Diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia pada 2026, novel Dompet Ayah Sepatu Ibu ini menyuguhkan cerita tentang Zenna dan Asrul yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Keduanya memiliki impian sederhana, tetapi untuk mewujudkannya, mereka harus melewati jalan panjang yang penuh kesulitan.
J.S. Khairen meramu persoalan keluarga, pendidikan, cinta, dan bakti kepada orang tua menjadi kisah yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kisah Zenna dan Asrul, saya diajak memahami bahwa di balik kehidupan yang terlihat sederhana, tersimpan perjuangan panjang, pengorbanan, dan cinta keluarga yang tidak selalu terucap lewat kata-kata.
Zenna dan Sepatu yang Menyimpan Kenangan
Zenna merupakan anak keenam dari sebelas bersaudara yang tinggal di lereng Gunung Singgalang. Sejak kecil, ia terbiasa membantu keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sepulang atau sebelum bersekolah, ia membawa jagung rebus untuk dijual. Sepatu yang dikenakannya pun merupakan sepatu bekas peninggalan kakak-kakaknya.
Di tengah kehidupan yang serba terbatas, Zenna memiliki keinginan sederhana, yakni mempunyai sepatu baru. Keinginan itu semakin membekas ketika ayahnya berjanji akan membelikannya sepatu setelah memiliki uang.
Sayangnya, janji tersebut tidak sempat ditepati. Ayah Zenna meninggal dunia ketika putrinya sedang berada di ambang kelulusan SMA. Kepergian sang ayah bukan hanya meninggalkan kesedihan, melainkan juga tanggung jawab besar yang harus dipikul Zenna.
Sebagai anak tengah, ia merasa kurang mendapatkan perhatian. Namun, keadaan justru menuntutnya menjadi dewasa lebih cepat. Kelima kakaknya telah berkeluarga dan belum mampu memberikan banyak bantuan. Sementara itu, adik-adiknya masih membutuhkan biaya sekolah dan ibunya perlu dibantu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Bahkan untuk bermimpi saja, sepupu-sepupunya seakan tak ada batas. Benarlah adanya, kemiskinan membuat bermimpi pun harus tahu diri.” (hlm. 85).
Penggalan ini terasa menyesakkan karena memperlihatkan bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan kekurangan uang. Dalam keadaan tertentu, kemiskinan juga membuat seseorang harus mengukur cita-citanya berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga.
Saya merasa sedih ketika mengikuti perjalanan Zenna. Ia merupakan murid pintar yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keinginan tersebut harus ditunda karena ia tidak ingin mengabaikan kebutuhan adik-adiknya.
Alih-alih menyerah, Zenna memilih bekerja dan menabung. Ia merantau, bekerja di toko, berjualan makanan, serta berusaha mengumpulkan biaya untuk kuliah. Ia ingin membangun kehidupan yang lebih baik tanpa melupakan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
Bagi saya, kekuatan Zenna bukan terletak pada kemampuannya menghadapi semua masalah tanpa menangis, melainkan pada keberaniannya untuk tetap melangkah ketika keadaan tidak berpihak kepadanya.
Asrul dan Dompet Ayah yang Penuh Makna
Jika Zenna berjuang untuk membantu ibu dan adik-adiknya, Asrul menghadapi persoalan keluarga yang tidak kalah berat. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ia merasa perlu ikut bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarganya.
Keadaan berubah ketika ayahnya menikah lagi dan tidak lagi memberikan nafkah secara memadai kepada keluarga pertamanya. Asrul, ibu, dan adik-adiknya harus bertahan dengan segala keterbatasan. Mereka bahkan perlu meninggalkan rumah lama dan menjalani kehidupan yang jauh dari kata nyaman.
Saya cukup tersentuh ketika membaca kisah Asrul semasa kecil. Ia pernah tertinggal kelas karena belum mampu membaca dan menulis dengan baik. Pengalaman itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya untuk membuktikan bahwa dirinya juga mampu belajar dan meraih masa depan.
Perkenalannya dengan koran menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Berawal dari ketertarikan terhadap bacaan, Asrul perlahan-lahan belajar membaca dan memperbaiki kemampuannya. Kegigihan tersebut akhirnya membawanya menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru atau SPG.
Kemampuan menulisnya kemudian berkembang ketika ia bekerja di Harian Semangat. Ia bahkan memperoleh penghasilan dengan membantu teman-temannya menuliskan surat cinta. Uang yang didapat tidak digunakan untuk bersenang-senang, tetapi disisihkan untuk dikirimkan kepada ibunya.
Asrul juga menyimpan keinginan sederhana, yakni membangun rumah yang layak bagi sang ibu. Baginya, kebahagiaan bukan semata-mata tentang keberhasilan pribadi, melainkan juga kesempatan untuk membalas pengorbanan orang yang telah merawatnya.
Judul Dompet Ayah Sepatu Ibu terasa semakin bermakna ketika kita memahami simbol-simbol di dalamnya. Sepatu Zenna mengingatkan saya pada janji ayah yang tidak sempat terpenuhi, sedangkan dompet dalam kisah Asrul menghadirkan kenangan tentang ayah, uang yang terbatas, dan hubungan keluarga yang rumit.
