Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
Decision To Leave (Instagram/cinespotlight_)
Dian Haerani

Pernahkah kamu merasa tertarik kepada seseorang yang sebenarnya tidak seharusnya kita dekati? Kita tahu ada sesuatu yang salah, tetapi semakin berusaha menjaga jarak, semakin besar pula rasa penasaran yang muncul. Kita mencoba memahami orang tersebut, mencari tahu apa yang disembunyikannya, sampai tanpa sadar justru ikut terlibat secara emosional.

Perasaan seperti itulah yang terasa sepanjang Decision to Leave (2022), film thriller romantis Korea Selatan garapan Park Chan-wook yang dibintangi Park Hae-il dan Tang Wei. Film ini membawa kita ke dalam sebuah penyelidikan pembunuhan yang perlahan berubah menjadi hubungan penuh teka-teki antara seorang detektif dan perempuan yang dicurigainya. 

Cerita bermula ketika seorang pria ditemukan meninggal setelah jatuh dari gunung. Hae-joon, detektif yang menangani kasus tersebut, mulai menyelidiki Seo-rae, istri korban yang berasal dari Tiongkok. Sikap Seo-rae yang tenang dan reaksinya yang tidak biasa membuat Hae-joon semakin curiga.

Namun, semakin dalam penyelidikan berlangsung, semakin sulit pula baginya memisahkan kecurigaan profesional dari ketertarikan pribadi. Seo-rae bukan karakter yang mudah dipahami. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Hae-joon terus ingin mencari tahu lebih banyak.

Sementara itu, Hae-joon yang dikenal teliti dan berdedikasi mulai kehilangan jarak yang seharusnya ia pertahankan sebagai seorang penyelidik. Dari sinilah film ini mulai terasa berbeda dari thriller pada umumnya.

Biasanya, kita menonton film misteri untuk mencari tahu siapa pelakunya, apa motifnya, dan bagaimana semua petunjuk akan terhubung. Namun, Decision to Leave justru mengajak kita untuk memperhatikan sesuatu yang lebih rumit, yaitu bagaimana perasaan dapat mengaburkan penilaian seseorang, bahkan ketika ia merasa dirinya masih memegang kendali.

Menurut saya, kekuatan film ini terletak pada cara Park Chan-wook membangun ketegangan tanpa harus terus-menerus mengandalkan adegan mengejutkan. Banyak hal disampaikan melalui tatapan, jeda percakapan, dan detail kecil yang mungkin tampak biasa, tetapi menyimpan makna berbeda ketika kita melihatnya kembali.

Hubungan Hae-joon dan Seo-rae pun tidak dibangun melalui pengakuan cinta yang terang-terangan. Justru ada jarak yang terus dipertahankan, seolah keduanya sama-sama menyadari bahwa semakin dekat mereka, semakin rumit pula keadaan yang harus dihadapi.

Dan bukankah terkadang hubungan yang paling membingungkan justru muncul ketika tidak ada seorang pun yang benar-benar berani mengatakan apa yang dirasakannya?

Hae-joon ingin memahami Seo-rae, tetapi keinginannya itu perlahan menjadi sesuatu yang lebih personal. Ia bukan lagi sekadar mencari jawaban atas sebuah kasus. Ada bagian dari dirinya yang ingin terus berada di dekat perempuan tersebut, bahkan ketika kedekatan itu mulai mengganggu kehidupannya sendiri.

Di sisi lain, Seo-rae juga menyimpan banyak hal yang tidak mudah diterjemahkan. Kita dibuat bertanya-tanya apakah tindakannya menunjukkan ketulusan, manipulasi, atau sesuatu yang berada di antara keduanya.

Bagi saya, di sinilah penampilan Tang Wei terasa sangat kuat. Ia mampu menghadirkan karakter yang tenang sekaligus misterius, membuat penonton terus mencoba memahami apa yang sebenarnya ada di balik ekspresi Seo-rae.

Park Hae-il juga berhasil memperlihatkan perubahan Hae-joon, dari detektif yang terlihat terkendali menjadi seseorang yang perlahan kehilangan ketenangan karena perasaannya sendiri. Secara visual, film ini juga menarik.

Penggunaan sudut kamera, perpindahan ruang, dan penyuntingan membuat penonton seolah ikut memasuki pikiran Hae-joon yang semakin sulit membedakan fakta dengan perasaan. Tidak semua bagian ceritanya mudah diikuti, terutama karena film ini sengaja tidak menjelaskan setiap hal secara gamblang. 

Menurut saya, Decision to Leave bukan sekadar cerita tentang detektif yang jatuh cinta kepada perempuan yang sedang diselidikinya. Film ini juga berbicara tentang bagaimana seseorang bisa menjadi begitu terobsesi untuk memahami orang lain sampai lupa memahami dirinya sendiri.

Kita mungkin pernah mengalami versi yang lebih sederhana dari situasi tersebut. Terus memikirkan seseorang yang sulit ditebak, mengulang percakapan di kepala, atau mencari makna dari sikap yang sebenarnya tidak pernah dijelaskan. Semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin sulit pula kita berhenti memikirkannya.

Namun, rasa penasaran tidak selalu berarti cinta. Dan memahami seseorang tidak selalu berarti kita akan menemukan jawaban yang kita inginkan.

Pada akhirnya, Decision to Leave adalah film yang tidak hanya meninggalkan misteri, tetapi juga perasaan yang sulit dijelaskan. Ada hubungan yang tidak pernah benar-benar mendapatkan kepastian, ada keputusan yang membawa konsekuensi, dan ada kerinduan yang tetap tinggal bahkan ketika dua orang tidak lagi bisa bersama.

Mungkin itulah bagian paling menyedihkan dari film ini, kadang seseorang bisa meninggalkan jejak yang begitu dalam dalam hidup kita tanpa pernah benar-benar menjadi milik kita. Pada titik tertentu, kita harus memilih apakah akan terus mencari jawaban atau menerima bahwa tidak semua hal bisa kita pahami sepenuhnya.