Onslaught, film aksi-horor yang disutradarai Adam Wingard dan ditulis Simon Barrett, dirilis secara teatrikal di Amerika Serikat pada 4 September 2026 melalui A24. Film berdurasi 92 menit ini menghadirkan kembali gaya grindhouse dan pengaruh John Carpenter yang khas dari karya-karya Wingard sebelumnya, seperti You’re Next dan The Guest.
Berlatar di sebuah taman trailer terpencil di gurun New Mexico, cerita berpusat pada Celeste Cross (Adria Arjona), seorang mantan penembak jitu Angkatan Darat yang bergulat dengan PTSD dan kehidupan sehari-hari sebagai manajer taman trailer serta ibu tunggal.
Kisah Perjuangan Ibu Bertahan Hidup dari Pembantai
Celeste menjalani kehidupan yang relatif tenang hingga putrinya, Daisy (Blake Kennedy), tiba-tiba ditinggalkan oleh mantan suaminya. Di fasilitas militer rahasia di dekatnya, Dr. Hans Kammler (Dan Stevens), ilmuwan dengan latar belakang terkait Operasi Paperclip, mengembangkan tiga super soldier yang dimodifikasi secara genetik: The Butcher (Alex Pereira), The Cockroach, dan The Crybaby.
Ketika para super soldier tersebut melarikan diri dan mulai menyerang penduduk sipil dengan kekejaman yang sistematis dan tanpa rasa sakit, Celeste terpaksa mengerahkan keterampilan tempurnya untuk melindungi putrinya dan tetangga-tetangganya, termasuk veteran Vietnam Josiah (Reginald VelJohnson) dan polisi lokal Kovacks (Eric Wareheim).
Overall, Onslaught menawarkan pengalaman yang intens dan bergaya visual yang kuat. Wingard dan sinematografer Oren Soffer memanfaatkan pencahayaan neon, kabut gurun, serta skor synth dari Matthew Pusti yang mengingatkan pada karya-karya Carpenter. Efek gore praktis yang berlimpah dan adegan aksi yang cepat menjadi kekuatan utama film ini.
Akan tetapi, menurutku narasinya terasa terfragmentasi antara drama keluarga, konspirasi militer, dan pembantaian, sehingga substansi tematik mengenai industrial-militer kompleks dan trauma perangnya jadi kurang mendalam. Dari data yang kubaca rating kritis berada di kisaran 58–60 persen di Rotten Tomatoes, sementara respons penonton sedikit lebih positif karena elemen aksi yang memuaskan.
Review Film Onslaught
Adria Arjona memberikan penampilan yang solid sebagai tokoh utama yang tangguh sekaligus rentan. Ia berhasil menampilkan sisi maternal yang hangat di tengah kekerasan ekstrem. Dan Stevens, yang sebelumnya berkolaborasi dengan Wingard, tampil berlebihan namun menghibur sebagai ilmuwan gila, sementara Rebecca Hall sebagai istrinya menambahkan nuansa yang lebih gelap dan manipulative. Kehadiran Michael Biehn dan Reginald VelJohnson memberikan nuansa nostalgia yang tepat bagi penggemar film aksi 1980-an.
Onslaught telah dirilis secara digital untuk disewa dan dibeli di platform-platform utama, termasuk Amazon Video, sejak 6 Oktober 2026. Hingga saat ini, film ini tersedia untuk disewa di Amazon Video di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Salah satu adegan aksi paling menegangkan terjadi ketika para super soldier menyerbu taman trailer pada malam hari. Mereka bergerak dengan ketahanan luar biasa terhadap peluru, menghancurkan dinding trailer, dan membantai penduduk dengan metode yang dingin serta mekanis—memotong tubuh, menembus jendela, dan menghasilkan efek gore yang visual dan mengerikan.
Ketegangan mencapai puncaknya saat Celeste memanfaatkan posisi sniper-nya di bawah tekanan waktu, sementara putrinya berada dalam bahaya langsung. Rangkaian adegan ini, yang berlangsung dengan tempo tinggi dan skor yang memacu adrenalin, menciptakan rasa terdesak yang hampir tidak memberi ruang bernapas buatku. Adegan pertarungan akhir melawan The Butcher, yang menggabungkan adu fisik tanpa senjata dan alat-alat improvisasi, kian memperpanjang suasana intens tersebut.
Adegan paling dramatis muncul dalam interaksi antara Celeste dan Daisy, khususnya ketika trauma PTSD Celeste muncul melalui kilas balik hitam-putih yang kontras. Momen di mana Celeste harus menenangkan putrinya di tengah kekacauan, sambil menyembunyikan rasa takutnya sendiri, memberikan bobot emosional yang kuat.
Cerita singkat tentang pengalaman tinju di masa dinas yang diceritakan Celeste kepada Daisy juga menjadi titik dramatis yang menghubungkan masa lalu dengan perjuangan masa kini, menekankan tema pengorbanan ibu dan ketahanan manusia di tengah kekerasan sistemik.
Onslaught berhasil sebagai hiburan bergenre yang berdarah dan bergaya, meski tidak sepenuhnya memenuhi potensi tematiknya. Buat kamu penggemar aksi-horor bergaya retro dan penampilan Arjona yang penuh tenaga, film ini layak ditonton. Dengan durasi yang ringkas dan fokus pada mayhem visual, ia memberikan pengalaman yang langsung dan memuaskan, meskipun lebih mengutamakan gaya daripada kedalaman naratif. Rating pribadi: 7.8/10.
Baca Juga
-
Ulasan Film Dendam Arwah Penari: Sajian Horor Mistis Budaya yang Mencekam!
-
Review MobLand Season 1: Ketegangan Maksimal dalam Kisah Mafia Modern!
-
Lagi Tayang! Review Film Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki, Horor Jepang yang Mengusik Pikiran
-
Review Film Street Fighter: Kembalinya Turnamen Bela Diri Paling Ikonik!
-
Ulasan Film Aplikasi Iblis: Horor Digital Menakutkan Buatan Dimas Anggara
Artikel Terkait
Ulasan
-
Tadabbur Novel Pareidolia: Hidup Sejatinya adalah Permainan dan Senda Gurau
-
The Little Polka Dot: Kisah Manis tentang Keberanian Menjadi Diri Sendiri
-
Review Djamin Setia Selamanya: Cinta dan Perjuangan yang Terlalu Padat
-
Novel Ghosting Writer: Ketika Popularitas Dibalap oleh Pesaing Misterius
-
Review The Good Son: Thriller Psikologis yang Siap Mengacaukan Pikiranmu
Terkini
-
Kebijakan Publik Bukan Tempat untuk Bereksperimen dengan Nasib Rakyat
-
Dilema Kebijakan Pangan: Mengapa Diversifikasi Pangan Belum Jadi Kebiasaan?
-
Tren Bahasa Gen Z: Campur Aduk, Makin Asyik, atau Malah Bikin Pusing?
-
Sinopsis Crash 2: Debut Akting Jisung NCT, Tayang 16 November 2026
-
Lawan Productivity Guilt: Saat Istirahat Akhir Pekan Dianggap Dosa