Lintang Siltya Utami | Dian Haerani
Be With You. (Instagram/@cinenomad.17)
Dian Haerani

Pasti kita pernah iseng membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang menjadi bagian paling penting dalam hidup kita. Seseorang yang biasanya ada di rumah, menemani hari-hari biasa, lalu tiba-tiba harus kita relakan pergi untuk selamanya. Mungkin, saat masih memilikinya, kita tidak selalu menyadari betapa berharganya kehadiran orang tersebut. Kita terlalu sibuk menjalani hari sampai lupa bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan bersama seseorang bisa menjadi kenangan yang paling kita rindukan ketika dia sudah tidak ada.

Perasaan itulah yang terasa begitu kuat ketika menonton Be With You (2018), film Korea Selatan yang dibintangi So Ji-sub dan Son Ye-jin. Film garapan Lee Jang-hoon ini menggabungkan romansa, fantasi, dan drama keluarga dalam sebuah cerita tentang cinta, kehilangan, dan kesempatan kedua.

Ceritanya berpusat pada Jung Woo-jin, seorang ayah yang harus membesarkan putranya, Ji-ho, seorang diri setelah sang istri, Im Soo-ah, meninggal dunia. Sebelum pergi, Soo-ah pernah berjanji bahwa dia akan kembali ketika musim hujan tiba, setahun kemudian.

Bagi Woo-jin, janji itu mungkin hanya ucapan untuk menenangkan putra mereka yang masih kecil. Namun, Ji-ho percaya bahwa ibunya benar-benar akan kembali. Dia terus menyimpan harapan, seolah kehilangan bukanlah akhir dari segalanya.

Sampai suatu hari, ketika musim hujan tiba, sesuatu yang tidak masuk akal benar-benar terjadi. Woo-jin dan Ji-ho menemukan Soo-ah kembali, tetapi ada satu hal yang berbeda, Soo-ah tidak mengingat siapa mereka dan tidak mengetahui kehidupan yang pernah dijalaninya bersama keluarganya.

Meski begitu, mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Woo-jin perlahan menceritakan kisah cinta mereka, sementara Soo-ah mulai mengenal pria yang katanya pernah menjadi suaminya. Tanpa mengingat masa lalu, dia justru kembali menemukan perasaan yang sama.

Menurut saya, premis film ini sederhana, tetapi punya kekuatan emosional yang besar. Bagaimana jika kita mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali dengan orang yang sudah kita kehilangan, meskipun hanya untuk sementara waktu? Rasanya tentu membahagiakan sekaligus menyakitkan. 

Hal yang paling saya suka dari Be With You adalah bagaimana film ini menggambarkan cinta melalui hal-hal sederhana. Tidak selalu lewat pengorbanan besar atau kata-kata romantis, tetapi melalui perhatian kecil, kebiasaan sehari-hari, dan kesediaan untuk tetap hadir ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.

Hubungan Woo-jin dan Soo-ah juga tidak hanya membuat kita melihat cinta dari sisi romantis. Ada kehidupan rumah tangga yang harus dijalani, seorang anak yang membutuhkan kasih sayang, serta kesedihan yang tidak bisa begitu saja hilang setelah seseorang meninggal.

Woo-jin, misalnya, harus tetap menjalani hidup meskipun kehilangan istrinya. Dia harus menjadi ayah sekaligus berusaha memahami perasaannya sendiri. Di balik keinginannya untuk kembali bersama Soo-ah, ada kesedihan yang selama ini harus dia tanggung sambil terus menjalankan tanggung jawabnya.

Sementara itu, Ji-ho menjadi pengingat bahwa kehilangan bukan hanya menyisakan kesedihan bagi orang dewasa. Anak-anak pun bisa merasakan kekosongan yang sama, meskipun mereka belum sepenuhnya memahami arti kematian.

Ada sesuatu yang menyentuh dari caranya menunggu ibunya kembali. Bagi Ji-ho, harapan itu bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan. Dia hanya percaya bahwa ibunya akan menepati janji. Dan terkadang, bukankah kita juga ingin memiliki keyakinan sesederhana itu ketika menghadapi kehilangan?

Saya juga menyukai penampilan So Ji-sub dan Son Ye-jin yang mampu membuat hubungan kedua karakter terasa hangat dan alami. Ada kecanggungan, kebahagiaan, serta kesedihan yang muncul tanpa harus selalu dijelaskan melalui dialog panjang. 

Meski begitu, film ini mungkin terasa cukup lambat bagi penonton yang lebih menyukai cerita dengan konflik yang cepat. Unsur fantasinya juga meminta kita untuk menerima premis yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan secara logis. Namun, menurut saya justru di situlah letak daya tariknya. Kita diajak untuk menikmati cerita berdasarkan perasaan, bukan terus-menerus mencari penjelasan atas setiap keajaiban yang terjadi.

Pada akhirnya, Be With You bukan hanya film tentang seorang istri yang kembali dari kematian. Film ini juga berbicara tentang bagaimana kita menjalani kehidupan bersama orang-orang yang kita sayangi, meskipun tidak pernah tahu berapa lama kesempatan itu akan bertahan.

Kita sering kali menganggap kehadiran seseorang sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Kita menunda mengucapkan terima kasih, lupa menunjukkan perhatian, atau merasa masih punya banyak waktu untuk melakukan sesuatu bersama mereka. Padahal, tidak ada yang benar-benar bisa menjamin hal tersebut.

Mungkin itulah pelajaran yang paling membekas setelah menonton film ini. Kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya seseorang. Tidak perlu menunggu perpisahan untuk mengungkapkan rasa sayang, dan tidak harus menunggu momen istimewa untuk menciptakan kenangan bersama.

Sebab pada akhirnya, Be With You mengingatkan kita bahwa cinta bukan hanya tentang berapa lama kita bisa bersama seseorang, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai waktu yang diberikan kepada kita.

Kalau hujan bisa membawa seseorang kembali, mungkin saya juga ingin percaya bahwa setiap kenangan indah yang pernah kita ciptakan tidak benar-benar hilang. Mereka akan tetap tinggal, bahkan ketika orangnya sudah tidak lagi berada di sisi kita.