Lintang Siltya Utami | Christina Natalia Setyawati
Novel Pulau Pendidaktis (Dok.Pribadi/christina)
Christina Natalia Setyawati

Pendidikan sering kali diagungkan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, tetapi bagi anak-anak di pelosok negeri, jalan tersebut sering kali buntu sebelum sempat dilalui. Di banyak wilayah terpencil Indonesia, sekolah bukan lagi tempat mengejar mimpi, melainkan sebuah kemewahan yang sulit digapai.

Fenomena ini bukan sekadar masalah jarak geografis, melainkan benturan keras antara kebutuhan perut dan keinginan untuk pintar. Ketika urusan makan hari ini jauh lebih mendesak daripada buku pelajaran untuk masa depan, pendidikan dengan mudahnya menjadi korban pertama yang dikorbankan oleh keadaan ekonomi.

Realitas pahit inilah yang menjadi ruh dalam novel Pulau Pendidaktis karya Farella Maeriza. Melalui kisah yang menyentuh, kita diajak melihat potret sebuah sekolah di Pulau Ende yang hampir mati, hanya menyisakan lima siswa yang masih bertahan di tengah segala keterbatasan.

Salah satu potret paling memprihatinkan dalam novel ini adalah fenomena siswa yang bahkan belum lancar baca-tulis meskipun usia mereka sudah melampaui fase awal sekolah dasar. Ini bukanlah cerminan dari kurangnya kecerdasan anak didik, melainkan bukti nyata dari absennya pengajar mumpuni dan fasilitas yang layak secara konsisten.

Ketiadaan guru tetap yang berkualitas membuat proses belajar-mengajar di pelosok sering kali berjalan ala kadarnya. Di saat anak-anak kota besar sudah melaju dengan teknologi literasi digital, anak-anak di pulau terpencil masih berjuang mengeja kata demi kata di atas papan tulis yang sudah memudar.

Kondisi ini diperparah dengan pola pikir masyarakat setempat yang perlahan mulai apatis dan menyerah pada keadaan; bagi mereka, pendidikan dianggap sebagai angan-angan kosong yang tidak mampu mengenyangkan perut yang lapar.

Di tengah impitan ekonomi yang mencekik, muncul stigma bahwa sekolah hanyalah kegiatan membuang waktu yang tidak memberikan hasil instan, sehingga mereka lebih memilih anak-anak turun ke laut atau ke ladang demi menyambung hidup hari ini.

Rasa putus asa yang mengakar selama bertahun-tahun membuat mereka kehilangan kepercayaan bahwa literasi bisa menjadi kunci perubahan, menciptakan sebuah lingkaran setan di mana kemiskinan struktural akhirnya membunuh harapan sebelum anak-anak itu sempat belajar mengeja kata "masa depan".

Dalam kondisi kritis seperti ini, hadirnya program relawan menjadi satu-satunya napas buatan bagi keberlangsungan pendidikan. Relawan sering kali menjadi jembatan bagi mereka yang terisolasi dari akses informasi, memberikan bimbingan intensif yang selama ini tidak mereka dapatkan dari sistem pendidikan formal yang pincang.

Cerita menjadi semakin menarik ketika Alu dan Jenar, dua karakter yang datang murni untuk urusan bisnis, justru terjebak dalam kesalahpahaman tersebut. Penduduk desa yang sudah sangat haus akan kehadiran pendidik langsung menganggap mereka sebagai guru relawan yang dikirim untuk menyelamatkan masa depan anak-anak desa.

Selama menetap, Alu dan Jenar mulai merasakan beratnya menjadi pejuang literasi di pelosok. Mereka harus memutar otak untuk mengajar anak-anak yang tertinggal jauh secara kemampuan dasar dengan fasilitas seadanya.

Di sinilah mereka menyadari bahwa masalah pendidikan bukan sekadar kurikulum, melainkan soal perut yang lapar dan kurangnya perhatian pemerintah. Perlahan, orientasi hidup mereka mulai bergeser dari sekadar mengejar profit menjadi sosok yang peduli pada masa depan kelima muridnya. Hubungan yang awalnya pura-pura berubah menjadi ikatan emosional yang tulus.

Tabrakan antara pragmatisme dunia bisnis yang dibawa Alu dan Jenar dengan harapan tulus warga desa menciptakan sebuah ironi yang mendalam. Mereka yang awalnya berorientasi pada profit, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa lima pasang mata siswa tersebut melihat mereka sebagai "pahlawan" literasi yang akan mengajari mereka membaca dunia.

Namun, konflik mencapai puncaknya ketika kenyataan pahit menghantam: misi bisnis yang dibawa Alu dan Jenar ternyata mengancam keberadaan sekolah itu sendiri. Sekolah kecil yang menjadi tempat belajar mengeja itu direncanakan untuk dirobohkan dan diganti menjadi sebuah pabrik.

Di sinilah letak ironi yang paling menyesakkan. Gedung sekolah yang sudah reyot itu harus kalah telak dari ambisi industrialisasi yang mengatasnamakan kemajuan ekonomi. Pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi bangsa, justru dianggap sebagai hambatan bagi ekspansi bisnis yang dianggap lebih "menghasilkan".

Puncak masalah ini menggambarkan kondisi pendidikan kita yang sering kali dikalahkan oleh kepentingan pragmatis. Sering kali, lahan pendidikan digusur atau ditelantarkan demi kepentingan investasi jangka pendek, tanpa memedulikan investasi manusia jangka panjang yang dimulai dari kemampuan dasar membaca dan menulis.

Bagi lima siswa di Pulau Ende, rencana perobohan sekolah itu bukan sekadar kehilangan bangunan fisik, melainkan hilangnya ruang bagi mereka untuk mengenal huruf dan angka. Pabrik yang akan dibangun mungkin memberikan lapangan kerja, namun tanpa literasi, anak-anak desa hanya akan berakhir sebagai penonton di tanah mereka sendiri.

Pendidikan di pelosok tidak akan pernah bangkit jika kita terus membiarkan gedung-gedung sekolah kalah dari deru mesin pabrik yang dingin. Kita butuh lebih banyak perhatian pada ketersediaan guru yang menetap, bukan hanya mengandalkan kebaikan hati relawan yang datang dan pergi karena keterpaksaan keadaan.

Pada akhirnya, Pulau Pendidaktis adalah sebuah teguran keras bagi arah pembangunan kita. Novel ini mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tanpa dibarengi dengan jaminan hak literasi hanya akan menciptakan jurang ketimpangan yang semakin lebar dan melanggengkan kebodohan yang struktural.