Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
We Made A Beautiful Bouquet (Instagram/sdmsksugou)
Dian Haerani

Ada masa ketika kita merasa telah menemukan orang yang tepat. Selera musiknya sama, film favoritnya sama, bahkan obrolan tentang hal-hal kecil pun bisa berlangsung berjam-jam tanpa terasa membosankan.

Kita mulai membayangkan masa depan bersama, seolah-olah menemukan seseorang yang memahami kita adalah jaminan bahwa hubungan itu akan bertahan selamanya. Namun, bagaimana jika suatu hari kita ternyata berubah menjadi dua orang yang berbeda, meskipun masih saling menyayangi?

Pertanyaan itulah yang membuat We Made a Beautiful Bouquet (2021) terasa begitu dekat dengan kehidupan nyata. Disutradarai oleh Nobuhiro Doi dan dibintangi Masaki Suda serta Kasumi Arimura, film romantis Jepang ini tidak menawarkan kisah cinta penuh kebetulan ajaib atau konflik yang sengaja dibesar-besarkan.

Sebaliknya, film berdurasi 124 menit ini memperlihatkan sesuatu yang lebih sederhana sekaligus menyakitkan, bagaimana hubungan yang begitu indah perlahan berubah ketika kehidupan mulai menuntut banyak hal dari kedua orang di dalamnya.

Cerita bermula ketika Mugi Yamane dan Kinu Hachiya, dua mahasiswa berusia 22 tahun, sama-sama ketinggalan kereta terakhir di Tokyo. Pertemuan yang tidak direncanakan itu membawa mereka pada percakapan panjang dan penemuan yang menyenangkan.

Mereka ternyata memiliki banyak kesamaan, mulai dari selera musik, film, buku, hingga cara memandang kehidupan. Hubungan mereka berkembang dengan alami. Ada kegembiraan ketika menemukan seseorang yang memahami referensi kecil yang tidak dimengerti orang lain.

Ada pula perasaan menyenangkan saat menyadari bahwa kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain untuk disukai. Mugi dan Kinu pun jatuh cinta, menjalani hari-hari bersama, lalu membangun kehidupan yang terasa sempurna dalam kesederhanaannya.

Bagian awal film menjadi pengingat bahwa jatuh cinta tidak selalu membutuhkan kejadian luar biasa. Terkadang, kebahagiaan justru muncul dari makan bersama, berjalan pulang, berbagi kesukaan, atau menghabiskan waktu tanpa agenda khusus. Film ini mampu membuat rutinitas sederhana terasa romantis karena kita melihat betapa berharganya momen-momen tersebut bagi dua orang yang sedang jatuh cinta.

Namun, waktu terus berjalan. Setelah lulus kuliah, Mugi dan Kinu mulai memasuki dunia kerja. Mereka harus memikirkan penghasilan, tanggung jawab, dan masa depan yang sebelumnya terasa jauh. Perlahan, kehidupan yang dahulu dipenuhi kebebasan mulai dibatasi oleh tuntutan untuk menjadi orang dewasa.

Di sinilah konflik film terasa paling nyata. Perubahan hubungan mereka tidak terjadi karena satu pengkhianatan besar atau pertengkaran dramatis. Jarak itu tumbuh melalui hal-hal kecil seperti kesibukan, kelelahan, perbedaan prioritas, serta cara masing-masing menghadapi kenyataan.

Sesuatu yang dahulu membuat mereka dekat perlahan tidak lagi menjadi pusat kehidupan bersama. Menurut saya, bagian paling menarik dari film ini adalah keberaniannya menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berakhir karena seseorang berhenti menyayangi pasangannya.

Terkadang, dua orang masih memiliki kenangan indah dan kepedulian yang tulus, tetapi mereka mulai menginginkan kehidupan yang berbeda. Perasaan saja tidak selalu cukup untuk menyelesaikan persoalan yang muncul ketika keduanya tumbuh dengan arah masing-masing.

Penampilan Masaki Suda dan Kasumi Arimura membuat perjalanan hubungan tersebut terasa meyakinkan. Keduanya mampu memperlihatkan perubahan emosi melalui percakapan, ekspresi, dan keheningan. Penonton tidak sekadar menyaksikan sepasang kekasih bertengkar, tetapi juga melihat dua individu yang sedang berusaha memahami siapa diri mereka dan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Meski alurnya cukup tenang dan durasinya terasa panjang bagi sebagian penonton, film ini memiliki kekuatan dalam detail keseharian. Tidak semua adegan memberikan kejutan, tetapi justru itulah yang membuat ceritanya terasa seperti potongan kehidupan sungguhan.

Film We Made a Beautiful Bouquet mengajarkan bahwa tidak semua hubungan yang berakhir adalah hubungan yang gagal. Ada orang-orang yang hadir untuk menemani kita melewati bagian penting dalam hidup, memberi kenangan, dan membantu kita mengenal diri sendiri.

Mungkin mereka tidak tinggal selamanya, tetapi itu tidak membuat kebersamaan yang pernah ada menjadi sia-sia. Sebab, seperti bunga dalam sebuah buket, sesuatu bisa terlihat begitu indah meskipun tidak akan selalu segar. Dan terkadang, belajar melepaskan bukan berarti kita menyesali pernah mencintai seseorang.

Justru karena hubungan itu pernah begitu berarti, kita bisa mengenangnya dengan rasa syukur, sekalipun akhirnya harus melanjutkan hidup tanpa orang yang dulu kita bayangkan akan selalu berada di sisi kita. Apakah kamu punya seseorang yang terasa seperti bunga dalam buket juga?