Rere sebagai perempuan di masa lalu, tetapi juga sebagai seorang ibu yang meninggalkan jejak dalam kehidupan anaknya.
Meski begitu, saya bisa memahami kalau ada pembaca yang berharap novel ini lebih kriminal. Dengan latar kriminologi, perdagangan manusia, kekuasaan Mami Lani, berbagai kejahatan, sampai kematian Rere, ekspektasi terhadap penyelesaian ala novel kriminal memang cukup besar. Tetapi Maman tidak membawa cerita ini menjadi novel aksi atau penyelidikan yang penuh kejar-kejaran dan pembalasan. Herman pun lebih banyak menjadi saksi di tengah berbagai kejahatan yang terjadi. Ia tidak tiba-tiba berubah menjadi pahlawan yang membereskan semuanya. Bagi sebagian pembaca, ini mungkin terasa mengecewakan karena mereka mengharapkan akhir yang lebih dramatis. Bagi saya justru sebaliknya. Pilihan itu membuat ceritanya terasa lebih dekat dengan kenyataan: tidak semua kejahatan mendapatkan balasan yang memuaskan, dan orang kecil tidak selalu mampu melawan orang yang mempunyai kuasa.
Pada akhirnya, Re: dan peRempuan bukan hanya cerita tentang pelacur, prostitusi, atau dunia malam Jakarta. Novel ini juga berbicara tentang perempuan yang terus mencari jalan pulang, bahkan ketika dirinya sendiri merasa tidak pantas untuk pulang. Dan mungkin kalimat Rere tentang Tuhan itulah yang paling saya ingat: kalaupun ia tidak mendapatkan ampunan, Tuhan tetap cukup baginya.
Identitas buku:
- Judul: Re: dan peRempuan
- Penulis: Maman Suherman (Kang Maman)
- Editor: Pax Benedanto
- Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
- Terbit: Februari 2026
- ISBN: 978-602-481-561-5
Baca Juga
-
TKW Mencari Surga: Potret Kehidupan Tenaga Kerja Wanita yang Tak Banyak Diketahui Orang
-
Homo Homini Humor: Tertawa Dulu, Baru Sadar yang Ditertawakan Diri Sendiri
-
Review Lima Sekawan: Melacak Jejak Rahasia, Novel Misteri Klasik yang Pas Banget Buat Anak SD!
-
Belajar Menghargai Perempuan Lewat Sosok Borno di 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah'
-
Barangkali yang Kita Butuhkan Hanya Jeda, Bukan Jawaban Baru
Artikel Terkait
-
Membongkar Crab Mentality: Saat Perempuan Dipaksa Berebut Sisa Sumber Daya
-
TKW Mencari Surga: Potret Kehidupan Tenaga Kerja Wanita yang Tak Banyak Diketahui Orang
-
Mengapa Keadilan Gender Sering Kali Kandas di Dapur Rumah Tangga
-
Dari Kebun ke Pasar, Mama Nia Dorong Kemandirian Perempuan di Pulau Obi
-
Review Lima Sekawan: Melacak Jejak Rahasia, Novel Misteri Klasik yang Pas Banget Buat Anak SD!
Ulasan
-
Ulasan Film Warga Rusun 609: Kisah Hantu Gentayangan di Rumah Susun Tua
-
Harapan Hingga Kehancuran: Kesegaran Unik dalam Resident Evil (2026)
-
Review Reborn Rookie: Ketika Kehilangan Segalanya Membawa Perubahan Baik
-
Review Lagu Sesi Potret: Penyesalan Perantau yang Sering Menunda Pulang
-
Review Serial Ted Lasso Season 3: Akhir Kisah Persahabatan Roy dan Jamie
Terkini
-
Kisah Pak Rejo PLTMH Kedungrong, Modal Otodidak Wujudkan Listrik Tanpa PLN
-
Dapat Respons Besar di India, Anime Obocchama-kun Resmi Hadirkan Seri Baru
-
AI Membuat Kita Bingung Membedakan Realitas dan Kepalsuan Digital
-
LBH Yogyakarta di BET 2026: Krisis Ekologi Picu Kekerasan Gender
-
5 Fakta Menarik Drama Between Steps, Karya Terakhir Sutradara Legendaris