Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film Cidro Asmoro (IMDb)
Ryan Farizzal

Cidro Asmoro merupakan film drama komedi musikal yang mulai tayang serentak di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.

Disutradarai oleh Senoaji Julius dan diproduksi oleh VISION+, Adglow Pictures, Hompimpa Sinema, serta Kreator Visual Indonesia, film berdurasi 106 menit ini menghadirkan cerita baru yang berdiri sendiri, meskipun berangkat dari kesuksesan serial sebelumnya.

Dibintangi Jodilee Warwick sebagai Prita, Ndarboy Genk sebagai Daru, Happy Asmara, Erick Estrada, Andra Bagindas, dan sejumlah pemain pendukung, film ini membawa semangat Virale Heboh, Critané Baper! dengan perpaduan fenomena viral media sosial, musik campursari modern, budaya Jawa, komedi, romansa, dan drama.

Harmoni Indah Antara Cinta, Komedi, dan Lagu Syahdu

Tangkapan layar adegan di film Cidro Asmoro (youtube.com/Cinépolis Indonesia)

Sinopsis film berpusat pada Prita Anjarsari, seorang gadis sederhana dari keluarga kurang mampu yang bekerja sebagai penjaga kafe kecil di Yogyakarta. Di tengah rutinitasnya membantu keluarga, Prita menyimpan impian menjadi penyanyi.

Suatu malam, bersama sahabatnya Molly, ia berhenti di trotoar dan melihat seorang pengamen membawakan lagu campursari Koyo Jogja Istimewa. Secara spontan, Prita ikut bernyanyi dan berjoget dengan semangat yang polos. Aksi tersebut direkam Molly dan diunggah ke media sosial.

Video berdurasi singkat itu mendadak viral dengan jutaan penonton, goyangannya ditiru banyak orang, dan nama Prita dikenal secara nasional dalam semalam.

Popularitas instan membawa Prita ke dunia hiburan yang sepenuhnya asing baginya. Ia harus menghadapi kejaran penggemar, kepentingan industri musik, serta dinamika persahabatan dan kehidupan pribadi.

Kehadirannya menggeser perhatian publik dari proyek kolaborasi besar antara Daru (Ndarboy Genk) dan Happy Asmara, memicu konflik ego, persaingan, dan ketegangan di kalangan musisi campursari.

Film ini mengeksplorasi bagaimana popularitas yang datang tiba-tiba menguji jati diri, keluarga, dan persahabatan, hingga akhirnya sebuah konser besar mempertemukan mereka semua dan menegaskan bahwa musik seharusnya menyatukan, bukan memecah belah.

Ulasan Film Cidro Asmoro

Tangkapan layar adegan di film Cidro Asmoro (youtube.com/Cinépolis Indonesia)

Dari segi produksi, Cidro Asmoro berhasil mempertahankan identitas Jawa melalui sikap, tutur kata, karakter, dan terutama musik campursari yang tidak sekadar menjadi latar, melainkan penggerak emosi dan alur cerita.

Sutradara Senoaji Julius menekankan bahwa unsur Jawa hadir secara organik, bukan sekadar elemen visual. Lagu-lagu yang diaransemen, termasuk karya yang melibatkan Ndarboy Genk dan Happy Asmara, membantu menggambarkan perubahan perasaan tokoh.

Debut akting Ndarboy Genk sebagai Daru, seorang musisi yang merintis karier dari bawah, terasa autentik karena kedekatannya dengan pengalaman nyata di industri musik Jawa.

Happy Asmara memberikan warna tersendiri, sementara Jodilee Warwick menampilkan Prita sebagai sosok polos, tulus, spontan, mudah tertawa, dan sangat menyayangi keluarga, namun cenderung sulit menolak permintaan orang lain.

Film ini mengangkat isu yang sangat relevan di era digital: bagaimana sebuah momen spontan di media sosial dapat mengubah hidup seseorang secara drastis, sekaligus membawa konsekuensi yang tidak selalu menyenangkan.

Perjalanan Prita dari penjaga kafe hingga masuk ke industri profesional menggambarkan perjuangan mempertahankan keaslian di tengah sorotan publik, kepentingan pihak luar, dan persaingan. Humor khas Indonesia, terutama yang dibawa Erick Estrada, memberikan keseimbangan sehingga cerita tetap ringan dan menghibur tanpa kehilangan kedalaman emosional.

Adegan paling lucu muncul pada momen spontan Prita bernyanyi dan berjoget bersama pengamen di trotoar. Aksi polos yang kemudian menjadi viral, ditambah reaksi orang-orang yang meniru goyangannya, serta situasi konyol yang muncul ketika Prita tiba-tiba menjadi sensasi, menawarkan komedi situasional yang relatable.

Interaksi komedi di balik layar industri musik, terutama yang melibatkan karakter Erick Estrada, juga memberikan tawa melalui dialog dan situasi absurd khas dunia hiburan.

Untuk adegan paling berkesan, menurutku terletak pada klimaks konser besar yang mempertemukan Prita, Daru, Happy Asmara, dan tokoh-tokoh lainnya. Momen tersebut tidak hanya menjadi puncak musikal, tetapi juga titik di mana konflik ego dan persaingan diredakan oleh kesadaran bahwa musik mampu menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda.

Adegan-adegan yang menyentuh hubungan Prita dengan keluarga serta perjuangannya menjaga jati diri di tengah popularitas juga diarahkan untuk meninggalkan kesan emosional yang mendalam, sesuai semangat critané baper.

Intinya, Cidro Asmoro menawarkan tontonan yang menghibur sekaligus menyentuh, dengan kekuatan utama pada musik campursari modern dan representasi budaya Jawa yang autentik.

Film ini cocok bagi pencinta musik Jawa, penggemar cerita tentang mimpi dan popularitas instan, serta penonton yang mencari hiburan ringan dengan pesan tentang persahabatan, keluarga, dan pentingnya tetap menjadi diri sendiri.

Dengan rating remaja dan durasi yang pas, Cidro Asmoro layak ditonton di bioskop sebagai salah satu film lokal yang merayakan kearifan lokal dalam kemasan kekinian. Rating pribadi: 8/10.