Ketika Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi presiden, Indonesia sedang berada dalam masa perubahan besar. Reformasi belum sepenuhnya menemukan bentuknya, sementara berbagai kepentingan politik saling berhadapan dan institusi negara sedang mencari keseimbangan baru.
Dalam situasi yang penuh gejolak itulah Budiarto Danudjaja menyusun Hari-hari Indonesia Gus Dur, sebuah buku yang tidak secara khusus menulis biografi Gus Dur, tetapi merekam berbagai peristiwa politik yang berlangsung selama masa pemerintahannya. Buku yang diterbitkan Galang Press, Yogyakarta, pada 2001. Kata pengantarnya ditulis oleh Hasyim Wahid atau Gus Iim, yang memberikan perspektif tambahan terhadap sosok dan pergulatan politik Gus Dur.
Isi Buku
Alih-alih membawa pembaca mengikuti perjalanan hidup Gus Dur sejak masa kanak-kanak hingga menjadi presiden, buku ini memilih jalan berbeda. Budiarto merekam berbagai peristiwa yang mengiringi pemerintahan Gus Dur melalui kumpulan tulisan mengenai dinamika politik nasional. Dengan demikian, sosok Gus Dur justru dapat dipahami melalui keputusan politik, konflik, perdebatan, serta berbagai persoalan yang muncul di sekeliling pemerintahannya.
Pendekatan tersebut membuat buku ini terasa seperti sebuah kronik politik. Pembaca diajak melihat bagaimana kekuasaan bekerja pada masa awal Reformasi, ketika hubungan antara presiden, parlemen, militer, partai politik, dan kelompok masyarakat sipil mengalami perubahan.
Beberapa persoalan yang dibahas antara lain pemberhentian Kapolri Rusdihardjo, kontroversi pengesahan RUU PKB, polemik memorandum, Buloggate, persoalan pembuktian terbalik, hingga silang sengkarut Sidang Istimewa MPR. Berbagai konflik sosial seperti kerusuhan Sampang juga menjadi bagian dari gambaran Indonesia pada masa tersebut.
Salah satu kekuatan buku ini adalah upaya menghadirkan Gus Dur melalui konteks zamannya. Pada periode itu, setiap keputusan presiden dapat segera berkembang menjadi perdebatan politik yang lebih luas. Pernyataan, kebijakan, dan langkah politik Gus Dur tidak berdiri sendiri, tetapi berhadapan dengan kepentingan parlemen serta kelompok-kelompok politik yang memiliki agenda berbeda. Karena itu, memahami pemerintahan Gus Dur tidak cukup hanya dengan melihat sosok presidennya. Kita juga perlu melihat struktur politik dan konflik kepentingan yang mengelilinginya.
Kelebihan dan Kekurangan
Budiarto berusaha menjaga jarak dari kecenderungan untuk mengagungkan ataupun menghujat Gus Dur. Sikap semacam ini penting karena pembacaan terhadap tokoh politik sering kali terjebak dalam dua kutub: pemujaan dan penolakan. Dengan menghadirkan peristiwa secara kronologis dan memberi ruang bagi berbagai persoalan, buku ini justru memungkinkan pembaca membentuk pemahamannya sendiri berdasarkan rangkaian kejadian yang disajikan.
Hal tersebut membuat Hari-hari Indonesia Gus Dur tetap menarik dibaca sebagai sumber untuk memahami sejarah politik Indonesia awal Reformasi. Buku ini juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak pernah bekerja dalam ruang kosong. Kebijakan presiden selalu berhadapan dengan lembaga negara, kekuatan politik, kondisi sosial, serta dinamika masyarakat yang terus bergerak.
Meski demikian, buku ini tetap perlu ditempatkan sebagai salah satu sumber, bukan satu-satunya kebenaran mengenai pemerintahan Gus Dur. Catatan politik memiliki sudut pandang dan keterbatasannya sendiri. Untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh, pembaca perlu membandingkannya dengan arsip, berita sezaman, kesaksian pelaku, dan penelitian sejarah lainnya. Buku ini sendiri telah digunakan sebagai rujukan dalam berbagai karya akademik yang membahas pemikiran dan politik Gus Dur.
Hari-hari Indonesia Gus Dur bukan sekadar buku tentang seorang presiden. Ia adalah rekaman tentang Indonesia yang sedang belajar menjalankan demokrasi setelah keluar dari bayang-bayang Orde Baru. Membacanya berarti menyaksikan kembali bagaimana konflik politik, perdebatan kekuasaan, dan berbagai persoalan kebangsaan berlangsung dalam masa transisi. Dari sana, pembaca dapat memahami bahwa sejarah politik tidak hanya dibentuk oleh tokoh besar, tetapi juga oleh keputusan, konflik, dan peristiwa yang berlangsung dari hari ke hari.
Identitas Buku
- Judul: Hari-hari Indonesia Gus Dur
- Penulis: Budiarto Danudjaja
- Penerbit: Galang Press
- Kota terbit: Yogyakarta
- Tahun terbit: 2001
- Tebal: xxxiv + 372 halaman
- ISBN: 979-9341-32-9
Baca Juga
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
-
Televisi Canggih Jadi Pajangan, ke Mana Prioritas Anggaran Pendidikan?
-
Paradoks Negara Tropis: Mengapa Buah Mahal tetapi Makanan Tepung Melimpah?
-
Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal
-
Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri
-
5 Buku Romance yang Diadaptasi ke Film dan Series Tahun Ini, Sudah Nonton?
-
Review Film Other Mommy: Adaptasi Novel Josh Malerman yang Penuh Ketegangan
-
Review Film It Ends: Sajian Sensasi Horor Psikologis yang Bikin Merinding!
-
Review Atonement: Saat Perang Usai, Rasa Bersalah Berubah Jadi Medan Tempur
Terkini
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Sinopsis Life Trade, Drama Jepang Dibintangi Baba Fumika dan Maki Yoko
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Exynos 2700 Sudah Diproduksi, Apakah Galaxy S27 Ultra akan Pakai Chip Ini?
-
Tanpa Kita Sadari, Politik Mempengaruhi Kehidupan Lingkungan dan Satwa