Mengkhatamkan buku kumpulan cerpen Gergasi karya Danarto ini membuat kepala saya digelayuti tanda tanya, mengapa seorang ayah bisa menghilang secara misterius? Bagaimana semut-semut mengusung mayat, pohon-pohon bermusyawarah, dan manusia mengalami kejadian yang melampaui batas kewajaran?
Semakin jauh saya membaca, semakin terasa bahwa kumpulan cerpen ini bukan bacaan yang bisa ditaklukkan sekali duduk.
Sebagai pembaca yang masih terus belajar menikmati sastra, saya mengakui bahwa beberapa cerpen dalam buku ini membuat saya harus berhenti sejenak untuk mencerna maksudnya. Namun, justru di situlah letak daya tarik Gergasi.
Danarto tidak selalu memberikan jawaban secara langsung. Ia membiarkan pembaca berhadapan dengan keanehan, menafsirkan peristiwa, dan menemukan kemungkinan makna berdasarkan pengalaman serta pengetahuan masing-masing.
Cerita yang Berawal dari Keseharian, Lalu Melampaui Nalar
Gergasi merupakan kumpulan cerpen yang menghadirkan dunia surealis dengan sentuhan spiritualitas dan sufisme. Buku ini memuat 13 cerpen yang ditulis Danarto dalam rentang 1987-1992. Cerita-ceritanya tidak terikat pada satu alur besar, melainkan berdiri sebagai kisah-kisah tersendiri yang mempertemukan kehidupan sehari-hari dengan peristiwa yang sulit dijelaskan menggunakan logika biasa.
Dalam buku ini, saya menemukan banyak kejadian yang terdengar mustahil jika diukur dengan pengalaman sehari-hari. Seorang tokoh dapat hadir di beberapa tempat pada saat bersamaan. Seorang ibu bisa menghilang dari sel yang terkunci. Semut-semut membawa mayat dari lubang, sedangkan pohon-pohon seolah memiliki kehendak dan kemampuan untuk bertindak layaknya manusia.
Bagi saya, imajinasi Danarto benar-benar liar, tetapi bukan berarti ceritanya kehilangan daya pikat. Ia mampu merangkai peristiwa ganjil menjadi kisah yang tetap menarik untuk diikuti. Kita mungkin tidak segera memahami maksudnya, tetapi selalu muncul dorongan untuk mengetahui ke mana cerita itu akan membawa kita.
Danarto seperti sengaja menggeser batas antara kenyataan dan khayalan. Ia mengajak pembaca memasuki dunia yang tidak sepenuhnya tunduk pada hukum sebab-akibat sebagaimana yang biasa kita kenal. Karena itu, membaca Gergasi membutuhkan kesediaan untuk tidak buru-buru menghakimi sebuah cerita sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Dinding Ayah dan Keanehan yang Menyimpan Kegelisahan
Di antara cerpen yang memperlihatkan karakter surealis Danarto adalah Dinding Ayah. Dalam kisah ini, sosok Ayah tampil sebagai figur yang memiliki kekuasaan dan kekuatan luar biasa. Ia digambarkan mampu bertindak sewenang-wenang, sementara orang-orang di sekitarnya seolah tidak memiliki keberanian untuk melawan.
“Tak lama antaranya pintu dapur itu pun membuka. Asap menggelayut keluar dapur disapu angin beranda. Terlihat percikan-percikan api di dalam. Ayah muncul. Beliau kelihatan biasa-biasa saja. Wajahnya tampak lecet-lecet berdarah.”
Penggalan tersebut menghadirkan suasana yang ganjil sekaligus mengusik. Di tengah asap, api, dan wajah yang terluka, Ayah justru muncul seolah tidak mengalami sesuatu yang istimewa. Kontras ini memperkuat kesan bahwa dunia yang dibangun Danarto bekerja dengan hukum yang berbeda.
Saya melihat sosok Ayah sebagai salah satu gambaran tentang kekuasaan yang sulit dijangkau oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, tafsir semacam ini tentu bukan satu-satunya kemungkinan. Pembaca lain bisa menemukan lapisan makna berbeda, bergantung pada pengalaman dan sudut pandang masing-masing.
Keistimewaan Danarto terletak pada kemampuannya menyampaikan kegelisahan tanpa harus menjelaskannya secara gamblang. Ia menghadirkan adegan, menyusun suasana, lalu membiarkan pembaca memikirkan sendiri apa yang tersembunyi di baliknya.
Balairung: Sindiran tentang Korupsi dan Kekuasaan
Jika harus memilih cerpen yang paling membekas bagi saya, Balairung menjadi salah satu kandidat terkuat. Cerpen ini menghadirkan Ki Ageng Tjiptowiro, seorang dalang yang berhadapan dengan kekuasaan setelah menyampaikan kritik melalui pertunjukan wayang.
“Korupsi adalah minuman yang bikin ketagihan,” ujar Prabu Kresna sambil menyunggingkan senyumnya yang khas. “Tidaklah penting kaya atau miskin, punya tahta atau rakyat jelata, seseorang akan melakukannya hanya karena ia ketagihan. Sudah nyandu.”
Kutipan ini terasa kuat karena menggambarkan korupsi bukan sekadar persoalan kesempatan atau kebutuhan ekonomi, melainkan juga kebiasaan buruk yang dapat tumbuh menjadi kecanduan. Kekayaan dan kedudukan tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari godaan menyalahgunakan kekuasaan.
Melalui kisah Ki Ageng Tjiptowiro, Danarto juga memperlihatkan persoalan hubungan antara seni, kritik, dan penguasa. Ketika kritik dianggap sebagai ancaman, orang yang menyuarakannya berisiko menghadapi tekanan. Pertunjukan yang seharusnya menjadi ruang ekspresi justru dapat berubah menjadi sumber kecurigaan.
Cerpen ini ditulis pada 1991, ketika Orde Baru masih berkuasa. Latar sejarah tersebut memberikan konteks penting untuk membaca kisahnya, terutama dalam kaitannya dengan kebebasan berekspresi dan respons penguasa terhadap kritik.
Bagi saya, kekuatan Balairung terletak pada relevansinya yang tidak berhenti pada masa ketika cerita itu ditulis. Korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan ketakutan terhadap kritik tetap menjadi persoalan yang layak direnungkan. Kita tidak harus mengalami langsung zaman ketika cerpen ini lahir untuk memahami mengapa kritik terhadap kekuasaan perlu mendapat ruang.
Semak Belukar dan Pelajaran tentang Kehidupan
Berbeda dari Balairung yang sarat dengan sindiran sosial, Semak Belukar menghadirkan keanehan melalui hubungan manusia dengan alam. Cerpen ini berkisah tentang seorang kakek yang memiliki kedekatan dengan semak belukar. Di sana, pembaca berhadapan dengan peristiwa ganjil berupa semut-semut yang membawa mayat dari sebuah lubang.
“Semak belukar itu akhirnya menjadi bagian hidup Kakek yang memberikan semangat dan kesegaran baru. Tiap paginya, dalam shalat Subuh-nya, Kakek tak lupa menyelipkan doa—begitu katanya—bagi semut-semut itu.”
Bagian tersebut membuat saya berpikir tentang cara manusia memandang makhluk lain. Semak belukar yang mungkin dianggap tidak penting oleh sebagian orang justru menjadi bagian berarti dalam kehidupan sang kakek. Bahkan semut-semut kecil mendapat tempat dalam doa yang dipanjatkannya.
Di sinilah saya merasakan nuansa spiritual yang cukup kuat. Hubungan dengan Tuhan tidak hanya ditampilkan melalui ritual, tetapi juga melalui cara seseorang memandang dan memperlakukan makhluk ciptaan-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menempatkan manusia sebagai pusat segalanya. Alam dipandang sebatas sumber daya, sedangkan hewan dan tumbuhan kerap dinilai berdasarkan manfaatnya bagi kepentingan manusia. Cerpen ini membuka ruang untuk mempertanyakan pandangan tersebut.
Tentu, cerita tentang semut yang mengusung mayat tetap berada dalam wilayah fantastik. Namun, melalui peristiwa yang tidak biasa itu, pembaca dapat menemukan pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan nyata, sudahkah kita menghargai kehidupan di sekitar kita?
Spiritualitas yang Tidak Selalu Mudah Dipahami
Salah satu ciri khas Gergasi adalah sentuhan sufisme yang terasa dalam sejumlah cerpennya. Danarto menghadirkan dunia yang membuat batas antara manusia, alam, dan dimensi spiritual terasa lebih lentur. Peristiwa-peristiwa yang mustahil menurut nalar sehari-hari menjadi jalan untuk membicarakan hubungan manusia dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Hal tersebut terasa dalam cerpen Allah Berkenan Mengejawantah, Lusa.
“Jangan-jangan Allah sudah mengejawantah. Hanya saja kita tidak melihat-Nya.” (hlm. 40).
Kutipan ini menjadi salah satu bagian yang paling mengundang perenungan. Ia mengarahkan perhatian pembaca pada kemungkinan bahwa keterbatasan manusia bukan hanya terletak pada apa yang tidak diketahui, melainkan juga pada apa yang tidak mampu dilihat atau disadari.
Saya tidak menganggap kutipan tersebut sebagai penjelasan teologis yang harus diterima secara harfiah. Bagi saya, ia lebih menarik dibaca sebagai pemantik perenungan tentang keterbatasan persepsi manusia dan cara kita memahami kehadiran Tuhan dalam kehidupan.
Danarto memang tidak selalu menyampaikan gagasan spiritual melalui uraian yang mudah dipahami. Ia lebih sering menggunakan simbol, metafora, dan kejadian yang terasa ganjil. Akibatnya, pembaca yang belum akrab dengan istilah atau pemikiran sufistik mungkin perlu mencari referensi tambahan.
Saya sendiri merasakan hal itu. Beberapa kali saya harus berhenti, memikirkan kembali adegan yang baru dibaca, lalu mempertimbangkan kemungkinan maknanya. Ada bagian yang mulai terasa terang setelah direnungkan, tetapi ada pula yang tetap menyisakan tanda tanya.
Bagi saya, pengalaman tersebut tidak otomatis menjadi kekurangan. Membaca karya sastra memang tidak selalu harus berakhir dengan penemuan satu jawaban yang pasti.
Gergasi dan Imajinasi yang Tidak Mau Dikurung
Judul Gergasi menarik untuk direnungkan. Kata ini dapat dipahami sebagai raksasa. Namun, ketika dihubungkan dengan isi buku, saya merasa maknanya bisa dikembangkan lebih jauh sebagai gambaran tentang sesuatu yang tumbuh melampaui ukuran biasa.
Mungkin kita bisa membacanya sebagai simbol dari kekuasaan, hawa nafsu, keinginan, atau sisi manusia yang terus membesar hingga sulit dikendalikan. Akan tetapi, ini merupakan kemungkinan tafsir, bukan makna tunggal yang harus dianggap paling benar.
Imajinasi Danarto memang sering membuat saya kehilangan pijakan. Dalam satu cerita, sesuatu yang mustahil bisa berlangsung tanpa penjelasan panjang. Dalam cerita lain, peristiwa yang awalnya terasa biasa perlahan berubah menjadi pengalaman yang melampaui nalar.
Saya teringat bagaimana Danarto mempertemukan berbagai unsur yang tampaknya tidak mungkin bersanding. Manusia, malaikat, hewan, tumbuhan, benda mati, dan kekuatan yang tak kasatmata dapat masuk ke dalam satu dunia cerita. Batas-batas yang biasanya kita anggap tegas menjadi kabur.
Meski demikian, saya tidak merasa Danarto sekadar bermain-main dengan keanehan. Di balik peristiwa yang sulit diterima secara logis, terdapat persoalan manusia, kekuasaan, hubungan dengan alam, dan pencarian spiritual.
Tentu, tidak semua cerpen dalam buku ini langsung berhasil saya pahami. Ada bagian yang terasa lebih mudah dinikmati, ada pula yang membuat saya ingin membaca ulang. Namun, justru ketidakseragaman pengalaman itu yang menjadikan Gergasi menarik untuk dibicarakan.
Mengapa Gergasi Relevan bagi Generasi Muda?
Di tengah kebiasaan mengonsumsi konten singkat yang menawarkan informasi secara cepat, Gergasi mengajak generasi muda untuk memperlambat langkah. Buku ini menuntut kesabaran, konsentrasi, dan kesediaan menghadapi sesuatu yang tidak langsung memberikan jawaban.
Saya kira, kebiasaan membaca karya seperti ini dapat melatih kemampuan berpikir kritis. Pembaca tidak cukup hanya mengikuti jalan cerita, tetapi juga perlu mempertanyakan simbol, menimbang kemungkinan tafsir, dan membedakan antara peristiwa dalam cerita dengan pesan yang mungkin disampaikannya.
Balairung, misalnya, bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan korupsi, kebebasan berekspresi, dan hubungan antara seni dengan kekuasaan. Sementara itu, Semak Belukar dapat membuka percakapan mengenai kepedulian terhadap lingkungan dan penghargaan terhadap makhluk hidup.
Cerpen-cerpen spiritualnya pun bisa mendorong anak muda untuk merenungkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan tanpa harus selalu memperoleh jawaban instan.
Namun, saya juga merasa perlu mengingatkan bahwa membaca Gergasi membutuhkan kesiapan. Pembaca yang mengharapkan alur lurus, penjelasan terperinci, serta akhir cerita yang menuntaskan seluruh pertanyaan mungkin akan merasa kewalahan. Buku ini lebih cocok dinikmati oleh mereka yang bersedia memberi ruang bagi ambiguitas dan penafsiran.
Jika menemui bagian yang sulit dipahami, kita tidak harus langsung menyerah. Membaca ulang, mencari informasi tentang konteks sejarah, atau berdiskusi dengan pembaca lain bisa menjadi cara untuk memperkaya pengalaman membaca.
Identitas Buku
- Judul: Gergasi
- Penulis: Danarto
- Penerbit: DIVA Press
- Cetakan: I, Desember 2016
- Tebal: 260 Halaman
- ISBN: 978-602-391-302-2
- Genre: Fiksi/Kumpulan Cerpen
Baca Juga
-
Lenovo Googlebook 15, Laptop AI dengan Layar 15,3 Inci dan Audio Dolby Atmos
-
Xiaomi Pad 9 Pro Max Dibanderol Mulai Rp11 Jutaan, Usung Chip Xring O3 dan Baterai 12.000 mAh
-
iQOO Neo 12 Siap Mengguncang Pasar, Layar 185 Hz dan Baterai 9.000 mAh Jadi Senjata Utama
-
Bukan Sekadar Kencang, Honor Win 2 Hadir dengan Pendingin Ganda dan Layar 2K
-
Hutan Menjadi Neraka: Nasib Satwa Liar yang Kehilangan Tempat Berlindung
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Siti Si Vampir: Kehangatan Keluarga di Balik Komedi Mistik yang Unik
-
Tips Tampil Bersinar di Depan Panggung dalam Buku Let's Speak
-
Review Tenzing: Kisah Nyata Perjuangan Pendaki Korban Diskriminasi Everest
-
Review Drama Spooky In Love, Mengungkap Kejahatan dari Cerita Para Arwah
-
Ulasan Novel Good Wives: Perjalanan Empat Saudari March Menuju Kedewasaan
Terkini
-
Kemiskinan Struktural: Ketika Manusia Kehilangan Hak untuk Bermimpi
-
Lenovo Googlebook 15, Laptop AI dengan Layar 15,3 Inci dan Audio Dolby Atmos
-
Doctor X Hadapi Petisi Penghentian Siaran Usai Angkat Tragedi Gwangju 1980
-
Viral Audio 'Bare Minimum' dan Manga Veil: Benarkah Ekspektasi Hubungan Gen Z Ketinggian?
-
Rilis You're Under Arrest! ILLIT Tolak Keras Terlena oleh Harapan Palsu