Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Sejarah kerajaan di Jawa tidak hanya berkisah tentang kebesaran raja dan kejayaan keraton, tetapi juga tentang perebutan pengaruh, kepentingan politik, serta perlawanan daerah terhadap kekuasaan pusat. Salah satu episode penting yang memperlihatkan rumitnya hubungan tersebut terjadi pada masa akhir Kesultanan Mataram, ketika penguasa Madura berusaha melepaskan diri dari dominasi politik Jawa sekaligus memperluas pengaruhnya di wilayah timur.

Persoalan itu dibahas secara mendalam oleh Aminuddin Kasdi dalam buku Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa: Relasi Pusat-Daerah pada Periode Akhir Mataram (1726–1745). Diterbitkan oleh Jendela pada 2003, buku setebal 615 halaman ini mengkaji hubungan politik antara pusat kerajaan Mataram di Kartasura dan penguasa Madura pada periode yang ditandai krisis internal, campur tangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), serta konflik antarfaksi.

Buku ini penting karena mengajak pembaca melihat sejarah bukan semata-mata sebagai pergantian kekuasaan, melainkan sebagai pertarungan kepentingan yang melibatkan birokrasi, sumber daya ekonomi, jaringan keluarga, dan kekuatan militer.

Isi Buku

Dalam pembahasannya, Aminuddin Kasdi menggambarkan Mataram sebagai kerajaan dengan sistem patrimonial-prebendal. Dalam sistem tersebut, kekuasaan raja bertumpu pada jaringan loyalitas, hubungan keluarga, patronase, dan penguasaan jabatan strategis. Birokrasi bukan hanya perangkat administrasi, melainkan juga sarana mengendalikan sumber daya ekonomi dan politik.

Jabatan seperti bupati menjadi penting karena memberikan akses terhadap kekayaan, pengaruh, dan kekuatan manusia di daerah. Akibatnya, perebutan jabatan dapat memunculkan kelompok kepentingan, persaingan elite, dan konflik di lingkungan keraton. Loyalitas kepada raja pun tidak selalu bersifat mutlak, sebab para pejabat juga harus mempertimbangkan kepentingan kelompok dan jaringan yang menopang posisi mereka.

Kondisi Mataram semakin melemah akibat berbagai krisis politik dan ekonomi. Hilangnya basis-basis maritim sejak 1677 membuat kerajaan semakin bergantung pada sumber daya agraris. Pada saat yang sama, campur tangan VOC berkembang seiring melemahnya kemampuan Mataram mempertahankan kemandirian politik dan militernya.

Situasi tersebut menciptakan ruang bagi kekuatan-kekuatan lain untuk memperjuangkan kepentingannya. Konflik yang semula berpusat pada perebutan pengaruh di keraton kemudian berkembang menjadi pertarungan yang melibatkan kekuatan regional dan kepentingan kolonial.

Salah satu tokoh penting dalam buku ini adalah Cakraningrat IV, penguasa Madura yang memiliki ambisi politik besar. Ia berupaya melepaskan diri dari dominasi Mataram, memperluas kekuasaan ke wilayah Jawa Timur, dan memperoleh kedudukan sebagai bawahan langsung VOC.

Ambisi tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Madura dengan Mataram bukan sekadar persoalan kepatuhan daerah terhadap kerajaan pusat. Di baliknya terdapat kepentingan untuk memperoleh otonomi, memperbesar wilayah kekuasaan, serta membangun hubungan politik yang dapat memperkuat posisi penguasa Madura.

Cakraningrat IV memiliki sejumlah modal untuk mewujudkan ambisinya, mulai dari sumber daya ekonomi dan manusia hingga kedudukan genealogis serta jaringan antarkelompok. Namun, kepentingannya tidak selalu sejalan dengan perhitungan VOC. Meskipun semula memperoleh dukungan, VOC pada akhirnya memilih Tirtawiguna sebagai sekutu yang dinilai lebih sesuai dengan kepentingannya.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dalam politik kolonial, dukungan bukanlah ikatan yang selalu didasarkan pada kesetiaan. VOC mempertimbangkan siapa yang paling mampu menjaga kepentingan dagang dan politiknya. Penguasa lokal pun harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kekuatan eksternal dapat memanfaatkan persaingan antarelite untuk memperluas pengaruhnya.

Ketegangan semakin meningkat setelah pecahnya huru-hara Cina di Batavia pada 1740. Pada 1741, pergolakan meluas ke pesisir utara Jawa dan mempertemukan berbagai kekuatan yang menentang VOC. Menjelang pertengahan 1742, konflik telah menjalar ke lingkungan Mataram, termasuk Kartasura. Pakubuwana II sempat mendukung gerakan anti-VOC di tengah tekanan politik dan ancaman terhadap kedudukannya.

Namun, ia kemudian kembali berpihak kepada VOC demi mempertahankan takhta. Perubahan sikap tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya posisi raja ketika harus menyeimbangkan tekanan keraton, kekuatan pemberontak, dan kepentingan kolonial.

Ketika Keraton Kartasura direbut kaum pemberontak pada 30 Juni 1742, krisis itu mencapai titik yang sangat serius. Peristiwa tersebut bukan sekadar gangguan keamanan, melainkan pukulan terhadap kewibawaan pusat kekuasaan Mataram. Persaingan internal dan campur tangan VOC telah menciptakan keadaan ketika legitimasi raja tidak lagi cukup untuk menjamin stabilitas kerajaan.

Kelebihan dan Kekurangan

Melalui kajian sejarah politik ini, Aminuddin Kasdi menunjukkan bahwa perlawanan penguasa Madura harus dipahami dalam konteks yang lebih luas daripada pertentangan antara daerah dan kerajaan pusat. Ada ambisi pribadi, persaingan elite, perebutan sumber daya, dan strategi kolonial yang saling berkelindan.

Buku ini relevan bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana kekuasaan dibangun sekaligus dilemahkan oleh jaringan kepentingan di dalamnya. Meski berfokus pada abad ke-18, persoalan mengenai hubungan pusat-daerah, kemandirian politik, dan campur tangan kekuatan eksternal tetap menawarkan bahan refleksi bagi pembacaan sejarah Indonesia.

Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa memperlihatkan bahwa kemunduran sebuah kerajaan tidak selalu disebabkan oleh serangan dari luar. Ketika persaingan elite menggerogoti institusi, kepentingan daerah berbenturan dengan pusat, dan kekuatan asing memperoleh ruang untuk menentukan arah politik, fondasi kekuasaan dapat melemah dari dalam. Sejarah Mataram dan Madura menjadi pengingat bahwa stabilitas politik sangat bergantung pada kemampuan mengelola kepentingan yang beragam tanpa kehilangan kemandirian.

Identitas Buku

  • Judul: Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa: Relasi Pusat-Daerah pada Periode Akhir Mataram (1726-1745)
  • Penulis: Aminuddin Kasdi
  • Penerbit: Jendela
  • Kota Terbit: Yogyakarta
  • Tahun Terbit: 2003
  • Tebal Buku: xvii + 615 halaman