Membaca buku kumpulan cerpen Cemong seperti melakukan perjalanan ke banyak tempat tanpa beranjak dari kursi. Kita bisa diajak mengunjungi negeri yang terasa jauh, menyusuri kampung yang akrab dengan kenangan, hingga memasuki ruang-ruang batin manusia yang terkadang sulit dijelaskan dengan logika.
Di balik cerita-ceritanya yang beragam, tersimpan kegelisahan, kerinduan, dan pertanyaan tentang kehidupan yang terasa dekat dengan pengalaman kita sehari-hari.
Setelah menuntaskan buku karya Ida Fitri ini, saya merasa Cemong bukan sekadar kumpulan cerita pendek untuk mengisi waktu luang. Buku ini menawarkan pengalaman membaca yang mengajak kita berhenti sejenak, memikirkan sesuatu yang selama ini terlewat, lalu mencoba memahami manusia dari sudut pandang yang berbeda.
Ida Fitri tidak selalu menyampaikan pesan melalui cerita yang berjalan lurus dan mudah ditebak. Sesekali, ia membawa pembaca memasuki wilayah surealis, tempat kenyataan dan imajinasi seolah bertukar posisi. Justru di situlah letak daya tariknya.
Judul-Judul yang Memancing Rasa Penasaran
Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah pilihan judul dalam buku ini. Judul bukan sekadar penanda sebuah cerita, melainkan pintu masuk yang memancing rasa penasaran pembaca. Hal tersebut juga disoroti oleh Reni Erina, jurnalis dan penikmat literasi, dalam testimoninya.
"Daya tarik sebuah cerita tentu saja ada di judul. Dan kumcer ini memiliki judul-judul yang memikat dan kuat."
Pernyataan tersebut terasa relevan setelah saya membaca beberapa cerita di dalamnya. Judul-judul yang disajikan tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga menjadi jalan untuk memasuki dunia rekaan Ida Fitri yang penuh kemungkinan.
Dalam buku ini, pembaca tidak selalu memperoleh cerita yang jawabannya langsung tersedia di depan mata. Beberapa kisah justru mengundang kita untuk menafsirkan sendiri makna di balik peristiwa, tokoh, dan latar yang digunakan.
Bagi saya, pengalaman semacam ini membuat membaca terasa lebih hidup. Kita tidak hanya mengikuti jalan cerita, tetapi juga ikut bekerja melalui imajinasi dan penafsiran.
Ketika Realitas Bertemu dengan Dunia Imajinasi
Salah satu kekuatan Cemong terletak pada cara Ida Fitri memadukan unsur realis dengan pendekatan surealis. Kurnia Effendi, penulis cerpen dan puisi, menyoroti keistimewaan tersebut. Menurutnya, Ida bukan penulis urban dan banyak mengangkat persoalan Aceh, tetapi memiliki pendekatan yang berbeda dari cerpenis Aceh lainnya. Ia menggarap "gaya surealis dalam cerita realis".
Bagi pembaca yang terbiasa dengan cerita beralur sederhana, pendekatan ini mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian. Namun, justru di situlah keseruannya. Kehidupan manusia memang tidak selalu berjalan sesuai dengan nalar. Hal-hal yang terlihat biasa terkadang menyimpan keanehan, sedangkan peristiwa yang terdengar mustahil bisa menjadi jalan untuk memahami kenyataan.
Dalam pengantar penulis, Ida Fitri menyampaikan gagasan yang menarik.
"Dalam sesuatu yang realis selalu ada yang tak realis."
Ungkapan ini menjadi salah satu kunci untuk memahami karakter buku ini. Dunia nyata tidak selalu sesederhana yang terlihat. Di balik peristiwa sehari-hari, tersimpan pengalaman batin, ketimpangan, dan berbagai hal yang tidak mudah dijelaskan.
Saya melihat pendekatan ini membuat Cemong menawarkan pengalaman membaca yang berbeda. Ida tidak sekadar mengajak kita melihat apa yang terjadi, tetapi juga mempertanyakan apa yang mungkin tersembunyi di baliknya.
Seraut Wajah Berbingkai Pohon: Mimpi Berhadapan dengan Kegilaan Perasaan
Di antara cerita yang meninggalkan kesan, bertajuk Seraut Wajah Berbingkai Pohon. Cerita ini membawa pembaca ke bekas reruntuhan kuil Wat Mahatthat di Ayutthaya, Thailand. Di tempat tersebut, seorang gadis bernama Solada Budiharjo meluapkan kemarahannya kepada patung kepala yang berada di antara akar pohon besar.
Solada berkata, "Untuk ini aku melupakan mimpiku kuliah di Harvard. Ya Tuhan, kegilaan macam apa yang terjadi padaku." (hlm. 11)
Kutipan tersebut memperlihatkan pergulatan batin seorang tokoh yang merasa telah mengorbankan impiannya untuk sesuatu yang sulit ia terima dengan akal sehat. Kemarahannya bukan hanya ditujukan kepada objek di hadapannya, tetapi juga seolah menjadi bentuk protes terhadap dirinya sendiri.
Saya tertarik pada pertentangan yang dibangun dalam penggalan cerita ini. Di satu sisi, Harvard melambangkan impian besar, pendidikan, dan masa depan yang telah dibayangkan. Di sisi lain, kehadiran patung kepala di antara akar pohon menjadi bagian dari pengalaman yang mengguncang emosi Solada.
Pembaca tidak harus menafsirkan cerita ini secara harfiah. Adegan tersebut juga bisa dibaca sebagai gambaran tentang manusia yang terjebak dalam konflik antara keinginan pribadi, perasaan, dan keputusan hidup.
Bagi generasi muda, persoalan semacam ini terasa relevan. Kita hidup pada masa ketika pendidikan, karier, pencapaian, dan cita-cita sering menjadi tolok ukur keberhasilan. Namun, perjalanan meraih impian tidak selalu berjalan mulus. Terkadang, manusia harus berhadapan dengan perasaan, hubungan, atau pilihan yang membuatnya mempertanyakan arah hidup sendiri.
Melalui cerita ini, pembaca diajak menyadari bahwa manusia bukan sekadar makhluk rasional. Perasaan dapat memengaruhi keputusan, bahkan ketika keputusan tersebut bertentangan dengan rencana yang telah disusun matang-matang.
Kota Tanpa Kenangan: Kampung Halaman yang Kehilangan Jiwanya
Cerita lain yang menarik perhatian saya adalah Kota Tanpa Kenangan. Kisah ini mengikuti Sam yang pulang ke Jentaka setelah lima tahun disibukkan oleh pekerjaan sebagai manajer penjualan di Jakarta.
Kepulangan Sam semula dipenuhi harapan sederhana, yaitu menikmati kembali aroma jagung bakar Pulosari, mengingat rasa apel hijau yang tumbuh di pohon, dan mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan kenangan masa lalu.
Namun, suasana yang ia temui justru berbeda. Orang-orang yang berpapasan dengannya tampak murung. Ketika Sam mencari tahu apa yang terjadi, seorang lelaki tua memberikan jawaban yang mengusik perasaannya.
"Jentaka sudah berubah, Le."
Ketika Sam bertanya tentang perubahan itu, lelaki tua tersebut menjawab, "Semuanya Bahkan kenangan pun sudah lenyap seperti tertelan bumi." (hlm. 26)
Menurut saya, penggalan ini merupakan salah satu bagian yang paling kuat secara emosional. Perubahan kota tidak hanya digambarkan melalui bangunan atau suasana fisik, tetapi juga melalui hilangnya sesuatu yang lebih sulit diukur, yakni kenangan dan ikatan emosional masyarakat terhadap tempat tinggalnya.
Kita tentu pernah merasakan bagaimana sebuah tempat menyimpan kenangan tertentu. Warung kecil di pinggir jalan, lapangan tempat bermain semasa kecil, pohon di halaman rumah, atau jalan yang biasa dilewati bersama teman-teman bisa memiliki arti yang jauh lebih besar daripada bentuk fisiknya. Ketika tempat-tempat itu berubah atau menghilang, kita mungkin merasa kehilangan sebagian dari diri sendiri.
Cerita ini juga terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Pembangunan, perubahan gaya hidup, dan perkembangan teknologi membuat lingkungan bergerak begitu cepat. Kota dan desa terus berubah, sementara manusia sering kali terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa merawat ingatan dan hubungan dengan tempat asalnya.
Bagi generasi muda yang merantau untuk kuliah atau bekerja, Kota Tanpa Kenangan dapat menjadi pengingat bahwa kampung halaman bukan hanya titik di peta. Di sana terdapat cerita keluarga, pengalaman masa kecil, bahasa, tradisi, dan orang-orang yang turut membentuk siapa diri kita hari ini.
Aceh, Desa, dan Perjalanan Menyelami Kehidupan Manusia
Kekhasan Cemong juga terlihat dari penggunaan latar geografis dan penggambaran kehidupan masyarakat. Herman RN, cerpenis, menggambarkan pengalaman membaca buku ini seperti perjalanan yang membawa pembaca berpindah-pindah antara negeri rekaan dan lingkungan yang terasa akrab.
Sementara itu, Jamil Massa menilai penggunaan nama-nama geografis dalam cerita Ida Fitri seolah mengajak pembaca melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Namun, perjalanan itu tidak berhenti pada ruang geografis. Pembaca justru diajak masuk lebih jauh ke dalam jiwa manusia.
Pandangan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa latar tempat dalam sebuah cerita bukan sekadar dekorasi. Sebuah kota, desa, atau bangunan bersejarah dapat menjadi jalan untuk memahami perasaan, ingatan, dan pergulatan tokoh.
