Lintang Siltya Utami | Dian Haerani
Architecture 101. (Instagram/@film_serialtv)
Dian Haerani

Ada kenangan yang rasanya ingin kita kunjungi sekali lagi. Bukan karena kita ingin mengulang semuanya, tetapi karena ada bagian dari masa lalu yang masih menyisakan pertanyaan. Bagaimana kalau waktu itu kita lebih berani? Bagaimana kalau kita tidak membiarkan kesalahpahaman terjadi? Atau bagaimana kalau kita benar-benar mengungkapkan perasaan yang selama ini hanya berani kita simpan sendiri?

Mungkin, itulah salah satu alasan mengapa Architecture 101 (2012) terasa begitu dekat dengan kehidupan. Film Korea Selatan yang dibintangi Bae Suzy, Lee Je-hoon, Han Ga-in, dan Uhm Tae-woong ini bukan sekadar kisah cinta pertama. Film ini juga tentang kenangan yang bertahan jauh lebih lama daripada hubungan itu sendiri. 

Ceritanya berpusat pada Lee Seung-min dan Yang Seo-yeon yang pertama kali bertemu ketika masih menjadi mahasiswa. Seung-min, mahasiswa arsitektur yang pemalu, mulai menyukai Seo-yeon, mahasiswi musik yang mengambil kelas pengantar arsitektur bersamanya.

Keduanya kemudian semakin dekat ketika mengerjakan tugas kuliah bersama. Seo-yeon diperankan oleh Bae Suzy dalam bagian masa muda, sementara Lee Je-hoon memerankan Seung-min muda. Hubungan mereka tumbuh lewat momen-momen sederhana seperti mengerjakan tugas, menghabiskan waktu bersama, dan perlahan mengenal satu sama lain.

Namun, perasaan yang tidak pernah benar-benar diungkapkan serta sebuah kesalahpahaman membuat keduanya menjauh. Lima belas tahun kemudian, Seo-yeon kembali menemui Seung-min yang telah menjadi seorang arsitek.

Ia meminta bantuan Seung-min untuk membangun kembali rumah masa kecilnya di Pulau Jeju. Pertemuan tersebut membuka kembali kenangan yang selama ini tersimpan, sekaligus menghadirkan pertanyaan tentang perasaan yang mungkin belum sepenuhnya selesai.

Menurut saya, kekuatan utama film ini terletak pada cara ceritanya berpindah antara masa lalu dan masa kini. Kita tidak hanya melihat dua orang yang pernah saling menyukai, tetapi juga membandingkan siapa mereka dahulu dengan siapa mereka sekarang.

Seung-min muda begitu pemalu dan canggung ketika berhadapan dengan Seo-yeon. Ia ingin dekat, tetapi tidak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya. Sementara itu, Seo-yeon memiliki kehidupannya sendiri, dengan keinginan dan persoalan yang tidak selalu dipahami Seung-min. Bukankah situasi seperti ini cukup familiar?

Saat masih muda, kita sering mengira bahwa menyukai seseorang saja sudah cukup. Kita berharap orang itu memahami perhatian kecil kita, menyadari perubahan sikap kita, bahkan membaca perasaan yang tidak pernah kita ucapkan. Padahal, orang lain tidak selalu bisa memahami apa yang kita sembunyikan.

Ada kalanya kita terlalu takut ditolak sampai memilih diam. Kita menunggu waktu yang tepat, berharap keadaan menjadi lebih mudah, tetapi tanpa sadar justru membiarkan kesempatan berlalu. Ketika akhirnya ingin mengatakan sesuatu, keadaan mungkin sudah berubah.

Hal yang menarik, film ini menggunakan arsitektur sebagai penghubung antara kenangan dan kehidupan. Rumah yang ingin dibangun kembali Seo-yeon bukan sekadar proyek pekerjaan bagi Seung-min. Rumah itu menjadi pintu menuju masa lalu, tempat keduanya pernah menyimpan bagian dari kehidupan mereka.

Menurut saya, ini adalah metafora yang cukup indah. Kita bisa memperbaiki rumah, mengubah tata ruang, memilih bahan yang lebih baik, bahkan membangun sesuatu dari awal. Namun, bagaimana dengan kenangan yang melekat pada tempat tersebut? Bisakah kita mengembalikan perasaan yang sama hanya dengan mengunjungi kembali tempat yang pernah berarti?

Mungkin tidak.

Sebab yang berubah bukan hanya keadaan di sekitar kita, tetapi juga diri kita sendiri. Seung-min dan Seo-yeon yang bertemu kembali bukan lagi dua mahasiswa yang belum memahami kehidupan. Mereka sudah melewati pengalaman, kekecewaan, dan pilihan yang membentuk siapa mereka sekarang.

Saya juga menyukai bagaimana film ini membangun suasana nostalgia melalui detail-detail kecil. Ritmenya cenderung tenang, tidak selalu mengandalkan dialog romantis atau konflik besar. Penonton diberi ruang untuk merasakan kecanggungan, kerinduan, dan penyesalan yang muncul ketika masa lalu kembali hadir.

Meski begitu, film ini tidak sepenuhnya sempurna. Ada bagian cerita yang terasa menyakitkan, terutama ketika keputusan Seung-min muda memperlihatkan bagaimana rasa takut dan ego dapat membuat seseorang mengecewakan orang yang disukainya.

Menurut saya, bagian tersebut penting untuk diingat karena cinta pertama tidak selalu berisi kenangan manis. Ada pula tindakan yang perlu dipertanggungjawabkan, bukan sekadar dikenang sebagai kisah cinta yang gagal.

Pada akhirnya, Architecture 101 membuat saya berpikir bahwa tidak semua hal yang belum selesai harus diselesaikan dengan kembali bersama. Terkadang, kita hanya perlu memahami apa yang pernah terjadi, menerima bagian yang tidak bisa diubah, lalu melanjutkan hidup tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari film ini, bahwa kita bisa membangun kembali sebuah rumah, tetapi tidak bisa membangun ulang masa lalu persis seperti yang kita inginkan.

Dan mungkin, tidak apa-apa jika ada seseorang yang hanya tinggal sebagai bagian dari cerita lama kita. Bukan untuk terus disesali, melainkan untuk mengingatkan bahwa kita pernah tumbuh, pernah mencintai, dan pernah belajar dari sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan.