Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
A Good Day to Be a Dog (Instagram/lee_hye12)
Dian Haerani

Kita mungkin pernah menjauh dari seseorang bukan karena tidak menyukainya, tetapi justru karena takut terluka. Kita takut salah memilih, takut berharap terlalu banyak, atau takut pengalaman buruk di masa lalu terulang kembali.  Akhirnya, kita memilih menjaga jarak, meskipun sebenarnya ada bagian dari diri kita yang ingin lebih dekat.

Hal seperti ini bisa kita temukan dalam drama Korea A Good Day to Be a Dog (2023). Dibintangi Park Gyu-young, Cha Eun-woo, dan Lee Hyun-woo, drama ini memadukan romansa, komedi, dan fantasi dalam kisah yang cukup unik, yaitu tentang seorang perempuan yang berubah menjadi anjing setelah mencium seseorang dan seorang laki-laki yang justru takut pada anjing. 

Han Hae-na adalah seorang guru yang mewarisi kutukan keluarganya. Setiap kali mencium seseorang, ia akan berubah menjadi anjing setiap tengah malam. Satu-satunya cara mematahkan kutukan tersebut adalah mencium orang yang sama ketika dirinya sedang menjadi anjing.

Masalahnya, orang yang tidak sengaja diciumnya adalah Jin Seo-won, rekan sesama guru yang memiliki trauma terhadap anjing. Bayangkan betapa rumitnya situasi Hae-na. Ia hanya ingin menjalani kehidupan normal, tetapi satu ciuman yang tidak disengaja justru membuatnya harus menghadapi masalah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Sementara itu, Seo-won harus berhadapan dengan ketakutan yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Dari premisnya saja, drama ini memang terdengar konyol sekaligus menggemaskan. Namun, kalau diperhatikan lebih jauh, ada hal yang cukup dekat dengan kehidupan kita, terkadang sesuatu yang menghalangi kita untuk bahagia bukan karena kita tidak menginginkannya, melainkan karena kita belum selesai dengan ketakutan sendiri.

Hae-na ingin dicintai, tetapi kutukan yang dimilikinya membuat hubungan romantis terasa seperti sebuah risiko. Ia tidak bisa sembarangan mencium seseorang, bahkan untuk menunjukkan kasih sayang. Di sisi lain, Seo-won sebenarnya bukan orang yang tidak peduli.

Ia hanya memiliki trauma yang membuatnya sulit merasa aman ketika berhadapan dengan anjing. Bukankah dalam kehidupan nyata kita juga sering seperti itu?

Ada orang yang sulit percaya kepada pasangan karena pernah dikhianati. Ada yang memilih tidak memulai hubungan karena melihat kegagalan hubungan orang-orang terdekatnya. Ada pula yang selalu menganggap dirinya tidak cukup baik untuk dicintai, sehingga memilih pergi sebelum orang lain sempat meninggalkannya.

Kita sering menyebutnya sebagai sikap terlalu berhati-hati. Padahal, bisa jadi itu adalah cara seseorang melindungi diri dari rasa sakit yang pernah dialaminya.

Menurut saya, ini menjadi pengingat bahwa hubungan yang sehat bukan berarti dua orang tidak memiliki masalah. Justru, hubungan yang baik memberi ruang bagi keduanya untuk bertumbuh tanpa harus berpura-pura bahwa mereka selalu baik-baik saja.

Namun, memahami seseorang juga bukan berarti kita harus menjadi penyelamatnya. Kita boleh mendampingi orang lain menghadapi traumanya, tetapi proses penyembuhan tetap membutuhkan kemauan dan usaha dari orang itu sendiri.

Cinta bisa memberikan keberanian, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan seseorang berusaha pulih. Di luar kisah pasangan utamanya, kehadiran Lee Bo-gyeom dan cerita masa lalu para karakter menambahkan konflik yang lebih kompleks.

Meski begitu, menurut saya bagian fantasi dan kisah masa lalunya terkadang membuat alur terasa cukup padat. Beberapa konflik membutuhkan perhatian ekstra agar hubungan antarkarakter dan alasan di balik tindakan mereka bisa dipahami dengan baik.

Meski demikian, A Good Day to Be a Dog tetap menyenangkan untuk ditonton, terutama bagi pencinta romansa ringan dengan premis yang tidak biasa. Chemistry para pemainnya membuat kisah Hae-na dan Seo-won terasa manis, sementara unsur komedinya membantu menjaga cerita agar tidak terlalu serius.

Pada akhirnya, drama ini membuat saya berpikir bahwa jatuh cinta bukan sekadar menemukan seseorang yang membuat kita bahagia. Ada kalanya, jatuh cinta juga berarti berani menghadapi bagian diri yang selama ini kita sembunyikan.

Kita tidak harus langsung sembuh dari semua luka untuk layak dicintai. Kita juga tidak perlu memaksakan diri menjadi berani dalam semalam. Yang terpenting adalah kemauan untuk mengenali ketakutan kita, belajar menghadapinya, dan tidak membiarkannya terus-menerus menentukan pilihan hidup.

Karena mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari seseorang yang bisa membuat kita merasa aman, sampai lupa bahwa kita perlu belajar membangun rasa aman di dalam diri sendiri. Siapa tahu, ketika kita mulai berdamai dengan ketakutan itu, sesuatu yang selama ini terasa mustahil justru menjadi awal dari hari yang lebih baik.