Dalam pengantar bukunya, Ida Fitri juga menyampaikan harapan agar cerita-cerita berlatar desa dapat menjadi obat rindu bagi pembaca yang memiliki kenangan tentang kehidupan kampung. Sementara itu, cerita berlatar kota menjadi ruang bagi imajinasi untuk berkembang.
Bagi saya, gagasan ini terasa akrab dengan pengalaman banyak orang Indonesia. Kita mungkin berasal dari desa, tumbuh di kota kecil, atau kini tinggal jauh dari tempat kelahiran. Apa pun latar belakangnya, setiap orang memiliki kenangan yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia.
Maka karena itulah, meskipun buku ini memiliki kedekatan dengan Aceh, persoalan yang diangkatnya tidak harus berhenti pada batas wilayah tersebut. Kerinduan, kehilangan, ambisi, dan pencarian makna merupakan pengalaman manusia yang dapat dipahami pembaca dari berbagai latar belakang.
Relevan bagi Generasi Muda: Belajar Membaca Kehidupan dengan Lebih Peka
Di tengah kebiasaan mengonsumsi konten singkat melalui media sosial, membaca kumpulan cerpen seperti Cemong menawarkan pengalaman yang berbeda. Pembaca diajak meluangkan waktu untuk memahami tokoh, mengikuti suasana, serta menafsirkan makna yang tidak selalu disampaikan secara langsung. Buku ini relevan bagi generasi muda setidaknya dalam tiga hal.
Pertama, melatih kepekaan terhadap pengalaman orang lain. Setiap tokoh memiliki persoalan dan cara pandang yang berbeda. Dengan mengikuti perjalanan mereka, pembaca dapat belajar bahwa tidak semua orang menghadapi kehidupan dengan cara yang sama.
Kedua, mengembangkan keberanian untuk berpikir kritis. Pendekatan surealis yang digunakan Ida Fitri membuka ruang bagi berbagai penafsiran. Pembaca tidak harus menerima setiap peristiwa secara mentah, tetapi dapat mempertanyakan simbol, konflik, dan pesan yang disampaikan.
Ketiga, mengajak kita menghargai kenangan dan lingkungan. Cerita seperti Kota Tanpa Kenangan mengingatkan bahwa kemajuan tidak semestinya membuat manusia kehilangan hubungan dengan akar kehidupannya. Masa depan memang perlu diperjuangkan, tetapi masa lalu juga menyimpan pelajaran yang tidak boleh diabaikan.
Lebih dari itu, buku ini mengajak pembaca mengenali diri sendiri. Gagasan tersebut sejalan dengan pengantar Ida Fitri yang menyebut menulis sebagai salah satu seni untuk mengenal diri sendiri. Ia menekankan bahwa setiap manusia memiliki hati, tanpa memandang asal daerah atau latar belakangnya.
Bagi saya, gagasan itu menjadi salah satu pesan paling penting dalam buku ini. Kemampuan memahami orang lain dapat dimulai dari kesediaan mengenali perasaan dan pengalaman diri sendiri.
Identitas Buku
Judul: Cemong
Penulis: Ida Fitri
Penerbit: Basabasi
Cetakan: I, September 2017
Tebal: 184 Halaman
ISBN: 978-602-61246-2-3
Genre: Sastra / Kumpulan Cerpen
Baca Juga
-
ADVAN X1 Neo Resmi Rilis: Ponsel Rp1,7 Jutaan, Usung Android 16 dan NFC
-
Percikan Darah di Bunga Karya Arafat Nur: Cinta Tumbuh di Tengah Perang
-
Huawei Watch GT 7 Resmi Hadir di Indonesia: Dibanderol Mulai Rp4 Juta, Baterai Tahan 21 Hari
-
Setangkai Melati di Sayap Jibril: Sastra Surealis, Spiritualitas, dan Kegelisahan Zaman
-
Samsung Galaxy A27 5G: HP Rp5 Jutaan dengan Snapdragon 6 Gen 3, Apa Saja Kelebihannya?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membaca The Man Who Knew Infinity: Ketika Timur Menggugat Dominasi Barat
-
Review Film Whalefall: Pengalaman Menegangkan Berada di Perut Mamalia Laut
-
The World of Us: Mengkhianati Diri Sendiri Demi Jadi Bagian dari Kelompok
-
Sukses Bawa Manga ke Dunia Nyata, Ini Review Film Sakamoto Days yang Super Absurd dan Pecah!
-
Milirik Berbagai Sudut Pandang Kehidupan dalam Buku Batu-Batu Kelaparan
Terkini
-
Manhwa Aksi Populer Teenage Mercenary Diadaptasi Anime TV, Tayang 2027
-
Jebakan Halusinasi Kemenangan, Mengapa Judi Online Bikin Orang Ketagihan?
-
Lagi Cari HP Murah Rasa Flagship? Itel A300+ adalah Jawabannya
-
Sinopsis Shadows of Desire, Dracin Daniel Zhou dan Zhao Qing di iQiyi
-
4 Sheet Mask Lemon Lokal Buat Hempas Wajah Kusam dan Lelah Akibat Sinar UVA