Kematian sering kali meninggalkan lebih banyak hal daripada sekadar kehilangan seseorang. Ada rumah yang harus dibereskan, barang-barang yang tidak lagi memiliki pemilik, serta berbagai jejak kehidupan yang perlahan ditemukan setelah seseorang pergi. Hal inilah yang menjadi pintu masuk buku Things Left Behind karya Kim Sae Byoul dan Jeon Ae Won. Alih-alih menghadirkan kisah rekaan dengan tokoh dan konflik fiktif, buku ini merupakan kumpulan pengalaman nyata yang memperkenalkan pembaca pada dunia trauma cleaning atau pekerjaan membersihkan lokasi dan tempat tinggal orang yang telah meninggal.
Kim Sae Byoul membagikan pengalamannya selama lebih dari satu dekade menjalani pekerjaan tersebut. Ia menangani berbagai tempat dengan kondisi dan latar belakang kematian yang berbeda, mulai dari kematian karena faktor alami hingga bunuh diri dan tindak kriminal.
Setiap ruangan yang dimasukinya menyimpan cerita tersendiri. Tugasnya bukan hanya menghilangkan sisa-sisa yang ditinggalkan oleh kematian, tetapi juga berhadapan dengan kehidupan seseorang melalui benda-benda yang pernah mereka gunakan.
Menariknya, pengalaman Kim Sae Byoul kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi bagi drama Korea Move to Heaven. Namun, membaca buku ini memberikan pengalaman yang berbeda karena pembaca dapat menyaksikan langsung sisi reflektif dari pekerjaan tersebut melalui pengalaman orang yang menjalaninya.
Salah satu hal yang paling menyentuh adalah kisah tentang orang-orang yang menjalani hidup dalam kesendirian. Beberapa di antaranya, terutama mereka yang telah lanjut usia, meninggal tanpa segera diketahui oleh keluarga maupun lingkungan sekitar.
Jasad mereka bahkan baru ditemukan setelah berhari-hari atau berminggu-minggu. Dari kondisi tersebut, buku ini memperlihatkan bahwa kesepian bukan sekadar perasaan tidak memiliki teman, tetapi dapat menjadi bentuk keterasingan yang begitu dalam hingga keberadaan seseorang nyaris tidak disadari.
Benda-benda yang ditemukan di dalam rumah kemudian menjadi semacam potongan puzzle kehidupan. Sebuah barang sederhana dapat menyimpan kenangan, harapan, penyesalan, atau hubungan yang pernah dimiliki seseorang. Dari benda-benda itulah pembaca diajak menyadari bahwa setiap manusia meninggalkan cerita, bahkan ketika mereka sudah tidak dapat menceritakannya sendiri.
Saya sendiri tertarik membaca buku ini terutama karena gagasannya tidak biasa dan berasal dari pengalaman nyata. Saya penasaran bagaimana seseorang yang bekerja sebagai trauma cleaner melihat kematian, kehilangan, dan kehidupan dari sudut yang mungkin tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Dengan ketebalan sekitar 220 halaman, buku ini terasa mudah diikuti dan tidak membuat saya kehilangan minat karena setiap kisah membawa renungan yang berbeda.
Setelah menutup halaman terakhir, saya justru merasa benda-benda peninggalan dalam buku ini berbicara lebih banyak tentang kehidupan daripada kematian. Kisah-kisah tersebut membuat saya semakin memahami pentingnya memperhatikan orang-orang di sekitar, baik keluarga maupun tetangga. Kepedulian sederhana mungkin terlihat kecil, tetapi bagi seseorang yang hidup dalam kesendirian, perhatian itu bisa memiliki arti yang besar.
Buku ini juga tidak memaksa pembacanya untuk segera bangkit dari kesedihan. Duka memiliki waktunya sendiri, dan ketidakmampuan untuk langsung melupakan seseorang bukanlah sesuatu yang perlu disalahkan. Kehilangan perlu diterima secara perlahan, dengan segala luka dan kenangan yang menyertainya.
Pada akhirnya, Things Left Behind mengajak kita memandang waktu dengan lebih sadar. Kehidupan begitu mudah berubah, sementara benda-benda yang kita anggap biasa dapat menjadi peninggalan terakhir yang mengabadikan keberadaan kita. Karena itu, ada baiknya kita berhenti terlalu lama terjebak dalam penyesalan masa lalu dan mulai memberikan perhatian lebih besar kepada hari yang sedang dijalani.
Ada pula pelajaran tentang ego. Sebagian orang memilih menyimpan kesulitan seorang diri karena enggan meminta pertolongan. Padahal, membuka diri dan menerima bantuan bukan tanda kelemahan. Justru dengan berani mengakui bahwa kita membutuhkan orang lain, beban yang berat mungkin dapat terasa sedikit lebih ringan.
Pada akhirnya, Things Left Behind bukan sekadar buku tentang orang-orang yang telah meninggal. Buku ini justru berbicara kepada mereka yang masih hidup tentang kesepian, kepedulian, duka, kerendahan hati, dan pentingnya menghargai setiap kesempatan untuk menjalani kehidupan.
Identitas Buku
Judul: Things Left Behind: Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada
Penulis: Kim Sae Byoul
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020657516
Baca Juga
-
Ulasan Mini Series Carrie: Ketika Perundungan Digital Membangkitkan Teror
-
It Didn't Start with You: Menelusuri Luka Keluarga yang Membentuk Diri Kita
-
Toko Manisan Ajaib Amberglow, Kisah Hangat tentang Luka Hati dan Keberanian untuk Pulih
-
What I Talk About When I Talk About Running: Pelajaran tentang Disiplin dan Ketekunan
-
Ulasan Film Suspect X: Ketika Cinta dan Logika Berakhir dalam Tragedi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Once We Were Us: Saat Masa Depan Membawa Cinta ke Arah yang Berbeda
-
Bumantara Bantarangin: Menyelami Dunia Warok, Gemblak, dan Filosofi Jawa
-
Klara dan Sang Matahari: Misi sebuah Robot Mengubah Kehidupan seorang Gadis
-
Ulasan Mini Series Carrie: Ketika Perundungan Digital Membangkitkan Teror
-
East of Eden: Potret Adaptasi Sastra Paling Indah Karya John Steinbeck
Terkini
-
Tecno Spark 50s 5G Meluncur, Layar 120Hz dan Fast Charging 45W Jadi Andalan
-
Cegah Kulit Kering, 4 Cleansing Milk Hyaluronic Acid yang Melembapkan
-
Urgensi Tata Kelola Energi: Mengurai Akar Masalah Kelangkaan BBM yang Lumpuhkan Bali
-
Membongkar Greenwashing: Saat Label Ramah Lingkungan Cuma Jadi Gimik Jualan
-
Hiroshi Tsuchida, Seiyuu Grisha Yeager Attack on Titan, Meninggal Dunia