Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Mampukah Indonesia Bangkit? (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Ketika sebuah bangsa mengalami krisis, pertanyaan yang muncul bukan hanya tentang siapa yang salah, tetapi juga tentang bagaimana bangsa tersebut dapat bangkit. Pertanyaan itulah yang menjadi napas utama buku Mampukah Indonesia Bangkit? yang disunting Suwidi Tono dan diterbitkan Visi Gagas Komunika pada tahun 2000. Dengan tebal viii + 191 halaman, buku ini merupakan seri kedua yang menghimpun hasil wawancara wartawan Tabloid Perspektif dengan sejumlah tokoh dan intelektual.

Lahir pada masa yang penuh gejolak, buku ini tidak dapat dilepaskan dari konteks Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru. Krisis ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan membuat masyarakat berhadapan dengan pertanyaan besar mengenai masa depan bangsa. 

Isi Buku

Wawancara yang dihimpun di dalamnya tidak sekadar mencari komentar atas peristiwa yang sedang berlangsung. Para tokoh dan intelektual diajak menggali akar persoalan sekaligus memikirkan kemungkinan jalan keluar. Pendekatan tersebut menjadi pembeda penting buku ini. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan memang tidak dapat sepenuhnya terbebas dari situasi ketika wawancara dilakukan. Sebuah wawancara selalu memiliki konteks: siapa yang berbicara, persoalan apa yang sedang menjadi perhatian publik, serta kondisi sosial-politik yang melatarinya. Namun, penyusunnya berupaya agar pembahasan tidak berhenti pada respons sesaat. Ada usaha untuk membawa persoalan menuju pertanyaan yang lebih mendasar tentang arah perjalanan Indonesia.

Buku ini juga memiliki hubungan gagasan dengan buku sebelumnya, Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, yang terbit pada Mei 2000. Jika buku pertama mempertanyakan kualitas intelektual, idealisme, dan kemampuan generasi penerus dibandingkan generasi pendiri bangsa, buku kedua bergerak lebih jauh dengan menanyakan kemungkinan kebangkitan Indonesia.

Pertanyaan “mampukah” menjadi penting karena kebangkitan tidak pernah hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi atau pergantian pemerintahan. Sebuah bangsa dapat membangun kembali institusi politiknya, tetapi tetap mengalami persoalan apabila mentalitas, budaya, dan cara berpikir masyarakatnya tidak berubah. Dengan demikian, krisis nasional dalam buku ini dapat dibaca sebagai krisis yang memiliki dimensi struktural sekaligus kultural.

Salah satu gagasan yang menarik adalah pemikiran Raden Kartono Kamanjaya mengenai kemerosotan budaya dan perlunya perubahan mental. Ia melihat adanya persoalan dalam kebudayaan masyarakat yang membutuhkan revitalisasi secara mendasar. Dari sinilah gagasan mengenai “revolusi mental” muncul sebagai salah satu tawaran untuk menjawab kemerosotan tersebut.

Dalam pengertian ini, revolusi mental bukan sekadar slogan untuk mengajak orang berpikir positif. Ia berkaitan dengan perubahan cara pandang, karakter, etika, dan kebiasaan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Perubahan politik akan sulit menghasilkan bangsa yang lebih baik apabila masyarakat masih mempertahankan budaya yang melanggengkan ketidakjujuran, ketidakpedulian, penyalahgunaan kekuasaan, dan sikap pragmatis.

Menariknya, gagasan revitalisasi kultural tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan kebangkitan bangsa tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Negara memang memiliki tanggung jawab besar melalui kebijakan dan institusinya, tetapi masyarakat juga memiliki peran dalam membentuk kebudayaan publik. Mentalitas sebuah bangsa tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: bagaimana orang memperlakukan kekuasaan, menghargai aturan, menjalankan tanggung jawab, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Kelebihan dan Kekurangan

Buku ini sekaligus memperlihatkan pentingnya ruang bagi para intelektual untuk berbicara mengenai persoalan bangsa. Pada masa ketika krisis berlangsung begitu dalam, masyarakat membutuhkan bacaan yang tidak sekadar memberikan informasi, tetapi membantu memahami persoalan. Wawancara dengan para tokoh menjadi semacam ruang perdebatan yang memungkinkan pembaca melihat Indonesia dari berbagai perspektif.

Penerbit sendiri melihat tingginya minat terhadap buku-buku serius sebagai tanda bahwa masyarakat membutuhkan bahan bacaan yang dapat memperkaya wawasan untuk memahami krisis. Optimisme tersebut menarik, sebab di tengah situasi yang serba tidak pasti, membaca dan berpikir justru menjadi bagian dari usaha untuk menemukan jalan keluar.

Pada akhirnya, Mampukah Indonesia Bangkit? bukan sekadar buku yang berisi jawaban atas persoalan Indonesia pada tahun 2000. Ia merupakan rekaman kegelisahan sebuah bangsa yang sedang mencari arah setelah mengalami guncangan besar. Dua puluh tahun lebih setelah buku ini diterbitkan, pertanyaannya masih terasa relevan: apakah Indonesia benar-benar telah menyelesaikan akar persoalannya, atau sekadar berhasil melewati satu krisis untuk kemudian menghadapi krisis berikutnya?

Kebangkitan, sebagaimana tercermin dari gagasan buku ini, tidak cukup dimulai dari perubahan kekuasaan. Ia harus dimulai dari keberanian memahami masalah, kesediaan mengoreksi kesalahan, serta kemauan melakukan perubahan kultural yang mendasar. Sebab sebuah bangsa tidak akan benar-benar bangkit hanya karena pemerintahannya berganti. Ia bangkit ketika manusia-manusia di dalamnya bersedia mengubah cara berpikir dan cara hidupnya.

Identitas Buku

  • Judul: Mampukah Indonesia Bangkit?
  • Editor: Suwidi Tono
  • Penerbit: Visi Gagas Komunika
  • Kota Terbit: Jakarta
  • Tahun Terbit: 2000
  • Tebal: viii + 191 halaman
  • Kategori: Kumpulan Wawancara dan Pemikiran Tokoh/Intelektual