Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
Kang Ha Neul Streaming (Instagram/lotteent.movie)
Dian Haerani

Di zaman ketika hampir semua hal bisa dijadikan konten, batas antara kehidupan pribadi dan tontonan publik rasanya semakin tipis.

Kita terbiasa melihat orang membagikan hampir setiap bagian hidupnya di media sosial. Makan, bekerja, menangis, bertengkar, bahkan menghadapi sesuatu yang seharusnya sangat personal pun bisa berubah menjadi tontonan. Lalu, bagaimana kalau yang dijadikan konten adalah pengejaran seorang pembunuh berantai?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh Streaming, film thriller Korea Selatan yang dibintangi Kang Ha-neul sebagai Woo Sang. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Cho Jang-ho, film berdurasi 91 menit ini pertama kali dirilis di Korea Selatan pada Maret 2025 dan kemudian tayang di Indonesia pada April 2025.

Woo Sang bukan detektif atau polisi. Ia adalah seorang streamer kriminal yang memiliki banyak pengikut dan dikenal karena membahas kasus-kasus kriminal yang belum terpecahkan. Di platform WAG, popularitas bukan sekadar soal gengsi.

Streamer dengan peringkat teratas mendapatkan keuntungan sponsor dan donasi yang jauh lebih besar. Masalahnya, popularitas Woo Sang mulai runtuh setelah sebuah kontroversi. Daripada menerima kenyataan bahwa dirinya sudah kehilangan perhatian publik, Woo Sang memilih melakukan sesuatu yang jauh lebih ekstrem.

Ia mulai melakukan siaran langsung untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang dikenal sebagai Hemline Serial Killer. Awalnya, semua terlihat seperti sebuah strategi untuk mengembalikan popularitas. Namun, situasinya berubah ketika Woo Sang menyadari bahwa sang pembunuh ternyata mengetahui siarannya.

Bukan hanya Woo Sang yang sedang memburu pembunuh. Tanpa disadari, dirinya juga sedang diburu. Dari sinilah Streaming mulai terasa menarik. Film ini menggunakan konsep yang cukup berbeda karena sebagian besar cerita disampaikan melalui perspektif siaran langsung Woo Sang.

Penonton seolah-olah bukan sedang menonton sebuah film, melainkan ikut masuk ke dalam livestream yang sedang berlangsung. Ada kolom komentar, jumlah penonton, iklan, respons audiens, hingga berbagai gangguan khas platform digital.

Semua elemen tersebut membuat pengalaman menonton terasa seperti kita benar-benar menjadi salah satu penonton Woo Sang. Konsep seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Film dengan format screenlife sudah pernah digunakan dalam beberapa film thriller sebelumnya.

Namun, Streaming mencoba membawanya lebih dekat dengan budaya livestream yang sekarang begitu familiar bagi kita. Dan menurut saya, di sinilah kekuatan terbesar film ini. Bukan hanya pada misteri siapa pembunuhnya, tetapi pada cara film memperlihatkan bagaimana perhatian publik bisa menjadi sesuatu yang sangat adiktif.

Woo Sang adalah karakter yang menyebalkan.

Ia percaya diri, narsistik, manipulatif, dan terlalu terobsesi dengan angka. Jumlah penonton seolah menjadi ukuran harga dirinya. Semakin banyak orang menonton, semakin ia merasa berhasil. Bahkan ketika situasinya mulai membahayakan nyawanya sendiri.

Menariknya, Kang Ha-neul mampu membuat karakter seperti ini terasa meyakinkan. Kita mungkin lebih sering melihat Kang Ha-neul memainkan karakter yang hangat, polos, atau menyenangkan. Namun di sini, ia justru tampil sebagai seseorang yang cukup egois dan haus perhatian.

Gestur, cara berbicara, ekspresi wajah, sampai perubahan emosinya membuat Woo Sang terasa seperti seorang streamer sungguhan. Yonhap bahkan menilai penampilan Kang menjadi salah satu kekuatan utama film karena cerita hampir sepenuhnya bergantung pada dirinya.

Terlebih lagi, karakter Woo Sang perlahan mengalami perubahan ketika penyelidikannya semakin berbahaya. Yang awalnya hanya terlihat seperti ambisi mendapatkan kembali popularitas berubah menjadi permainan hidup dan mati.

Semakin dekat ia dengan sang pembunuh, semakin sulit pula membedakan apakah Woo Sang benar-benar ingin menyelesaikan kasus tersebut atau hanya ingin mendapatkan tontonan yang bisa membuat namanya kembali terkenal.

Dan justru pertanyaan tersebut yang menurutku cukup menarik. Streaming memang bukan thriller yang sempurna. Ceritanya terkadang terasa kurang kuat dibanding konsep visualnya. Beberapa bagian misterinya juga terasa kurang tajam, sementara format livestream yang menjadi daya tarik utama justru bisa terasa membingungkan atau repetitif bagi sebagian penonton.

Kritik terhadap eksekusi cerita dan tone film yang kurang konsisten juga muncul dalam sejumlah ulasan. Namun, menurut saya film ini tetap menarik untuk ditonton, terutama kalau kita tidak hanya melihatnya sebagai film tentang pembunuh berantai.

Streaming sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita, obsesi terhadap perhatian. Di media sosial, angka bisa berubah menjadi validasi. Jumlah followers, likes, views, komentar, hingga engagement terkadang membuat kita lupa bahwa di balik angka-angka tersebut ada manusia yang sedang menjalani hidup.

Woo Sang mungkin adalah versi ekstremnya.

Pada akhirnya, Streaming bukan film yang akan membuatku mengatakan bahwa ini adalah thriller Korea terbaik yang pernah dibuat. Tetapi film ini berhasil memberikan satu pertanyaan yang cukup mengganggu, ketika semua hal bisa dijadikan konten, apakah kita masih tahu mana yang seharusnya tidak dipertontonkan?