Lintang Siltya Utami | Ardina Praf
Buku Frog Face (goodreads.com)
Ardina Praf

Pernahkah seseorang mengira kita sedang marah hanya karena melihat ekspresi wajah kita? Padahal, mungkin saja wajah tersebut memang terlihat cemberut secara alami. Hal sederhana inilah yang menjadi titik awal cerita Frog Face karya Blythe Russo, sebuah buku bergambar yang lucu, hangat, dan menyimpan pesan tentang pentingnya tidak buru-buru menilai seseorang dari penampilannya.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Katak, yang sejak kecil memang memiliki wajah cemberut. Bahkan sejak masih menjadi telur kecil, ekspresinya sudah terlihat demikian. Namun, satu hal yang perlu diketahui: Katak sebenarnya tidak pemarah. Ia hanya memiliki wajah seperti itu. Tersenyum bukanlah sesuatu yang secara alami menjadi bagian dari dirinya.

Katak juga bukan tipe yang membutuhkan banyak orang di sekelilingnya. Ia nyaman dengan kehidupan yang tenang dan lebih senang menikmati waktunya sendiri. Masalah mulai muncul ketika Katak harus meninggalkan rumah kecilnya yang nyaman dan berinteraksi lebih banyak dengan lingkungan sekitar.

Bukannya mengenalnya lebih dahulu, para tetangga justru langsung berasumsi bahwa Katak sedang kesal atau tidak bahagia hanya karena melihat wajahnya.

“Semangat, Katak! Kamu terlihat pemarah!” menjadi semacam komentar yang terus diterimanya.

Semakin sering orang menyuruh Katak untuk tersenyum dan ceria, justru semakin tidak nyaman perasaannya. Bahkan, usaha para tetangga untuk membuatnya terlihat bahagia berkembang menjadi semakin lucu dan absurd. Dari sinilah Frog Face menghadirkan humor yang menyenangkan sekaligus mengajak pembaca kecil memahami bahwa ekspresi wajah seseorang tidak selalu menggambarkan perasaan mereka.

Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah cara Blythe Russo menyampaikan pesan tentang kesan pertama tanpa membuat ceritanya terasa menggurui. Anak-anak diajak melihat bahwa seseorang tidak bisa langsung dinilai hanya berdasarkan wajah, sikap, atau penampilan luarnya. Bisa jadi orang yang terlihat murung sebenarnya sedang baik-baik saja. Bisa juga seseorang yang pendiam memang merasa nyaman dengan kesendiriannya.

Pesan tentang penerimaan diri juga terasa kuat. Katak tidak perlu mengubah wajahnya agar disukai orang lain. Ia tidak harus selalu tersenyum hanya supaya orang lain merasa nyaman. Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak hubungan dengan orang lain, melainkan menemukan orang-orang yang mampu menerima kita sebagaimana adanya.

Menariknya, cerita ini juga tidak berhenti pada gagasan bahwa Katak harus selalu menyendiri. Meskipun ia menikmati kesendirian, Katak tetap membutuhkan setidaknya satu hubungan yang tulus. Seorang teman yang tidak berusaha mengubahnya, melainkan mau mengenalnya dan menyukainya apa adanya. Dari sini, Frog Face memberikan gambaran yang manis tentang hubungan yang autentik.

Ilustrasi Blythe Russo menjadi daya tarik penting lainnya. Warna-warnanya cerah, ekspresi para karakter terlihat menghibur, dan permainan berbagai wajah, mulai dari cemberut, tersenyum, hingga terbalik, membuat halaman-halamannya terasa hidup. Visual tersebut juga membantu menyampaikan humor cerita tanpa membutuhkan terlalu banyak penjelasan.

Bahasanya sederhana sehingga mudah diikuti pembaca cilik. Ceritanya ringan, tetapi tetap memberikan ruang bagi orang tua atau pendamping untuk mengajak anak berdiskusi tentang empati, penerimaan, dan kebiasaan menilai orang lain dari kesan pertama.

Secara keseluruhan, Frog Face adalah buku bergambar yang lucu, penuh warna, dan menghangatkan hati. Cerita Katak mengingatkan bahwa tidak semua orang menunjukkan perasaannya dengan cara yang sama. Ada yang banyak tersenyum, ada yang lebih pendiam, ada yang memiliki wajah cemberut, dan semuanya tetap layak diterima.

Buku ini cocok untuk pembaca kecil yang sedang belajar tentang perbedaan, penerimaan diri, dan pentingnya mengenal seseorang lebih dalam sebelum membuat penilaian. Sebab, terkadang wajah seseorang memang hanya wajah, bukan gambaran lengkap tentang siapa dirinya.