Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Scene dalam Film In Spite of Ourselves (IMDb)
Athar Farha

Sebuah cinnamon roll menjadi awal dari kisah cinta yang lebih berantakan dari tampilannya. Archie datang ke bakery Hannah dan mengincar roti terakhir yang diperebutkan anak-anak. Tingkah konyol itu berujung perkenalan, lalu dua minggu penuh kedekatan yang membuat Film In Spite of Ourselves seperti rom-com manis. Chemistry dalam film cuma membuka minat penonton, sementara hubungan yang disajikan membutuhkan tenaga untuk bikin penonton betah nonton. 

Paham maksudnya? Yuk, kepoin lebih lanjut!

Film komedi romantis ini ditulis dan disutradarai Josh Loeb sebagai debut film panjangnya. Shelgren Media jadi rumah produksi dengan Josh Loeb, Michelle Lewitt, Gabe Mayhan, dan Tim Harms sebagai produser dan Shirley Loeb sebagai executive producer. 

Pemeran utamanya: Conor Leslie sebagai Hannah dan Brett Dier sebagai Archie, didukung Glenn Morshower sebagai Frank, Mo Mandel sebagai Ben, Alyssa Limperis sebagai Sam, Britian Seibert sebagai Becca, Zora Casebere sebagai Shalice, serta Ethan Ingle sebagai Jake. 

Film berdurasi ±97 menit ini pertama kali diputar di Cinequest Film & Creativity Festival pada 12 Maret 2026 sebelum akhirnya rilis bioskop pada Oktober 2026. 

Dikisahkan Hannah, si baker Portland yang ambisius dan mengejar impian membuka restoran. Archie merupakan komedian yang membangun karir dengan kecenderungan menghindari komitmen. Setelah pertemuan di bakery, keduanya cepat dekat dan menjalin kedekatan selama dua minggu. 

Lalu kehidupan menarik mereka kembali ke jalurnya masing-masing. Hannah harus menghadapi karir dan kondisi pendengarannya yang memburuk. Archie berhadapan dengan ayahnya, Frank, yang mengalami penurunan daya ingat. Dua kota yang mereka tinggali, rupanya jadi jarak yang membuat hubungan mereka lebih keras untuk bertahan. 

Cinta Tumbuh, Kehidupan Ikut Menyela

In Spite of Ourselves menjadikan jatuh cinta sebagai garis awal. Setelah rasa suka tumbuh, persoalan sebenarnya muncul. Ada pekerjaan, keluarga, kesehatan, jadwal, ketakutan, dan kebiasaan buruk yang ikut masuk ke dalam hubungan. Keduanya membawa beban sendiri.

Aku suka gagasan bahwa profesi mereka punya hubungan dengan tema utama film. Hannah bekerja dengan adonan yang membutuhkan ketepatan waktu, sedangkan Archie hidup dari komedi yang bergantung pada timing. Pertemuan mereka terasa tepat, lalu waktu justru menjadi lawan. Dua orang bisa cocok dan tetap kesulitan menyusun kehidupan dalam ritme yang sama.

Chemistry Conor Leslie dan Brett Dier menjadi penyangga penting. Keduanya seperti pasangan yang mengenal seseorang, bukan dua aktor yang menunggu adegan romantis. Humor, kecanggungan, percakapan ringan, dan momen ketika mereka membuka masalah pribadi terasa organik. 

Betewe, beberapa bagian masih memakai formula rom-com, sehingga beberapa bagian terasa mudah ditebak. Kendati begitu, hubungan Archie dengan Frank menjadi bagian emosional. Ketika kondisi sang ayah memburuk, Archie dipaksa berhadapan dengan kehilangan, ingatan, dan rasa bersalah. Adegan Archie membawa Frank dalam situasi komedinya berubah menjadi momen hangat tentang bagaimana kenangan bisa jadi jalan pulang bagi hubungan keluarga.

Aku juga suka cara film memperlakukan perhatian sebagai bentuk cinta. Menelepon di waktu aneh, mengingat makanan favorit, membuat makanan yang berkaitan dengan masa kecil, atau mencari restoran vegetarian terdengar sederhana. Justru detail kecil semacam itu membuat hubungan mereka terasa hidup. Cinta jadi lebih dekat dengan kebiasaan memperhatikan ketimbang gestur besar yang sengaja dibuat untuk membuat penonton terharu.

Dari sini paham, kan? In Spite of Ourselves memakai banyak perangkat rom-com yang familier. Bedanya, film ini dewasa dalam mengakui bahwa pasangan bukan pusat semesta. Hannah punya karir dan kesehatan untuk dipikirkan. Archie punya keluarga dan persoalan sendiri. Mereka harus belajar hadir tanpa mengambil alih kehidupan satu sama lain.

Menurutku, In Spite of Ourselves mungkin bukan rom-com yang menciptakan formula baru, tapi film ini hangat dalam mengingatkan bahwa cinta yang matang justru terlihat ketika hidup berhenti terasa romantis.

Sobat Yoursay penasaran dengan filmnya? Jangan sampai nggak nonton, ya.