Film Hasut tayang serentak di bioskop Indonesia mulai hari ini, 8 Oktober 2026. Karya debut penyutradaraan Ilya Sigma ini diproduksi Tuta Films dengan Putrama Tuta dan Siera Tamihardja sebagai produser, serta ditulis bersama Priesnanda Dwisatria.
Durasi sekitar 96 menit, film ini dibintangi Karina Salim (Vira), Rachel Amanda (Rere), Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Hasut merupakan film horor-misteri psikologis yang secara sadar menjauh dari formula horor Indonesia yang lazim mengandalkan penampakan makhluk gaib atau jumpscare.
Misteri Pengkhianatan Antarsahabat di Tengah Hutan yang Sepi
Cerita berpusat pada empat sahabat yang pergi ke hutan di kawasan Bukit Menoreh, Yogyakarta, untuk menjalani ritual penyembuhan atau meditasi.
Vira, seorang healer, mengajak adiknya Rere beserta dua teman mereka dengan harapan menyelesaikan luka dan trauma masing-masing. Yang semula dimaksudkan sebagai perjalanan pemulihan berubah menjadi teror ketika suara-suara misterius mulai terdengar melalui handy talky (HT). Suara tersebut perlahan menghasut, menanamkan keraguan, dan mengikis rasa saling percaya di antara mereka.
Kekuatan utama film terletak pada eksplorasi ketakutan yang bersumber dari dalam diri manusia, bukan dari entitas eksternal. Empat karakter utama merepresentasikan emosi dasar—amarah, rasa tidak aman, duka atau keegoisan, serta ketakutan—yang saling bertemu dalam situasi terisolasi.
Latar hutan yang didominasi adegan siang hari memperkuat kesan bahwa teror tidak memerlukan kegelapan. Hutan menjadi simbol alam bawah sadar yang memaksa tokoh-tokoh menghadapi luka masa lalu.
Naskah yang dikembangkan selama kurang lebih 15 tahun, terinspirasi dari pengalaman pribadi para penulis terkait komunikasi radio dan pendakian, memberikan kedalaman tema mengenai mudahnya manusia terpengaruh suara atau informasi tanpa memverifikasi kebenarannya.
Ulasan Film Hasut
Dari segi teknik, sound design menjadi elemen paling krusial. Ilya Sigma dan tim produksi secara eksplisit menekankan bahwa pengalaman menonton di bioskop akan jauh lebih maksimal karena frekuensi dan lapisan suara yang dirancang khusus.
HT berfungsi sebagai medium hasutan yang efektif: suara yang terdengar bisa menjadi petunjuk, ancaman, atau kebohongan, sehingga aku dan penonton yang lain ikut merasakan kebingungan setiap tokoh. Sinematografi yang menangkap keindahan alam Indonesia secara visual juga mendapat pujian, memberikan kontras yang tajam dengan tekanan psikologis yang semakin meningkat.
Akting keempat pemeran utama solid dan saling menopang. Karina Salim menyampaikan ketenangan Vira yang perlahan retak di bawah beban tanggung jawab sebagai kakak dan healer. Rachel Amanda menonjol dalam dinamika love-hate kakak dan adik yang ditarik lebih ekstrem oleh trauma bersama terkait orang tua. Marthino Lio dan Kevin Ardilova melengkapi kelompok dengan nuansa amarah, ketidakamanan, dan keraguan yang meyakinkan. Interaksi mereka yang intens membuat konflik emosional terasa nyata dan claustrophobic meski berlatar ruang terbuka.
Bagian paling menegangkan terjadi saat percakapan lewat HT sukses memecah belah kelompok dan memancing bentrokan langsung. Ketegangan mencapai puncaknya saat tokoh-tokoh saling menuduh, terisolasi, atau dipaksa memilih siapa yang dapat dipercaya di tengah hasutan yang terus berlanjut. Suasana di dalam gua atau ketika salah satu karakter mengalami tekanan fisik dan emosional yang ekstrem juga membangun rasa mencekam tanpa mengandalkan visual horor konvensional. Ketegangan ini bersifat kumulatif: setiap bisikan kecil berkembang menjadi bola salju yang merusak hubungan.
Sementara itu, adegan yang paling kuingat setelah menonton berkaitan dengan perseteruan emosional antara Vira dan Rere mengenai luka masa lalu mereka, serta momen-momen ketika aku menyadari betapa mudahnya prasangka menghancurkan kepercayaan. Plot twist yang disiapkan dengan cermat dan pertanyaan penutup yang menggantung—“siapa yang sebenarnya dapat dipercaya?”— dan kurasa itu meninggalkan kesan mendalam sih. Banyak penonton, termasuk aku sendiri, sukses kena kecoh sama alur ceritanya sampai-sampai membuat kita terus ragu dan bertanya-tanya soal kebenaran dari tiap suara dan tindakan yang ada.
Hasut berhasil menawarkan alternatif segar dalam genre horor Indonesia. Alih-alih menakut-nakuti dengan sosok yang terlihat, film ini mengajakku merenungkan bahaya hasutan, fitnah, dan keraguan terhadap orang terdekat. Pesan moral mengenai pentingnya memverifikasi informasi serta menyelesaikan luka pribadi sebelum membawa dampak buruk kepada orang lain terasa relevan dengan kondisi kontemporer yang sarat informasi cepat. Kalau boleh jujur, penyelesaian cerita misterinya terasa kurang tegas buatku. Tapi secara keseluruhan, pengalaman menontonnya di bioskop tetap luar biasa berkat pembawaan atmosfer, kualitas akting, dan penataan suara yang amat memukau.
Buat kamu, penikmat film yang mencari horor psikologis yang mengandalkan sugesti dan relasi antarmanusia, Hasut merupakan pilihan yang tepat. Tayang mulai hari ini, 8 Oktober 2026. Film ini mengingatkan bahwa teror paling efektif sering kali berasal dari dalam pikiran kita sendiri dan dari suara-suara yang kita pilih untuk dipercayai. Rating pribadi: 8.5/10.
Baca Juga
-
Review Film Reawakened Man: Kombinasi Fantasi dan Laga yang Sangat Pas!
-
Menilik Makna Kepemimpinan di Captain America: Brave New World, Sudah Tayang di Disney+!
-
Review Film Other Mommy: Adaptasi Novel Josh Malerman yang Penuh Ketegangan
-
Review Film It Ends: Sajian Sensasi Horor Psikologis yang Bikin Merinding!
-
Review Dark Matter Season 2: Perjalanan Takdir Melintasi Dimensi Lain!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
-
Ratu Player Tobat! Upaya Asya Mengejar Ketua Kelas di Play with Players
-
Review Film Fall (2022): Saat Ketinggian Ekstrem Membongkar Rahasia dan Trauma Terkelam
-
Mengulas Film 'Fall 2: Deadpoint' dan Ketakutan yang Tidak Selesai
Terkini
-
BITCH X RICH Hadirkan Spin-Off Tayang 2027, Ini Para Pemeran Utamanya
-
Bukan Sekadar Nostalgia, Serial Harry Potter HBO Janjikan 1 Buku per Season
-
Dunia Boleh Terburu-buru, sedangkan Aku Hanya Ingin Membaca Pelan-Pelan
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
-
Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari