Di sana, terdapat tumpukan sampah menggunung, bau, juga sangat jorok. Meskipun begitu, para pemulung yang notabene warga asli sekitar tempat pembuangan akhir sampah sudah terbiasa dengan hal demikian: bergumul dengan aroma busuk, keringat, bau amis, lendir-lendir sisa makanan, juga terik kemarau pada siang hari.
Sebulan lalu, di sana ditemukan mayat bayi, sepuluh hari berselang satu di antara para pemulung menemukan uang jutaan rupiah di kantong plastik hitam, seminggu berikutnya beberapa pemungut barang bekas terjangkit penyakit tuberkulosis. Penyakit itu memang langganan bagi warga di sana; penyebabnya karena hidup di lingkungan kumuh serta tubuh mereka memang minim nutrisi.
Hari ini ada cerita lain dari pria tua berkulit hitam legam. Dia baru saja menemukan empat boks berisi makanan. Dia bersyukur atas rezeki yang katanya datang dari Allah pada siang hari di bawah sengatan panas sinar matahari. Dia bergegas menjauh dari lokasi penemuan.
Seorang teman sesama pemungut sampah mengetahui hal tersebut. Si pria tua pun didekati, dirayu, lalu dirangkul agar mau berbagi makanan itu. Namun, saking lapar juga teringat istri beserta anak-anaknya di rumah, dia pun enggan berbagi. Lantas enyah, menjauh, bergerak cepat agak tampak berlari.
Perlakuan pria tua yang cenderung pelit membuat kawannya sangat kecewa. Baru dapat empat bungkus nasi boks yang belum tentu layak dimakan sudah lupa teman, bagaimana kalau dapat sekilo daging busuk? Dia pasti mengunci pintu rumah sampai membusuk pula! Si kawan begitu muak hingga hatinya mengumpat demikian.
Pria tua sampai di rumahnya. Sang istri sedang menata lipatan-lipatan kardus siap jual ke pengepul barang bekas, sementara kedua anaknya sedang mengerjakan tugas dari sekolah kompleks—bangunan bagi siswa-siswi tidak mampu—didirikan para sukarelawan, organisasi kemanusiaan yang berdiri atas kesadaran pribadi tanpa sokongan dana dari pemerintah.
Pria tua lantas memanggil mereka semua. “Ayo makan dulu!”
Istri dan anak-anaknya kegirangan melihat makanan lezat yang dijinjingnya.
Di teras berlantaikan kayu kering berdebu, pria tua menggelar tikar lalu membagikan makanan itu. Mereka akhirnya bisa makan bersama sebelum besok menjalankan ibadah puasa.
Omong-omong soal tabiat warga di sekitar lingkungan pria tua termasuk dirinya, banyak warga di antara mereka memanfaatkan momentum bulan suci. Separuh warga yang tadinya pemulung akan berganti profesi menjadi pengemis dadakan. Dalam sekejap kompleks tersebut menjadi kampung pengemis. Uang hasil menipu para dermawan akan mereka belanjakan pakaian baru, kosmetik bagi perawan dan janda-janda yang tabiatnya tidak lagi punya rasa malu, dan berjudi.
Seburuk itu memang tabiat masyarakat di sana. Wilayah yang memang kurang diurus pemerintah. Kata pemerintah, mengurus ribuan pulau terdiri dari ribuan perkampungan dengan banyaknya utang negara, mau tidak mau harus ikhlas dikecup janji-janji palsu pemerintah.
Kembali pada pria tua. Pria tua begitu lahap memakan rendang daging sapi, meski rasanya aneh. Istri dan anak-anaknya pun begitu, yang padahal, beberapa menit lalu saling berserobok, mengernyitkan kening, mesem culas, lalu saling menggelengkan kepala sebab agak ragu memakan makanan itu. Toh, mereka tetap memakannya.
Sore harinya, mula-mula satu orang bertandang ke rumahnya—seorang pemulung perempuan dengan keranjang plastik di punggungnya. Dia memanggil dari teras rumah kayu reyot itu, tetapi tidak ada jawaban. Hanya pintu yang terbuka setengah dan tikar yang tergelar seperti baru saja ditinggalkan.
Tak lama kemudian dua orang lain menyusul. Lalu lima. Lalu sepuluh.
Warga dari gubuk-gubuk di sekitar gunung sampah berdatangan, saling berbisik, saling menebak-nebak. Seekor anjing kurus mengendus-endus lantai kayu yang berdebu sebelum akhirnya menyingkir dengan ekor terkulai.
