Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Bagaimana sebuah bahasa dan kebudayaan dikenal, didefinisikan, bahkan dibentuk oleh kekuasaan? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk penting dalam buku Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 karya Mikihiro Moriyama. Buku ini bukan sekadar kajian mengenai karya sastra Sunda, melainkan penelitian mengenai hubungan antara kolonialisme, bahasa, teknologi cetak, literasi, dan perubahan masyarakat Sunda pada abad ke-19.

Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan The Resona Foundation for Asia and Oceania pada 2005 ini memiliki tebal 338 halaman, dilengkapi ilustrasi dan peta. Kajian Moriyama merupakan adaptasi dari disertasi doktornya di Universitas Leiden pada 2003. Edisi Komunitas Bambu mendapat pengantar dari sejarawan Edi S. Ekadjati.

Isi Buku

Salah satu persoalan mendasar yang dibicarakan adalah anggapan bahwa masyarakat Sunda pada abad ke-19 belum memiliki khazanah sastra yang memadai. Pandangan tersebut sebenarnya telah lama diperdebatkan oleh para cendekiawan Sunda. R. Memed Sastrahadiprawira, misalnya, membantah anggapan bahwa tidak terdapat sastra Sunda dengan menunjukkan keberadaan tradisi sastra lisan. Ajip Rosidi melalui Kesusastraan Sunda Dewasa Ini juga menelusuri perjalanan kesusastraan Sunda, meskipun pembahasannya lebih banyak berfokus pada perkembangan sastra modern setelah 1945.

Kajian mengenai naskah Sunda kemudian menunjukkan bahwa abad ke-19 justru merupakan periode penting dalam perubahan tradisi literasi. Edi S. Ekadjati dan para peneliti lain melihat abad tersebut sebagai masa peralihan dari tradisi naskah sebelumnya menuju bentuk-bentuk baru.

Jika pada periode sebelumnya ditemukan naskah berbahasa dan beraksara Jawa, bahasa Arab, serta bahasa Jawa beraksara Pegon, pada pertengahan abad ke-19 semakin berkembang naskah berbahasa Sunda yang menggunakan aksara Cacarakan, Pegon, dan Latin.

Perubahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan budaya cetak. Teknologi percetakan memungkinkan teks diproduksi, disebarluaskan, dan dibaca dalam skala yang berbeda dibandingkan tradisi penyalinan naskah secara manual. Bahasa Sunda pun memasuki ruang baru: ruang pendidikan, administrasi, penerbitan, dan pembentukan pengetahuan mengenai masyarakat Sunda.

Menariknya, Moriyama juga menelusuri bagaimana pemerintah kolonial Belanda secara bertahap mengenali keberadaan orang Sunda sebagai kelompok masyarakat dengan bahasa dan kebudayaan yang berbeda dari Jawa. Dalam catatan orang Belanda sebelum abad ke-19, penduduk Pulau Jawa sering kali disebut sebagai orang Jawa, sementara bahasa yang digunakan juga disebut bahasa Jawa. Identitas Sunda belum memperoleh perhatian yang sebanding.

Menurut uraian Edi S. Ekadjati dalam bagian yang dikutip, keadaan tersebut kemungkinan berkaitan dengan cara pandang orang Belanda pada masa awal kedatangannya. Perhatian mereka lebih banyak tertuju pada perdagangan dan kepentingan ekonomi. Wilayah Nusantara juga kerap diamati dari kawasan pesisir, benteng, atau jalur perdagangan. Sementara itu, pusat kekuasaan dan kebudayaan yang lebih banyak menarik perhatian kolonial berada di Jawa bagian tengah, terutama Yogyakarta dan Surakarta.

Kelebihan dan Kekurangan

Penelitian Moriyama menunjukkan bahwa memasuki abad ke-19, pengetahuan kolonial tentang Tatar Sunda mulai berkembang. Orang Belanda semakin menyadari adanya masyarakat, bahasa, dan kebudayaan Sunda yang memiliki karakter tersendiri. Namun, proses pengenalan tersebut bukanlah proses yang sepenuhnya netral. Bahasa dan kesastraan Sunda juga mulai dipelajari, diklasifikasikan, dan dimanfaatkan dalam kepentingan kolonial.

Di sinilah pentingnya konsep “semangat baru” dalam buku Moriyama. Perkembangan budaya cetak tidak hanya memperluas penyebaran karya sastra, tetapi turut mengubah cara masyarakat memandang bahasa, identitas, pengetahuan, dan kebudayaan mereka sendiri. Para pengarang seperti Raden Haji Muhamad Musa dan Raden Kanduruan Kertinagara menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Dengan demikian, Semangat Baru memperlihatkan bahwa sejarah sastra tidak dapat dipisahkan dari sejarah kekuasaan dan teknologi. Perkembangan kesastraan Sunda abad ke-19 bukan sekadar munculnya karya-karya baru, melainkan bagian dari perubahan besar dalam cara bahasa dan kebudayaan Sunda ditulis, dibaca, dikategorikan, dan diwariskan. Buku Moriyama sekaligus mengajak pembaca melihat bahwa sastra adalah ruang tempat identitas kebudayaan terus dibentuk melalui pertemuan antara tradisi lokal, modernitas, dan kekuatan kolonial.

Identitas Buku

  • Judul: Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19
  • Penulis: Mikihiro Moriyama
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) 
  • Tahun Terbit: 2005
  • ISBN: 979-9100-23-2
  • Tebal: xxvi + 338 halaman