Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Beware Boiúna (IMDb)
Ryan Farizzal

Beware Boiuna (2026) merupakan film horor monster yang disutradarai Mike P. Nelson, dengan skenario Alan B. McElroy berdasarkan cerita Tony Giglio dan McElroy. Film ini dibintangi Kiana Madeira sebagai Lena, Jessica Rothe sebagai Alli, dan Logan Marshall-Green sebagai Brennan Malloy. Berdurasi 104 menit, film ini memadukan elemen survival thriller dengan mitologi Amazon, khususnya legenda Boiúna atau Cobra Grande, seekor ular raksasa yang dianggap penjaga sungai dan hutan.

Perjuangan Hidup dan Pengorbanan Tragis di Hutan Amazon

Salah satu adegan di film Beware Boiúna (IMDb)

Cerita mengikuti misi kemanusiaan sekelompok dokter yang menavigasi Sungai Curuçá di pedalaman Amazon untuk memberikan bantuan medis kepada desa-desa tepi sungai. Kapten kapal Raúl dan putri angkatnya, Lena, yang sekaligus mekanik kapal, ikut serta dalam perjalanan tersebut. Lena memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari saudaranya, Jorge, yang hilang setelah mendokumentasikan kegiatan penambangan ilegal.

Konflik manusia muncul ketika mereka bertemu dengan tim survei yang dipimpin saudara Brennan dan Shawn Malloy, yang mencari area potensial untuk pengembangan. Insiden kekerasan yang melibatkan Shawn memicu pengejaran, mendorong kelompok dokter memasuki wilayah yang lebih berbahaya. Kehadiran manusia di kawasan terlarang itu membangkitkan Boiúna, predator purba yang memandang mereka sebagai ancaman terhadap keseimbangan alam.

‎Nelson memilih pendekatan yang lebih serius dibandingkan film ular raksasa klasik seperti Anaconda. Alih-alih mengandalkan humor atau elemen camp, film ini menekankan ketegangan atmosferik, ketakutan terhadap lingkungan, dan tema ekologi. Boiúna digambarkan bukan sekadar monster, melainkan kekuatan alam yang menentukan siapa yang boleh hidup di wilayahnya.

Sinematografi Nick Junkersfeld menangkap keindahan sekaligus kengerian hutan Amazon dengan baik, meskipun beberapa adegan malam hari dan penggunaan kamera yang goyang membuat visual ular sering terasa kabur atau hanya terlihat sebagian. Efek praktikal pada adegan kematian memberikan dampak yang kuat, sementara efek visual ular raksasanya kurasa cukup membuatku aku tegang selama filmnya berlangsung.

Review Film Beware Boiúna

Salah satu adegan di film Beware Boiúna (IMDb)

Menurut data yang kulihat di Rotten Tomatoes, film ini memperoleh skor sekitar 58 persen berdasarkan puluhan ulasan, dengan rata-rata 5,6 dari 10. Metacritic memberinya skor 49 dari 100, yang menandakan ulasan rata-rata.

Bisa kubilang penampilan Madeira dan Rothe cukup meyakinkan sih, serta cara film ini memperlakukan Boiúna sebagai ancaman yang menyerupai hiu dalam Jaws—jarang diperlihatkan secara utuh namun tetap menakutkan. Kritik utamaku mencakup tempo yang terasa lambat di bagian tengah, kurangnya penampakan ular secara jelas, dan kecenderungan film untuk terlalu serius sehingga mengorbankan hiburan murni genre creature feature.

‎Di Indonesia, film ini mendapat klasifikasi usia 13 tahun ke atas dari Lembaga Sensor Film dan resmi tayang di bioskop mulai 16 Oktober 2026. 

‎Salah satu adegan paling menegangkan terjadi saat Boiúna menyerang kelompok di dermaga dan kemudian mengejar kapal. Setelah beberapa anggota tim disandera dan terjadi kekacauan, ular raksasa itu muncul dengan cepat, menewaskan sejumlah orang dalam waktu singkat, termasuk menyeret Raúl dan membalikkan kapal.

Ketegangan memuncak ketika Alli dan Lena terlempar ke air. Suara Alli yang memanggil Lena justru menarik perhatian Boiúna, yang kemudian menelan Alli di depan mata Lena. Adegan ini efektif karena menggabungkan kejutan visual, kekerasan fisik yang mentah, dan perasaan ketidakberdayaan di tengah aliran sungai gelap. Penggunaan suara dan gerakan ular yang sebagian besar hanya terlihat sekilas memperkuat rasa takut terhadap sesuatu yang jauh lebih besar daripada manusia.

‎Adegan paling dramatis hadir di akhir film, ketika Lena yang kelelahan berhadapan langsung dengan Boiúna di lokasi penambangan. Setelah upaya menjebak ular gagal dan Brennan mencoba menyerang dengan gergaji mesin sebelum akhirnya menjadi korban, Lena berdiri menatap Boiúna tanpa perlawanan lebih lanjut. Ular itu menatap balik, lalu memutuskan untuk meninggalkannya. Momen saling tatap ini menjadi puncak emosional sekaligus tematik.

Lena tidak mengalahkan monster; ia diterima atau setidaknya ditoleransi oleh kekuatan yang mewakili hutan. Keputusan Lena kemudian bergabung dengan kelompok saudaranya yang melawan penambangan ilegal memberikan penutup yang pahit sekaligus bermakna, menegaskan bahwa manusia yang memilih berpihak pada alam mungkin masih memiliki tempat.

‎Overall, Beware Boiúna berhasil menghadirkan creature feature yang lebih berbobot secara tematik daripada banyak film sejenis. Kekuatannya terletak pada karakterisasi Lena yang berkembang, tema tentang campur tangan manusia di ekosistem yang rapuh, dan beberapa momen serangan yang intens.

Kelemahannya terletak pada penampilan ular yang kurang memuaskan secara visual dan irama cerita yang tidak selalu konsisten. Buat kamu yang menghargai horor survival dengan latar mitologi dan pesan ekologi, film ini layak ditonton di bioskop dan buat kamu mengharapkan tontonan ular raksasa yang spektakuler dan penuh aksi, hasilnya mungkin terasa kurang memuaskan.

‎Dengan durasi sekitar 104 menit dan pendekatan yang serius, film ini menawarkan pengalaman yang menegangkan di beberapa bagian kunci sambil meninggalkan pertanyaan tentang hubungan manusia dengan alam yang lebih besar daripada sekadar monster yang harus dikalahkan. Rating pribadi: 7/10.