Lintang Siltya Utami | Ardina Praf
Buku Bad Days Aren't Forever (goodreads.com)
Ardina Praf

Ada kalanya kita tidak membutuhkan buku dengan ratusan halaman untuk merasa sedikit lebih baik. Ketika kepala sedang penuh, hati sedang berat, atau energi untuk membaca terasa benar-benar habis, beberapa kalimat sederhana justru bisa menjadi hal yang paling dibutuhkan.

Bad Days Aren’t Forever: Encouraging Comics from Chibird karya Jacqueline Chen hadir dengan pendekatan tersebut: sederhana, menggemaskan, singkat, tetapi menyimpan banyak pengingat tentang bagaimana memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut.

Buku ini merupakan kumpulan komik Chibird yang berfokus pada kesehatan mental, emosi, harga diri, motivasi, kesedihan, dan bagaimana melewati hari-hari yang tidak mudah. 

Pembaca diajak memahami bahwa merasa sedih, kecewa, lelah, frustrasi, atau tidak produktif bukan berarti kita gagal sebagai manusia. Buku ini juga menjadi pengingat bahwa emosi tidak harus selalu dilawan atau segera diperbaiki. Ada kalanya kita hanya perlu mengakuinya, memberikan waktu, kemudian berjalan sedikit demi sedikit.

Salah satu daya tarik terbesar buku ini tentu saja ilustrasinya. Karakter-karakter kecil dengan gaya kawaii terlihat sederhana, tetapi justru mampu membuat pesan yang cukup serius terasa lebih ringan.

Bentuknya yang lucu dan ekspresif memberikan kesan seperti sedang mendapatkan dukungan dari teman kecil yang selalu siap mengatakan, “Tidak apa-apa, kamu tidak harus baik-baik saja setiap saat.”

Desain seperti ini juga membuat Bad Days Aren’t Forever terasa mudah didekati. Buku ini tidak menuntut konsentrasi panjang atau perhatian penuh. Kita bisa membukanya secara acak, membaca satu atau dua halaman, kemudian menutupnya kembali. Format tersebut menjadi kelebihan tersendiri karena buku ini memang terasa seperti teman yang bisa disimpan dan dibuka kembali ketika dibutuhkan.

Pesan yang paling kuat bagi saya adalah tentang produktivitas dan nilai diri. Ada komik yang menggambarkan seekor kelinci merasa tidak berguna karena tidak mampu melakukan apa-apa pada hari itu. Jawaban yang diberikan kemudian mengubah sudut pandang tersebut: nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak hal yang berhasil ia kerjakan.

Pesan yang sederhana, tetapi terasa relevan bagi siapa saja yang pernah merasa bersalah karena beristirahat, kehilangan motivasi, atau merasa tertinggal. Menariknya, buku ini tidak mencoba memberikan solusi besar untuk semua persoalan. Justru di situlah kekuatannya.

Bad Days Aren’t Forever tidak menjanjikan bahwa membaca beberapa komik akan membuat semua masalah menghilang. Buku ini hanya menawarkan pengingat kecil bahwa hari yang buruk tidak akan berlangsung selamanya dan bahwa kita tetap layak mendapatkan kebaikan, termasuk dari diri sendiri.

Beberapa pembaca juga menilai buku ini lebih cocok dinikmati sedikit demi sedikit daripada dibaca sekaligus dari awal sampai akhir. Meski begitu, bagi pembaca yang mengharapkan pembahasan kesehatan mental yang mendalam, buku ini mungkin terasa terlalu sederhana atau repetitif.

Pesan tentang beristirahat, menerima perasaan, bersabar, dan mengambil langkah kecil muncul berulang kali. Namun, menurut saya, pengulangan tersebut justru bisa menjadi bagian dari fungsi buku ini.

Ketika sedang berada di hari yang berat, terkadang kita memang membutuhkan pesan yang sama berkali-kali sebelum akhirnya benar-benar mempercayainya.

Pada akhirnya, Bad Days Aren’t Forever adalah buku yang manis, ringan, dan menenangkan. Jacqueline Chen berhasil mengemas pesan tentang kesehatan mental melalui komik-komik pendek yang mudah dipahami tanpa membuatnya terasa menggurui.

Buku ini mungkin tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi tidak semua buku harus memberikan wawasan besar. Terkadang, sebuah pengingat kecil bahwa kita boleh lelah, boleh merasa sedih, dan boleh berjalan perlahan sudah cukup berarti.

Buku ini cocok untuk siapa saja yang membutuhkan sedikit kenyamanan di hari yang sulit, terutama bagi pembaca yang sedang tidak memiliki energi untuk menghadapi teks panjang.