Benda-benda sederhana tersebut menjadi penghubung antara kenangan masa kecil dan perjuangan kedua tokoh untuk memperbaiki kehidupan.
Pertemuan Dua Perjuangan dan Tumbuhnya Cinta
Jalan hidup Zenna dan Asrul akhirnya mempertemukan mereka ketika keduanya berusaha melanjutkan pendidikan di IKIP Padang. Pertemuan tersebut menjadi awal hubungan yang berkembang dari kedekatan, kepedulian, dan pengalaman hidup yang serupa.
Mereka bukan dua orang yang memiliki segalanya. Keduanya justru memahami rasanya kekurangan, menunda keinginan, serta bekerja keras untuk mendapatkan kesempatan yang bagi orang lain mungkin terasa biasa.
Zenna tetap berusaha memperoleh penghasilan melalui pekerjaan dan berjualan makanan. Sementara itu, Asrul terus mengembangkan kemampuannya di dunia jurnalistik. Pendidikan dan pekerjaan menjadi jalan bagi mereka untuk memperbaiki keadaan tanpa meninggalkan keluarga masing-masing.
Hubungan mereka pun tumbuh melalui proses yang tidak selalu mudah. “Hubungan berjalan saat keduanya juga saling berjuang. titik. tidak ada tapi-tapi, tak ada syarat lain.” (hlm. 132).
Bagi saya, pesan tersebut relevan dengan kehidupan anak muda masa kini. Hubungan yang sehat tidak cukup dibangun hanya dengan perasaan suka atau janji manis. Kedua pihak perlu memiliki kemauan untuk bertumbuh, saling mendukung, dan menghadapi persoalan bersama.
Zenna dan Asrul akhirnya menikah setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka memulai kehidupan rumah tangga dengan segala keterbatasan, bahkan sempat tinggal di kamar yang tersedia di kantor tempat Asrul bekerja.
Namun, kehidupan mereka tidak berhenti di situ. Perlahan-lahan, kerja keras dan kesabaran membawa mereka menuju keadaan yang lebih baik. Mereka mampu memiliki rumah sendiri, membangun keluarga, serta memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Zenna juga berhasil membantu adik-adiknya menempuh pendidikan tinggi.
Perjalanan itu mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang secara cepat. Terkadang, seseorang harus bersedia menunda kesenangan demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Saat Doa Orang Tua Menjadi Kekuatan
Di antara bagian yang paling berkesan bagi saya adalah cara novel ini menempatkan orang tua dalam perjalanan hidup anak-anaknya. Hubungan keluarga di dalam cerita tidak digambarkan secara sempurna. Terdapat kekecewaan, pengabaian, kesalahan, dan luka yang tidak mudah disembuhkan.
Asrul dan Zenna sama-sama memiliki persoalan dengan figur ayah. Mereka tumbuh dalam keadaan yang membuat mereka harus belajar mandiri lebih cepat daripada anak-anak seusianya. Meski demikian, pengalaman pahit tersebut tidak sepenuhnya membuat mereka kehilangan kemampuan untuk menyayangi keluarga.
Novel ini mengajak pembaca melihat orang tua sebagai manusia yang juga memiliki kekurangan. Menghormati orang tua bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan mereka, melainkan belajar memahami keadaan sekaligus menyikapinya dengan bijaksana.
“Ibumu punya retak, ayahmu punya retak memaafkan mereka adalah obat segala obat.” (hlm. 184).
Saya menyukai pesan tersebut karena tidak mengajak pembaca menganggap semua kesalahan sebagai sesuatu yang sepele. Sebaliknya, kutipan itu mengingatkan bahwa setiap orang memiliki keterbatasan dan bahwa memaafkan dapat menjadi bagian dari proses berdamai dengan masa lalu.
“Tidak ada yang bisa menggentarkan dinding Sang Maha Pasti selain doa orang tuamu di kala mereka bersujud.” (hlm. 176).
Kalimat tersebut menguatkan nilai spiritual dalam novel. Kerja keras memang penting, tetapi bagi Zenna dan Asrul, perjuangan juga berjalan bersama doa dan harapan ibu mereka.
Bagi saya, bagian ini menjadi pengingat untuk tidak mudah melupakan keluarga ketika kehidupan mulai membaik. Kesuksesan akan terasa lebih berarti ketika kita tetap mengingat orang-orang yang ikut berjuang sejak awal.
Relevansi bagi Generasi Muda Masa Kini
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Dompet Ayah Sepatu Ibu menawarkan pelajaran yang masih sangat relevan bagi generasi muda. Saat media sosial sering memperlihatkan keberhasilan, kemewahan, dan pencapaian orang lain, novel ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki titik awal dan perjalanan yang berbeda.
Tidak semua anak mempunyai kesempatan belajar dengan fasilitas memadai. Tidak semua orang bisa langsung kuliah setelah lulus sekolah. Sebagian harus bekerja terlebih dahulu, membantu keluarga, atau menunda impian karena keadaan ekonomi.
