Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Poster film It Ends (IMDb)
Ryan Farizzal

It Ends, debut penyutradaraan Alexander Ullom, merupakan film horor eksistensial beranggaran rendah yang berhasil mengubah perjalanan malam sederhana menjadi metafora yang menakutkan tentang ketidakpastian masa dewasa.

Diputar perdana di SXSW 2025, film ini kemudian dirilis secara terbatas di Letterboxd Video Store pada Desember 2025 sebelum Neon mengambil hak distribusi untuk rilis teater di Amerika Serikat pada 21 Agustus dan perluasan nasional 28 Agustus.

Dengan durasi sekitar 89 menit, It Ends meraih pujian kritis, termasuk skor 93% di Rotten Tomatoes berdasarkan lebih dari 130 ulasan, dengan konsensus yang menyoroti ansambel muda yang magnetik dan rasa cemas yang terus meningkat.

Misteri Ruang Liminal dan Anomali Gelap di Tepi Jalan

Tangkapan layar adegan di film It Ends (IMDb)

Empat teman masa kecil—James (Phinehas Yoon), Day (Akira Jackson), Fisher (Noah Toth), dan Tyler (Mitchell Cole)—baru saja menyelesaikan kuliah.

Mereka naik Jeep Cherokee milik Tyler untuk mencari makanan malam sebagai momen perpisahan terakhir sebelum jalur hidup mereka berpisah.

Akan tetapi, sebuah belokan yang salah membawa mereka ke jalan raya dua jalur yang seolah tak berujung, dikelilingi hutan lebat. Tidak ada exit, GPS tidak berfungsi, dan setiap kali mereka berhenti terlalu lama, kerumunan orang panik menyerbu mobil. Bahan bakar tidak berkurang, rasa lapar dan lelah menghilang, tetapi luka fisik tetap ada.

Apa yang dimulai sebagai hangout movie berubah menjadi siksaan kosmik yang memaksa mereka menghadapi ketakutan terdalam tentang makna, kematian, dan masa depan.

Review Film It Ends

Tangkapan layar adegan di film It Ends (IMDb)

Ullom, yang menulis, menyutradarai, dan mengedit film ini, membangun ketegangan melalui minimalisme. Hampir seluruh aksi terjadi di dalam mobil atau di pinggir jalan yang sama.

Sinematografi yang ketat dan skor yang menyeramkan menciptakan suasana liminal yang mengingatkan pada The Backrooms atau No Exit karya Sartre, namun dengan sentuhan Gen Z yang khas: percakapan acak tentang hewan yang bertarung, lelucon internet, dan pengakuan kerapuhan mental.

Pemeranan para aktor yang relatif baru sangat meyakinkan. Yoon sebagai James yang obsesif mencari penjelasan, Jackson sebagai Day yang mencoba tetap ringan, Toth sebagai Fisher yang cemas, dan Cole sebagai Tyler yang sudah lelah dengan hidup memberikan dinamika yang natural dan penuh ketegangan emosional.

Film ini tidak mengandalkan gore berlebihan atau jump scare murahan. Kekuatannya terletak pada rasa terjebak yang semakin menyesakkan seiring mil yang terus bertambah—ribuan, puluhan ribu, hingga ratusan ribu mil—sementara para karakter beralih dari kepanikan ke penerimaan, lalu ke konflik internal.

Tema utama adalah kecemasan pasca-kelulusan: hilangnya struktur tradisional, pencarian makna di dunia yang terasa tanpa tujuan, dan pertanyaan apakah perjuangan untuk keluar lebih berharga daripada menerima kenyataan dan menemukan koneksi di dalamnya. Ullom sendiri mengakui inspirasi dari pengalaman depresi disosiatifnya, sehingga film terasa pribadi tanpa menjadi pretensius.

Film ini dirilis secara digital untuk sewa dan beli (VOD) mulai sekitar 15 September 2026 di berbagai platform, termasuk Apple TV Store.

Di wilayah Indonesia, film ini dapat disewa atau dibeli melalui Apple TV Store (bagian dari aplikasi Apple TV). Ketersediaan sewa biasanya dimulai dari harga setara sekitar $9,99 (harga lokal dapat bervariasi), dengan opsi pembelian digital yang lebih tinggi. Kusarankan memeriksa langsung aplikasi Apple TV di Indonesia untuk status terkini, karena ketersediaan regional dapat berubah.

Salah satu momen paling menegangkan terjadi di awal, saat Tyler keluar untuk memeriksa jalan yang tiba-tiba terblokir pohon. Kerumunan orang panik muncul dari hutan, menyerbu mobil dengan teriakan memohon masuk. Fisher terluka parah di lengan, dan mobil hampir digulingkan sebelum mereka berhasil melarikan diri.

Ketegangan visual—tangan yang meraih kaca, suara yang memekakkan, dan panik di dalam kabin yang sempit—sangat efektif karena terjadi begitu cepat dan tanpa penjelasan.

Momen lain yang sama menegangkan adalah setiap kali mereka berhenti: hitungan mundur 90 detik sebelum serangan berikutnya menciptakan rasa cemas yang terus-menerus, memaksa penonton ikut menahan napas.

Adegan yang paling menyentuh adalah pengakuan Day tentang upaya bunuh diri setahun sebelumnya. Di tengah spekulasi bahwa mereka mungkin sudah mati dan berada di neraka atau purgatori, pengakuan itu menghancurkan suasana.

Reaksi teman-temannya—terkejut, diam, lalu berusaha memahami—terasa sangat manusiawi. Momen lain yang sangat emosional adalah ketika Day dan Fisher memutuskan berhenti total, menarik kunci mobil, dan memohon James untuk berhenti mencari jalan keluar.

James memilih terus melaju sendirian, meninggalkan mereka yang saling berpelukan sambil menangis di pinggir jalan tak berujung. Pemisahan itu mencerminkan penerimaan versus penolakan terhadap ketidakpastian hidup, dan menjadi puncak emosional yang meninggalkan rasa kosong yang mendalam.

Pada akhirnya, It Ends adalah film yang cerdas, minimalis, dan relevan. Ia tidak memberikan jawaban mudah, justru membiarkanku merasakan beratnya pertanyaan yang sama: apa yang membuat hidup berarti ketika jalan seolah tak berujung?

Bagi penikmat horor psikologis dan drama eksistensial, film ini layak ditonton—meski setelahnya mungkin sulit tidur dengan tenang. Dengan anggaran hanya sekitar $80.000, Ullom membuktikan bahwa ide kuat dan eksekusi yang jujur jauh lebih berharga daripada efek spesial mahal. Rating pribadi: 7.8/10.