Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Dialog Indonesia dan Masa Depan (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Membicarakan masa depan Indonesia sering kali membuat kita terjebak pada pertanyaan tentang pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau pembangunan infrastruktur. Namun, jauh sebelum istilah-istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari, Soedjatmoko telah mengingatkan bahwa masa depan sebuah bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa cepat pembangunan berlangsung. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana manusia di dalamnya menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah, nilai, dan martabatnya.

Gagasan-gagasan tersebut dapat ditemukan dalam buku Dialog Indonesia dan Masa Depan karya Soedjatmoko, dengan kontribusi Burhan Bungin dan Laely Widjajati. Buku yang diterbitkan Usaha Nasional pada 1992 ini memiliki tebal 262 halaman dan merupakan himpunan tulisan serta pemikiran yang membicarakan persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Buku ini menjadi menarik karena cakupan pemikiran Soedjatmoko jauh melampaui satu bidang tertentu.

Isi Buku

Soedjatmoko merupakan intelektual sekaligus diplomat yang hidup dalam dua zaman penting Indonesia. Ia mengalami masa perjuangan, masa awal kemerdekaan, hingga periode ketika pembangunan dan modernisasi menjadi agenda utama negara. Pengalaman tersebut membuat pemikirannya tidak berdiri di ruang akademik yang terpisah dari kenyataan. Ia berbicara mengenai Indonesia sebagai masyarakat yang terus berubah dan harus berhadapan dengan dunia yang juga bergerak cepat.

Salah satu ciri pemikirannya adalah keluasan bidang yang dibicarakan. Soedjatmoko dapat berbicara tentang seni rupa, kesusastraan, politik, agama, konflik Dunia Ketiga, teknologi, pembangunan, hingga persoalan kemanusiaan. Bagi sebagian kalangan intelektual, pemikirannya kerap dianggap normatif karena banyak berbicara mengenai nilai dan arah yang seharusnya ditempuh manusia. Namun justru di situlah relevansinya. Ia tidak hanya bertanya mengenai apa yang terjadi, tetapi juga apa yang seharusnya dilakukan manusia ketika berhadapan dengan perubahan.

Dalam persoalan pembangunan, misalnya, kemajuan tidak dapat dipahami hanya sebagai bertambahnya angka produksi atau meningkatnya pendapatan. Pembangunan pada akhirnya harus kembali kepada manusia. Jika modernisasi menghasilkan masyarakat yang kehilangan solidaritas, memperbesar ketimpangan, atau mengorbankan kebudayaan dan martabat manusia, maka kemajuan tersebut perlu dipertanyakan kembali.

Cara pandang semacam ini membuat gagasan Soedjatmoko terasa dekat dengan persoalan Indonesia hari ini. Teknologi berkembang begitu cepat, akses informasi semakin luas, dan perubahan sosial berlangsung dalam tempo yang sulit dibayangkan beberapa dekade lalu. Namun kemajuan teknologi juga menghadirkan persoalan baru. Masyarakat dapat menjadi semakin terhubung secara digital, tetapi belum tentu semakin dekat secara sosial. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kemampuan memilah dan memahami informasi tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.

Karena itu, humanisme menjadi salah satu fondasi penting dalam pemikiran Soedjatmoko. Modernisasi seharusnya tidak membuat manusia sekadar menjadi alat bagi sistem ekonomi dan pembangunan. Manusia harus tetap menjadi tujuan utama. Kebijakan, teknologi, pendidikan, dan pembangunan semestinya diarahkan untuk memperbesar kemampuan manusia dalam menentukan kehidupannya sendiri.

Kelebihan dan Kekurangan

Pemikirannya juga menempatkan kebudayaan dalam posisi penting. Masyarakat yang sedang berubah membutuhkan kemampuan untuk menerima perkembangan baru tanpa harus mencabut seluruh akar identitasnya. Modernisasi bukan berarti meniru seluruh pola kehidupan masyarakat lain. Sebaliknya, modernisasi seharusnya menjadi proses kreatif untuk menemukan bentuk kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman masyarakat sendiri.

Dari perspektif politik dan sosial, gagasan tersebut membawa kita pada persoalan etika. Sebuah negara membutuhkan pembangunan institusi, tetapi institusi tidak akan berjalan baik tanpa manusia yang memiliki tanggung jawab moral. Demokrasi membutuhkan warga yang mampu berpikir kritis. Pembangunan membutuhkan pengelola yang memiliki integritas. Sementara kemajuan ekonomi membutuhkan solidaritas agar hasil pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Hal menarik lainnya adalah kemampuan pemikiran Soedjatmoko untuk melampaui zamannya. Tulisan-tulisannya memang lahir dalam konteks persoalan Indonesia pada masa tertentu, tetapi keresahan yang dibawanya tidak sepenuhnya hilang. Persoalan hubungan antara teknologi dan manusia, pembangunan dan keadilan, modernisasi dan kebudayaan, serta kebebasan dan tanggung jawab tetap menjadi persoalan masyarakat hingga kini.

Rekomendasi Pembaca

Dialog Indonesia dan Masa Depan tidak sekadar dapat dibaca sebagai kumpulan tulisan lama. Buku ini lebih tepat dipandang sebagai ajakan untuk berdialog dengan pemikiran seorang intelektual yang mencoba melihat Indonesia melampaui persoalan hariannya. Masa depan, dalam pandangan semacam ini, bukan sesuatu yang tinggal ditunggu. Ia dibentuk melalui pilihan-pilihan manusia pada hari ini.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting dari buku ini bukan sekadar seperti apa Indonesia di masa depan, melainkan manusia seperti apa yang ingin kita bentuk untuk mengisinya. Sebab pembangunan tanpa manusia yang beretika hanya akan menghasilkan kemajuan yang kehilangan arah. Dan modernisasi tanpa kemanusiaan berisiko membuat sebuah bangsa semakin maju secara teknologi, tetapi semakin jauh dari tujuan kehidupan bersama.

Identitas Buku

  • Judul: Dialog Indonesia dan Masa Depan
  • Pengarang: Soedjatmoko
  • Kontributor: Burhan Bungin dan Laely Widjajati
  • Penerbit: Usaha Nasional
  • Kota Terbit: Surabaya
  • Tahun Terbit: 1992
  • Tebal: 262 halaman