Melalui Zenna dan Asrul, saya belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Pendidikan, keterampilan, kedisiplinan, dan kemauan belajar dapat menjadi bekal untuk memperbaiki masa depan.
Namun, novel ini juga memperlihatkan bahwa anak tidak seharusnya selalu dibebani tanggung jawab keluarga secara berlebihan. Perjuangan Zenna dan Asrul memang menginspirasi, tetapi kisah mereka sekaligus mengajak kita memikirkan pentingnya tanggung jawab orang tua, perencanaan keluarga, serta kesempatan pendidikan yang lebih adil bagi setiap anak.
Bagi anak muda yang sedang merasa tertinggal, novel ini mengingatkan bahwa perjalanan setiap orang tidak harus sama. Menunda kuliah bukan berarti gagal. Memulai pekerjaan dari bawah bukan berarti tidak memiliki masa depan. Selama masih mau belajar dan berusaha, kesempatan untuk berkembang tetap terbuka.
Bagi mereka yang sedang mengalami hubungan kurang harmonis dengan orang tua, kisah ini juga bisa menjadi bahan renungan. Kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki cara berkomunikasi, memahami keadaan, dan menentukan hubungan seperti apa yang ingin dibangun ke depan.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Dari segi penyajian, saya merasa novel ini memiliki sejumlah kelebihan. Pertama, bahasa yang digunakan relatif ringan dan mudah dipahami. J.S. Khairen mampu menyampaikan persoalan kemiskinan, keluarga, dan pendidikan melalui narasi yang tidak terasa terlalu berat. Saya sendiri bisa menuntaskan novel ini dalam waktu sekitar dua hari, meskipun membacanya secara bertahap di sela-sela aktivitas.
Kedua, struktur ceritanya menarik. Episode-episode yang bergantian mengisahkan Zenna dan Asrul membuat pembaca bisa mengikuti kehidupan keduanya dari sudut pandang yang berbeda. Pergantian suasana antara bagian yang mengharukan dan bagian yang lebih ringan juga membuat cerita terasa hidup.
Ketiga, ilustrasi dompet dan sepatu pada sampul terasa sesuai dengan isi cerita. Kedua benda tersebut bukan sekadar pelengkap judul, melainkan simbol kenangan, kehilangan, dan cita-cita yang terus diperjuangkan. Kutipan-kutipan tentang keluarga pada bagian awal bab juga memperkuat pesan moral yang ingin disampaikan penulis.
Selain itu, penggunaan kosakata Minang memberi warna lokal yang khas. Pembaca dapat mengenal suasana kehidupan masyarakat yang menjadi latar cerita, sekaligus merasakan kedekatan budaya dalam percakapan para tokohnya.
Meski demikian, menurut saya, novel ini masih memiliki beberapa kekurangan. Pada bagian tertentu, terdapat kosakata atau kalimat berbahasa Minang yang kurang disertai penjelasan memadai. Bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan bahasa tersebut, situasi ini bisa membuat mereka harus membaca ulang untuk memahami maksud percakapan.
Perpindahan waktu dalam beberapa bagian juga terasa cukup cepat. Perubahan usia atau keadaan tokoh terkadang membuat pembaca perlu lebih teliti mengikuti alur. Penambahan penanda waktu atau transisi yang lebih halus mungkin dapat membantu pembaca menikmati perkembangan cerita dengan lebih nyaman.
Walaupun demikian, kekurangan tersebut tidak menghilangkan kekuatan utama novel ini. Emosi para tokohnya tetap terasa, konfliknya dekat dengan kehidupan, dan pesan moralnya mudah dipahami.
Identitas Buku
- Judul: Dompet Ayah Sepatu Ibu
- Penulis: Jombang Santani Khairen
- Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
- Cetakan: XXXXVI, Januari 2026
- Tebal: 216 Halaman
- ISBN: 978-602-05-3022-2
- Kategori: Fiksi / Novel
Tag
Baca Juga
-
Buku Revolusi Nuklir: Menjelajahi Masa Depan dan Keganjilan Hidup Manusia
-
Laptop REDMI Book 16 2027 Hadir dengan Numeric Keypad,Baterai 72Wh, dan Layar 120Hz
-
Tecno Megabook K15S Resmi di Indonesia, Laptop Ryzen 5 dengan Baterai 70 Wh Seharga Rp8,5 Juta
-
Infinix Note 50S 5G+: Ponsel Wangi dengan Layar 144Hz dan Performa Gesit
-
Gergasi Karya Danarto: Kisah Semut Mengusung Mayat dan Pohon Bermusyawarah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Love of Your Life: Sajikan Kisah Cinta Modern yang Penuh Makna
-
The Vanishing Beauty: Kisah Kebangkitan Wanita dari Badai Pengkhianatan
-
Buku 32 Tahun Menjarah Alam: Membongkar Sejarah Hancurnya Bumi Nusantara
-
Dikenal sebagai Perpustakaan Berjalan, 5 Rekomendasi Buku dari Gawon MEOVV!
-
Nasehat Mbah Kakung yang Reformis: Kritik Tajam di Tengah Kemerosotan Moral
Terkini
-
Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
4 Moisturizer Berbahan Honey Extract Berikan Efek Hidrasi agar Wajah Lembap