Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Empat Musim Pertiwi (IMDb)
Ryan Farizzal

Empat Musim Pertiwi adalah film drama Indonesia tahun 2026 yang ditulis dan disutradarai oleh Kamila Andini, diproduseri Ifa Isfansyah melalui Forka Films. Film ini tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Berdurasi 137 menit, karya ini telah dipilih sebagai perwakilan resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99 tahun 2027, setelah world premiere di Toronto International Film Festival 2026.

Awal Mula Tragedi dan Keputusan Membela Diri

Salah satu adegan di film Empat Musim Pertiwi (IMDb)

Film ini mengisahkan Pertiwi (Putri Marino), seorang perempuan yang kembali ke desa kelahirannya di kawasan Gunung Bromo setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Pada usia 16 tahun, ia dipenjara karena membunuh seorang pria yang mencoba memperkosanya. Kepulangannya tidak disambut hangat. Keluarga dan warga desa menolaknya, masih terikat pada ingatan masa lalu dan stigma yang melekat. Pertiwi harus menghadapi trauma yang belum selesai melalui metafora empat musim dalam hidupnya—fase-fase emosional yang mencakup ketakutan, kesedihan, kemarahan, dan upaya menuju pemulihan. Di tengah penolakan tersebut, ia menemukan dukungan dari beberapa sosok, antara lain Mak Ira (Christine Hakim), Bisma (Arya Saloka), dan Niken (Hana Malasan).

Sinopsis ini tidak hanya berbicara tentang kepulangan fisik, melainkan tentang proses berdamai dengan diri sendiri dan menantang struktur sosial yang sering memarginalkan korban kekerasan seksual. Kamila Andini, yang dikenal melalui karya-karya seperti Yuni dan Gadis Kretek, mengeksplorasi tema trauma, ketidakadilan gender, dan pencarian ruang untuk pulang dalam arti yang lebih luas. Film ini memadukan elemen drama psikologis, misteri, realisme magis, dan sentuhan western kontemporer, dengan latar lanskap Bromo yang menjadi karakter tersendiri.

Ulasan Film Empat Musim Pertiwi

Salah satu adegan di film Empat Musim Pertiwi (IMDb)

Dari segi penampilan, Putri Marino menyampaikan kompleksitas karakter Pertiwi dengan kekuatan dan kerapuhan yang seimbang. Ia menggambarkan perempuan yang membawa luka mendalam namun tetap berupaya merebut kembali kendali atas narasinya. Christine Hakim sebagai Mak Ira memberikan nuansa hangat dan jernih di tengah stigma sosial, sementara Arya Saloka dan Hana Malasan menambah lapisan hubungan manusiawi yang mendukung perjalanan tokoh utama. Pemeran pendukung, termasuk Shofia Shireen sebagai Pertiwi remaja, turut memperkuat kesinambungan cerita.

Sinematografi Batara Goempar menangkap keindahan sekaligus isolasi Gunung Bromo secara memukau. Visual alam menjadi metafora yang kuat bagi perubahan musim emosional Pertiwi. Penggunaan simbol, rekaman suara, dan elemen budaya lokal seperti kuda lumping memperkaya lapisan naratif tanpa terburu-buru menjelaskan segala sesuatu kepadaku sebagai penonton. Alur yang cenderung lambat dan penuh simbol menuntut perhatian, namun justru memungkinkan pengalaman yang lebih mendalam mengenai trauma kolektif dan ketahanan individu.

Salah satu adegan paling emosional adalah momen ketika Pertiwi berhadapan dengan penolakan keluarga dan masyarakat, serta interaksi dengan Raras, seorang remaja yang pengalamannya mengingatkan pada masa lalunya sendiri. Adegan-adegan ini menyampaikan rasa tidak dipercaya, ketakutan, dan ketidakberdayaan yang sering dialami penyintas kekerasan seksual, tanpa mengubah trauma menjadi alat kejutan belaka. Kekuatan emosi muncul dari cara film memberi ruang bagi tubuh dan gestur untuk bercerita terlebih dahulu sebelum dialog mengungkap detail.

Untuk adegan paling berkesan setelah menonton film ini adalah penggunaan metafora empat musim yang terwujud melalui lanskap Bromo dan perubahan suasana. Perjalanan Pertiwi melewati fase-fase kehidupan digambarkan secara puitis namun tajam, di mana alam menjadi cermin bagi proses penyembuhan. Momen pelepasan ketegangan melalui elemen realisme magis dan budaya lokal juga meninggalkan kesan mendalam, menawarkan ruang imajinatif bagi keadilan yang sulit ditemukan dalam realitas sehari-hari. Visual yang imersif dan chemistry antar pemain membuat adegan-adegan ini bertahan lama dalam ingatan.

Pada akhirnya, Empat Musim Pertiwi merupakan karya yang menuntut, reflektif, dan relevan. Film ini tidak menawarkan penyelesaian mudah atau dunia yang tiba-tiba adil, melainkan memberikan ruang untuk membayangkan penerimaan, konsekuensi atas kekerasan, dan hak setiap orang untuk tetap tinggal di tanah yang disebut rumah. Dengan penampilan yang solid, sinematografi yang kuat, serta keberanian mengangkat isu yang sering terpinggirkan, film ini layak disaksikan di layar lebar. Buat kamu yang menghargai sinema yang menggali kedalaman emosi dan kritik sosial, Empat Musim Pertiwi menawarkan pengalaman yang menyentuh sekaligus menggugah. Rating pribadi: 8.6/10.