Di atas tikar lusuh itu, pria tua terbaring kaku. Matanya setengah terbuka seperti masih menatap langit-langit rumah yang lapuk. Di sebelahnya, sang istri terbaring miring dengan satu tangan menggenggam sudut kain sarung. Kedua anaknya tergeletak tidak jauh dari mereka. Empat kotak nasi kosong masih teronggok dengan rendang yang telah basi bercampur dengan bau tanah lembap dan kayu lapuk. Tidak ada suara selain bisik-bisik yang mulai berubah menjadi gumam ketakutan.
“Keluarga Mang Rikik mati semua,” kata seseorang pelan.
Tampak ada perempuan menutup mulutnya. "Keracunan?"
Seorang laki-laki menggeleng pelan sambil menatap kotak nasi itu seperti menatap benda terkutuk. Tak lama kemudian, kabar itu melompat keluar dari kompleks kumuh tersebut. Seperti burung yang menemukan langit luas, terbang ke mana-mana.
Menjelang malam, beberapa sepeda motor berhenti di mulut gang. Lampu kamera menyala. Mikrofon diangkat. Para jurnalis datang dengan langkah cepat dan wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka bertanya pada siapa saja yang mau menjawab: tentang siapa pria tua itu? Sejak kapan Mang Rikik memulung? Dari mana makanan itu berasal yang katanya jadi sumber malapetaka? Mengapa satu keluarga bisa mati hanya karena empat nasi boks?
Keesokan harinya, berita itu menyebar seperti hujan tipis di halaman-halaman media. Judul-judulnya nyaring, dingin, dan singkat: Keluarga Miskin Tewas Akibat Keracunan Makanan. Foto rumah reyot mereka terpampang, lengkap dengan latar belakang gunung sampah yang menghitam di bawah matahari.
Hari-hari kemudian berlalu seperti biasa. Gunung sampah tetap menggunung. Bau busuk tetap menempel di udara. Para pemulung tetap berjalan dengan karung di punggung mereka. Seminggu setelah kematian keluarga itu, suara gemuruh mesin tiba-tiba memecah siang Ramadan, yang mana tidak ada satu pun warga berpuasa. Truk-truk besar berderet memasuki kompleks pemulung. Catnya masih mengilap, bannya meninggalkan jejak tebal di tanah yang lembek oleh sisa-sisa air sampah.
Orang-orang keluar dari gubuk mereka. Anak-anak berlarian. Para ibu memanggil tetangga. Para lelaki mengangkat karung dari bahu mereka.
Puluhan truk berhenti berjajar. Di bak belakangnya tertumpuk karung-karung beras, kardus mi instan, minyak goreng, gula, juga berbagai sembako lain yang dibungkus rapi dengan plastik bening. Seorang petugas berdiri di atas bak truk sambil berteriak mengatur antrean.
Sorak-sorai pun pecah. Warga di sana bertepuk tangan. Anak-anak melompat kegirangan. Para ibu tersenyum lebar sambil menenteng kantong bantuan yang baru mereka terima.
Di tengah riuh itu, rumah kayu milik pria tua masih berdiri sunyi. Pintu depannya tertutup rapat. Alas di dalamnya sudah digulung oleh tetangga beberapa hari lalu bersama seluruh kisah tragisnya.
Baca Juga
-
Keseruan Film Hoppers yang Bereksperimen Melalui Cerita dan Perpaduan Genre
-
Mendalami Sensualitas dan Cinta Paling Liar dalam Film Wuthering Heights
-
Review Film Goodbye June: Debut Penyutradaraan Kate Winslet yang Hambar?
-
CERPEN: Di Depan Lilin Kami Meminta Sesuatu pada Tuhan
-
Pada Eklips Penghabisan
Artikel Terkait
-
Sepasang Cincin Berkarat Milik Kita
-
Senin 9 Maret 2026 Puasa Hari ke Berapa? Simak Perbedaan Versi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah
-
5 Pilihan Tinted Lip Balm untuk Menjaga Bibir Tetap Lembap Saat Puasa
-
Dilema Gorden Warteg: Hormati yang Puasa atau Hargai yang Cari Nafkah?
-
Indahnya Ramadan 2026 di Bundesliga: Laga Dihentikan, 6 Pemain Muslim Buka Puasa
Cerita-fiksi
Terkini
-
F1 GP Australia 2026: Duo Mercedes Raih Podium usai Duel dengan Ferrari
-
Stop Buang Makanan! Rahasia Kelola Nafsu Belanja Takjil agar Tetap Efisien
-
Sebuah Kritik Tajam Pakem Horor Indonesia: Ulasan Film Setan Alas!
-
Lebaran, Tradisi Baju Baru dan Tekanan Sosial Kelas Menengah
-
Mengintip Isi Buku 'Sorry, My Younger Self' Karya Alvi Syahrin yang Bikin Nyesek tapi Menenangkan