M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Bersaksi di Tengah Badai: Dari Catatan Wiranto (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Ketika sebuah rezim yang telah berkuasa selama puluhan tahun akhirnya runtuh, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang turun dari kekuasaan, tetapi juga siapa yang berada di sekelilingnya ketika perubahan itu terjadi. Pada masa-masa genting seperti itulah keputusan seorang tokoh dapat menentukan arah sebuah bangsa. Salah satu figur yang berada di tengah pusaran perubahan tersebut adalah Jenderal Purnawirawan Wiranto. Pengalamannya pada masa akhir Orde Baru hingga periode awal Reformasi dituangkan dalam buku Bersaksi di Tengah Badai: Dari Catatan Wiranto Jenderal Purnawirawan.

Buku yang diterbitkan Institute for Democracy of Indonesia, pada 2003 ini merupakan memoar sekaligus catatan pribadi Wiranto yang disusun bersama Aidul Fitriciada Azhari dan Munawar Fuad Noeh, dengan pengantar dari sejarawan Taufik Abdullah. Memiliki sekitar 350 halaman, buku ini menempatkan pengalaman personal seorang mantan petinggi militer sebagai pintu masuk untuk memahami salah satu periode paling menentukan dalam sejarah politik Indonesia.

Isi Buku

Mengapa Wiranto tidak mengambil alih kekuasaan ketika peluang untuk melakukannya, setidaknya menurut sejumlah penafsiran, terbuka. Mengapa ia memilih tidak menjadikan militer sebagai kekuatan untuk merebut kendali politik? Apakah keputusan tersebut lahir dari kehati-hatian, pertimbangan etis, loyalitas terhadap konstitusi, atau keinginan untuk menghindari konflik dan kekerasan yang lebih besar?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika melihat posisi Wiranto menjelang dan setelah pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Taufik Abdullah menggambarkan posisi semacam ini sebagai at the juncture of history, sebuah titik persimpangan sejarah ketika keputusan seorang tokoh dapat membawa konsekuensi yang luas. Wiranto berada di antara tuntutan mempertahankan stabilitas, tekanan gerakan demokratisasi, demonstrasi mahasiswa, perubahan politik, dan tuntutan agar militer tidak menggunakan kekerasan secara berlebihan.

Salah satu gambaran yang menonjol dalam buku adalah pilihan Wiranto untuk menempuh proses perubahan secara bertahap dan konstitusional. Sejumlah kesaksian yang dikutip dalam buku maupun berbagai tulisan mengenai dirinya menggambarkan Wiranto sebagai figur yang tidak memilih jalan perebutan kekuasaan. Ia juga disebut membuka ruang komunikasi dengan mahasiswa dan kelompok intelektual yang menuntut perubahan. Sikapnya terhadap penculikan aktivis dan penggunaan kekerasan terhadap demonstran menjadi bagian lain dari kontroversi yang dibahas dalam konteks periode tersebut.

Setelah Soeharto lengser, persoalan tidak serta-merta berakhir. Indonesia memasuki masa transisi yang penuh ketidakpastian di bawah pemerintahan B.J. Habibie, kemudian berlanjut pada masa kepresidenan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Wiranto kembali berada dalam posisi strategis dan menghadapi persoalan politik serta keamanan yang tidak kalah kompleks. Buku ini karena itu tidak hanya berbicara mengenai karier militer, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang tokoh memandang hubungan antara kekuasaan, konstitusi, demokrasi, dan tanggung jawab politik.

Kelebihan dan Kekurangan

Pembaca dapat melihat bagaimana Wiranto menjelaskan keputusan dan posisinya sendiri terhadap berbagai peristiwa yang ia alami. Gaya penyampaiannya disebut lugas, argumentatif, dan sesekali diselingi humor, sehingga pengalaman politik yang berat tetap terasa dekat dengan pembaca.

Namun, justru karena merupakan memoar, buku ini perlu dibaca secara kritis. Catatan pribadi pada dasarnya membawa sudut pandang penulisnya sendiri. Memoar dapat menjadi sumber penting untuk memahami cara seorang pelaku sejarah melihat peristiwa, tetapi bukan berarti seluruh narasinya otomatis menjadi kebenaran tunggal. Kesaksian tersebut perlu dibandingkan dengan arsip, berita sezaman, penelitian akademis, serta kesaksian tokoh lain yang mengalami peristiwa yang sama.

Bersaksi di Tengah Badai dapat dibaca bukan hanya sebagai kisah perjalanan seorang jenderal, tetapi sebagai salah satu keping untuk memahami masa transisi Indonesia menuju Reformasi. Buku ini menawarkan kesaksian dari seseorang yang berdiri sangat dekat dengan pusat kekuasaan ketika sejarah sedang berubah arah. Justru karena itu, semakin banyak perspektif yang dibaca dan dibandingkan, semakin terbuka pula kesempatan untuk memahami sejarah secara lebih utuh.

Identitas Buku

  • Judul: Bersaksi di Tengah Badai (Witness in The Storm) 
  • Penulis: Wiranto
  • Penerbit: Institute for Democracy of Indonesia
  • Tahun Terbit: 2003
  • Tebal: xlix + 350 halaman
  • ISBN: 979-96845-1-X 
  • Kategori: Biografi, politik, dan pemerintahan Indonesia