Sejarah Indonesia tidak selalu harus dibaca melalui peristiwa-peristiwa besar seperti Proklamasi 1945, perang kemerdekaan, atau pergantian kekuasaan. Di balik peristiwa besar itu terdapat manusia, percakapan, kebiasaan, keputusan, bahkan kisah-kisah kecil yang sering luput dari buku sejarah. Dari ruang kecil itulah Rosihan Anwar mencoba melihat kembali perjalanan Indonesia melalui Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid 3, sebuah buku yang mempertemukan sejarah, jurnalistik, memoar, dan kisah tokoh.
Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2009 ini terdiri atas viii + 348 halaman. Seperti jilid-jilid sebelumnya, Rosihan tidak berambisi menyusun sejarah Indonesia secara lengkap dan sistematis. Ia justru mengumpulkan serpihan pengalaman dan catatan mengenai berbagai tokoh serta peristiwa yang pernah bersentuhan dengan perjalanan bangsa. Karena itu, kekuatan buku ini terletak pada detail: sesuatu yang tampak kecil, tetapi ketika ditempatkan dalam konteks sejarah dapat membuka pemahaman yang lebih luas.
Isi Buku
Salah satu bagian menarik adalah pembahasan mengenai pendidikan kedokteran dan hubungannya dengan pergerakan nasional. Rosihan membawa pembaca kembali ke Sekolah Dokter Djawa yang kemudian berkembang menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Lembaga pendidikan kedokteran di Weltevreden, Batavia, itu bukan sekadar tempat mencetak tenaga medis. Dari lingkungan pendidikan tersebut lahir sejumlah tokoh yang kemudian memainkan peran penting dalam kebangkitan nasional, seperti Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Soetomo, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo.
Pendidikan kedokteran pada masa kolonial sendiri memiliki sejarah yang panjang. Berdasarkan data yang dikutip Rosihan dari Ontwikkeling van het Geneeskundig Onderwijs te Weltevreden, 1851-1926 karya A. de Waart, pada 1851 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Sekolah Dokter Djawa di Weltevreden. Pada awalnya pendidikan berlangsung selama dua tahun dengan bahasa pengantar Melayu. Perkembangannya kemudian memperluas cakupan peserta didik, tidak hanya dari Jawa, tetapi juga dari berbagai wilayah Nusantara.
Menariknya, Rosihan tidak hanya menghadirkan data kering mengenai pendidikan kedokteran. Ia menyelipkan anekdot mengenai proses belajar siswa pada masa itu. Dalam salah satu kisah, seorang siswa memberikan jawaban kocak ketika ditanya mengenai hefboom atau alat pengungkit. Dalam pelajaran kimia pun muncul jawaban yang tidak kalah menggelikan tentang cara memperoleh zuurstof. Humor semacam ini membuat sejarah terasa lebih dekat karena tokoh-tokoh masa lalu tidak digambarkan sebagai manusia yang selalu serius dan sempurna.
Dari STOVIA, pembaca kemudian diarahkan kepada kaitan pendidikan dengan tumbuhnya kesadaran kebangsaan. Kemunculan Boedi Oetomo pada 1908 dan Sarekat Islam pada 1912 menunjukkan berkembangnya bentuk perjuangan yang lebih terorganisasi. Kaum terpelajar, termasuk dokter, tidak lagi sekadar menjadi tenaga profesional, tetapi mulai mengambil posisi dalam persoalan masyarakat dan masa depan bangsa.
Kisah lain yang menonjol adalah Gadis Rasid. Ia dikenal sebagai koresponden perang perempuan pertama Indonesia. Ketika pemberontakan PKI Madiun meletus pada 1948, Gadis berada di Yogyakarta dan mengikuti rombongan menuju Madiun dengan berjalan kaki. Pengalaman tersebut kemudian melahirkan laporan jurnalistik yang menjadi bagian penting dari sejarah pers Indonesia. Kisah Gadis menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan tempur. Pers dan keberanian seorang jurnalis untuk berada dekat dengan peristiwa juga menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan ingatan bangsa.
Kelebihan dan Kekurangan
Kekuatan lain buku ini terletak pada kisah sejumlah tokoh yang telah meninggal dunia. Rosihan menulis tentang orang-orang seperti Alex Maramis, Jenderal Hidayat, Roeslan Abdulgani, Prof. Sarbini, Deliar Noer, Jusuf Ronodipuro, S.K. Trimurti, dan Ali Sadikin. Namun, tulisan-tulisan tersebut tidak selalu tampil sebagai obituari yang serba memuji. Rosihan juga mengungkap sisi manusiawi, karakter, hubungan, bahkan konflik yang mengitari tokoh-tokoh tersebut.
Di sinilah Petite Histoire menjadi menarik. Rosihan bukan hanya penulis, melainkan jurnalis dan saksi dari sebagian zaman yang ia ceritakan. Ia memiliki pengalaman langsung berjumpa atau bersentuhan dengan sejumlah pelaku sejarah. Karena itu, kisah yang disajikannya terasa personal dan kadang blak-blakan. Tokoh sejarah tidak selalu ditempatkan sebagai patung yang sempurna, tetapi sebagai manusia dengan kelebihan, kekurangan, pilihan, dan kontroversinya.
Namun, justru karena bersumber dari ingatan dan pengalaman personal, buku ini perlu dibaca secara kritis. Memoar dan kesaksian seorang jurnalis tetap merupakan perspektif, bukan satu-satunya kebenaran sejarah. Ingatan dapat dipengaruhi oleh jarak waktu, pengalaman pribadi, posisi politik, maupun hubungan dengan tokoh yang diceritakan. Karena itu, kisah-kisah Rosihan akan semakin bermakna jika dibandingkan dengan arsip, penelitian sejarah, dan kesaksian dari sumber lain.
Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid 3 mengajarkan bahwa sejarah bangsa tidak hanya tersusun dari nama besar dan peristiwa monumental. Ada dokter yang meninggalkan ruang praktik untuk bergerak dalam organisasi kebangsaan, ada jurnalis perempuan yang berjalan menuju wilayah konflik demi memperoleh berita, dan ada tokoh-tokoh yang meninggalkan jejak melalui keputusan maupun pengorbanannya. Rosihan Anwar mengajak pembaca melihat sejarah dari jarak yang lebih dekat: bukan hanya bertanya apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana manusia menjalani zaman yang sedang bergolak.
Identitas Buku
- Judul: Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia Jilid 3
- Penulis: Rosihan Anwar
- Penerbit: Penerbit Buku Kompas
- Tahun Terbit: 2009
- Tebal: viii + 348 halaman
- ISBN: 978-979-709-429-4
Baca Juga
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
-
Televisi Canggih Jadi Pajangan, ke Mana Prioritas Anggaran Pendidikan?
-
Paradoks Negara Tropis: Mengapa Buah Mahal tetapi Makanan Tepung Melimpah?
Artikel Terkait
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
-
Dunia Boleh Terburu-buru, sedangkan Aku Hanya Ingin Membaca Pelan-Pelan
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Bad Days Aren't Forever, Pelukan Kecil untuk Hari-hari yang Tidak Baik
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
Ulasan
-
Ratu Player Tobat! Upaya Asya Mengejar Ketua Kelas di Play with Players
-
Review Film Fall (2022): Saat Ketinggian Ekstrem Membongkar Rahasia dan Trauma Terkelam
-
Mengulas Film 'Fall 2: Deadpoint' dan Ketakutan yang Tidak Selesai
-
Review Film Reawakened Man: Kombinasi Fantasi dan Laga yang Sangat Pas!
-
Ulasan Perahu Kertas: Kisah Cinta, Mimpi, dan Perjalanan Menemukan Diri
Terkini
-
Dunia Boleh Terburu-buru, sedangkan Aku Hanya Ingin Membaca Pelan-Pelan
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
-
Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari
-
Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda
-
Intip Sinopsis Street Fighter, Tayang 14 Oktober di Bioskop Indonesia