Hayuning Ratri Hapsari | Davina Aulia
Poster Film Fall (IMDb.com)
Davina Aulia

Saya kira Fall (2022) akan menjadi film survival sederhana tentang dua perempuan yang terjebak di atas menara. Premisnya memang sesederhana itu. Becky dan Hunter memanjat menara komunikasi tua setinggi lebih dari 600 meter, tetapi tangga yang mereka gunakan untuk turun tiba-tiba runtuh. Tidak ada jalan kembali, persediaan terbatas, sinyal sulit didapat, dan tanah berada begitu jauh di bawah mereka.

Namun, semakin lama saya menontonnya, semakin saya merasa bahwa menara dalam film ini bukan sekadar tempat berlangsungnya cerita. Menara tersebut seperti ruang yang memaksa setiap karakter berhadapan dengan ketakutan yang selama ini mereka coba hindari.

Sebelum naik, Becky sebenarnya sudah lama hidup dalam ketakutan. Ia kehilangan suaminya, Dan, dalam sebuah kecelakaan panjat tebing dan sejak saat itu menarik diri dari kehidupan. Ia berhenti memanjat, menjauh dari ayahnya, dan tenggelam dalam alkohol. Sebaliknya, Hunter justru memilih hidup dengan cara yang berlawanan. Ia menjadi pencari sensasi dan membagikan berbagai aksinya kepada pengikutnya di media sosial.

Menariknya, keduanya sama-sama sedang berusaha menghadapi kematian, tetapi dengan cara yang berbeda. Becky berusaha melupakan hidup karena kehilangan seseorang, sementara Hunter terus mencari pengalaman ekstrem seolah-olah hidup harus selalu dibuat lebih besar agar terasa berarti.

Di sinilah saya mulai melihat bahwa keberanian dalam Fall tidak sesederhana berani atau takut. Hunter mungkin terlihat jauh lebih berani daripada Becky. Ia yang mengajak Becky melakukan pendakian berbahaya tersebut dengan alasan ingin membantu sahabatnya melepaskan abu Dan. Tetapi film perlahan menunjukkan bahwa keberanian juga bisa menjadi bentuk pelarian.

Ketika seseorang terus-menerus mencari bahaya, apakah itu benar-benar karena ia tidak takut mati, atau justru karena ia tidak tahu bagaimana menghadapi hidup?

Pertanyaan itu menjadi semakin menarik ketika situasi mereka memburuk. Setelah terjebak di puncak menara, berbagai rencana penyelamatan gagal. Persediaan air jatuh ke satelit di bawah mereka, sinyal tidak bisa diandalkan, dan bantuan dari orang lain tidak kunjung datang. Sutradara Scott Mann memang sengaja merancang ketegangan tersebut secara bertahap, dengan setiap usaha untuk bertahan hidup menghasilkan masalah baru. Tetapi ancaman terbesar ternyata bukan hanya ketinggian.

Ketakutan membuat rahasia yang selama ini disembunyikan akhirnya muncul

Becky mengetahui bahwa Hunter pernah berselingkuh dengan Dan. Pengungkapan ini mengubah hubungan keduanya. Mereka bukan lagi sekadar dua sahabat yang berusaha turun dari menara, tetapi dua orang yang harus bertahan hidup setelah kepercayaan mereka hancur.

Menurut saya, bagian ini membuat Fall jauh lebih menarik. Film tersebut menunjukkan bahwa dalam keadaan normal, kita mungkin masih bisa menjaga jarak dari sesuatu yang menyakitkan. Namun, ketika tidak ada tempat untuk pergi, kita terpaksa berhadapan dengannya.

Kemudian film membawa gagasan tersebut lebih jauh melalui kematian Hunter. Becky yang mengalami dehidrasi dan kelelahan mulai berhalusinasi bahwa Hunter masih bersamanya. Penonton pun ikut melihat Hunter seolah-olah masih hidup sebelum akhirnya mengetahui bahwa Becky sebenarnya sudah sendirian.

Bagi saya, ini adalah salah satu bagian paling menarik dari Fall. Becky bukan hanya sedang berusaha menyelamatkan tubuhnya. Ia juga sedang berusaha mempertahankan pikirannya agar tidak menyerah.

Akhirnya, Becky berhasil menemukan cara untuk mengirimkan sinyal kepada ayahnya menggunakan tubuh Hunter. Adegan tersebut terasa kejam, tetapi juga memperlihatkan perubahan terbesar dalam dirinya. Ia yang sebelumnya tidak ingin melanjutkan hidup akhirnya melakukan apa pun yang diperlukan untuk bertahan. Menurut saya, ini adalah bagian penting yang bisa saya ambil dari film Fall.

Ketakutan tidak selalu hilang ketika kita menjadi berani. Kadang-kadang kita hanya belajar bahwa hidup tetap layak diperjuangkan meskipun kita masih takut.

Scott Mann sendiri menyebut pesan penutup film ini sebagai ajakan untuk menyadari bahwa hidup itu singkat dan sebaiknya dijalani, meskipun ia juga mengingatkan penonton untuk tidak melakukan hal bodoh seperti memanjat menara setinggi 2.000 kaki.

Meski demikian, menurut saya masih terdapat sejumlah keputusan karakter yang terlalu dipaksakan, dan bagian awal cukup banyak menggunakan trope film survival yang familiar. Kritik serupa juga muncul dari sejumlah ulasan yang menilai pengembangan karakternya tidak selalu sekuat konsep survival-nya.

Namun, saya tetap merasa Fall berhasil menunjukkan bentuk ketakutan itu sendiri. Bukan hanya karena saya bisa membayangkan betapa mengerikannya berada ribuan kaki di atas tanah, tetapi karena film ini mengingatkan saya bahwa manusia bisa kehilangan arah ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak mampu dikendalikan.