Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
12.12: The Day (Instagram/holyhaein)
Dian Haerani

Pernahkah kamu melihat seseorang yang begitu ingin berkuasa sampai rela mengorbankan orang lain demi mencapai tujuannya?

Ia tidak harus menjadi orang paling pintar atau paling hebat. Terkadang, ia hanya perlu tahu cara memanfaatkan keadaan, membaca kelemahan orang lain, dan membuat orang-orang di sekitarnya takut untuk melawan.

Gambaran tentang ambisi yang berubah menjadi ancaman inilah yang terasa kuat dalam 12.12: The Day (2023), film Korea Selatan garapan Kim Sung-su yang mengangkat peristiwa kudeta militer pada 12 Desember 1979. Film ini dibintangi Hwang Jung-min, Jung Woo-sung, Lee Sung-min, Park Hae-joon, dan Jung Hae-in.

Cerita dimulai setelah Presiden Park Chung-hee dibunuh pada Oktober 1979. Korea Selatan berada dalam situasi politik yang tidak stabil, sementara pemberlakuan darurat militer membuat keadaan semakin tegang. Di tengah kekosongan kekuasaan tersebut, Jeon Doo-gwang, seorang komandan keamanan militer, melihat kesempatan untuk memperluas pengaruhnya.

Bersama kelompok perwira yang tergabung dalam organisasi rahasia Hanahoe, ia merencanakan kudeta untuk mengambil alih kendali militer. Di sisi lain, Lee Tae-shin, komandan pertahanan ibu kota yang berpegang pada prinsip bahwa militer tidak seharusnya ikut campur dalam perebutan kekuasaan politik, berusaha menghentikan langkah tersebut.

Dari sinilah ketegangan film dibangun. Dalam rentang sekitar sembilan jam, keputusan demi keputusan menentukan arah sejarah. Telepon berdering tanpa henti, perintah saling bertentangan, pasukan bergerak, dan para petinggi militer harus memilih pihak yang akan mereka dukung.

Tidak semua orang bertindak berdasarkan prinsip. Ada yang takut kehilangan jabatan, ada yang menunggu siapa yang akan menang, dan ada pula yang sengaja memanfaatkan kebingungan demi kepentingannya sendiri.

Menurut saya bagian paling menarik dari film ini justru bukan baku tembak atau pergerakan pasukannya, melainkan bagaimana kekuasaan bekerja melalui ketakutan dan keraguan. Jeon Doo-gwang tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata. Ia juga memanfaatkan jaringan pertemanan, loyalitas kelompok, dan kelemahan sistem komando.

Sementara itu, Lee Tae-shin harus berhadapan dengan situasi ketika melakukan hal yang benar belum tentu berarti mendapatkan dukungan. Ia memiliki prinsip, tetapi prinsip saja tidak cukup ketika orang-orang yang seharusnya membantu justru memilih diam.

Hal ini terasa relevan karena dalam kehidupan nyata, ketidakadilan tidak selalu bertahan akibat tidak adanya orang yang mengetahui kebenaran. Terkadang, banyak orang sebenarnya tahu apa yang sedang terjadi, tetapi memilih tidak bertindak karena takut kehilangan sesuatu. Jabatan, keamanan, penghasilan, atau sekadar kenyamanan bisa membuat seseorang menunda keputusan yang seharusnya diambil.

Film ini juga memperlihatkan betapa berbahayanya ketika loyalitas kepada kelompok lebih diutamakan daripada tanggung jawab terhadap kepentingan bersama. Para tokohnya mengenakan seragam yang sama dan seharusnya menjaga negara yang sama, tetapi ambisi pribadi membuat mereka saling berhadapan.

Dari segi penyajian, 12.12: The Day menurut saya berhasil mengubah peristiwa sejarah yang dipenuhi nama, jabatan, dan keputusan militer menjadi tontonan yang menegangkan. Penyutradaraannya membuat penonton seolah ikut terjebak dalam malam panjang tersebut.

Meski begitu, banyaknya tokoh dan istilah militer mungkin membuat sebagian penonton kesulitan mengikuti cerita, terutama jika belum mengenal sejarah politik Korea Selatan. Penampilan Hwang Jung-min sebagai Jeon Doo-gwang menjadi salah satu kekuatan film.

Ia berhasil menghadirkan sosok yang manipulatif dan penuh ambisi tanpa perlu terus-menerus menunjukkan kekerasan secara langsung. Sementara itu, Jung Woo-sung memberikan kontras melalui karakter Lee Tae-shin yang keras kepala dan berusaha mempertahankan prinsipnya, bahkan ketika situasi semakin tidak berpihak kepadanya.

Pada akhirnya, 12.12: The Day bukan hanya film tentang perebutan kekuasaan pada masa lalu. Film ini juga menjadi pengingat bahwa keputusan politik tidak pernah benar-benar berhenti pada orang-orang yang mengambilnya. Dampaknya bisa menjalar ke institusi, masyarakat, dan masa depan sebuah negara.

Yang paling menyesakkan adalah menyadari bahwa sejarah tidak selalu berubah karena orang yang paling benar berhasil menang. Terkadang, sejarah ditentukan oleh siapa yang paling berani mengambil kesempatan, siapa yang memiliki jaringan paling kuat, dan siapa yang memilih mundur ketika seharusnya melawan.

Bagaimana pendapatmu soal film ini?