Hayuning Ratri Hapsari | Davina Aulia
Voicemails for Isabelle (IMDb.com)
Davina Aulia

Tiga hari lalu, saya baru saja menyelesaikan film Voicemails for Isabelle. Awalnya, saya mengira ini hanyalah sebuah drama komedi romantis biasa tentang dua orang asing yang jatuh cinta secara tidak sengaja. Namun, setelah menyaksikan seluruh alurnya, saya sadar bahwa film ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih mendalam. Di balik premis uniknya, film ini menyajikan penjelajahan emosional tentang bagaimana manusia mengolah duka dan belajar berkomunikasi saat hati terasa hancur.

Ketika Suara Menjadi Jembatan Kenangan

Kisah film ini berfokus pada karakter Jill yang diperankan oleh Zoey Deutch, seorang perempuan muda yang berjuang melanjutkan hidupnya di San Francisco setelah kehilangan adik tercintanya, Isabelle. Untuk melepaskan rasa rindu dan memproses kehilangan, Jill memiliki kebiasaan menelepon nomor lama Isabelle dan meninggalkan pesan suara (voicemails). Lewat rekaman suara tersebut, Jill menceritakan segala hal, mulai dari harinya yang kacau, lelucon konyol, hingga keraguan akan masa depannya.

Bagi saya, bagian ini menjadi sangat menyentuh dan relate. Duka akibat kehilangan orang tersayang sering kali membuat kita kebingungan mencari arah untuk meluapkan emosi. Lewat voicemails, film ini memperlihatkan bahwa proses pemulihan jiwa (healing) bukanlah jalur yang lurus dan rapi. Ada kalanya kita hanya perlu berbicara pada kenangan agar tidak merasa sendirian.

Menariknya, kebiasaan Jill juga memperlihatkan bagaimana hubungan emosional dengan seseorang tidak serta-merta berakhir ketika orang tersebut meninggal dunia. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai continuing bonds, yaitu ikatan emosional yang tetap terpelihara dengan orang yang telah tiada. Bagi Jill, berbicara kepada Isabelle menjadi cara untuk mempertahankan kedekatan sekaligus menghadapi kenyataan bahwa adiknya sudah tidak lagi hadir secara fisik.

Takdir di Balik Nomor yang Didaur Ulang

Konflik dan nuansa romansa mulai bermekaran ketika nomor telepon lama Isabelle ternyata telah dialokasikan kembali kepada Wes yang diperankan oleh Nick Robinson. Alih-alih mengabaikan pesan-pesan salah sambung tersebut, Wes justru mendengarkannya dan perlahan jatuh hati pada kejujuran serta kehangatan karakter Jill.

Satu hal yang paling saya sukai dari dinamika ini adalah kontras antarkarakter. Melalui pesan suara, Jill bisa menyampaikan perasaan paling rapuh yang mungkin enggan ia bagikan kepada orang lain di dunia nyata. Komunikasi yang berawal dari ketidaksengajaan ini menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan mendengarkan secara tulus. Wes tidak hadir sebagai penyelamat atas duka Jill, melainkan sebagai sosok yang memberikan ruang aman bagi Jill untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh.

Dari sini, saya melihat bahwa komunikasi bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan sesuatu, tetapi juga kesediaan untuk memahami pengalaman orang lain. Ada perbedaan besar antara sekadar mendengar dan benar-benar menyimak. Wes mungkin tidak sepenuhnya memahami kehilangan yang dialami Jill, tetapi ia menunjukkan bahwa empati tidak selalu membutuhkan pengalaman yang sama. Terkadang, kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan sudah cukup berarti.

Keseimbangan Antara Haru dan Humor

Meskipun mengusung tema berat seperti kehilangan, Voicemails for Isabelle tidak membosankan atau menakutkan. Penulis naskah dan sutradara berhasil menyisipkan humor yang segar serta momen romansa hangat yang pas, sehingga cerita tetap terasa ringan untuk dinikmati. Chemistry yang terpancar antara Zoey Deutch dan Nick Robinson terasa sangat natural. Pemandangan kota yang artistik serta pilihan musik latar yang melankolis dan menghibur juga memperkuat suasana emosional di setiap adegan.

Bagi saya pribadi, film ini menyentuh celah terdalam tentang arti komunikasi modern. Di era digital saat ini, ketika kita begitu mudah terhubung lewat pesan singkat, Voicemails for Isabelle justru mengingatkan kita akan keajaiban sebuah intonasi suara. Ada sesuatu yang personal, jujur, dan penuh daya emosional dalam mendengar suara seseorang, bahkan ketika kita tidak bisa melihat ekspresinya.

Belajar Melangkah Tanpa Melupakan

Film Voicemails for Isabelle bukan hanya sekadar tontonan romansa yang menghibur, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana kita berdamai dengan masa lalu. Film ini mengajarkan saya bahwa duka bukanlah sesuatu yang harus dilupakan, melainkan bagian dari hidup yang perlu dipeluk hingga kita siap melangkah kembali.

Salah satu pesan paling berharga dari film ini adalah bahwa membuka diri terhadap hubungan baru tidak berarti mengkhianati kenangan lama. Kita tetap bisa merindukan seseorang sembari memberi ruang bagi kebahagiaan yang baru. Sebab, kehilangan dan harapan dapat hadir secara bersamaan.