Malam di Jakarta bukan lagi soal lampu-lampu yang berpijar serupa serakan berlian di atas beledu hitam. Malam kini adalah tentang detak jam dinding yang terdengar seperti palu godam menghantam ulu hati. Di unit apartemen lantai enam belas ini, Ismaya berdiri di depan jendela kaca. Pantulan bayangannya memperlihatkan seorang perempuan dengan rambut kusut dan mata yang kehilangan telaga cahayanya.
Di gendang telinganya, tangis bayi yang baru terlelap sepuluh menit yang lalu masih berdenging. Sebuah tinitus yang enggan sembuh.
Ismaya menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu lincah menari di atas papan ketik, menyusun strategi pemasaran bagi perusahaan rintisan kelas wahid, kini hanya akrab dengan aroma susu basi dan minyak telon. Ia merasa seperti bejana yang dikosongkan secara paksa, lalu diisi kembali dengan cairan pekat bernama kewajiban. Tak ada yang bertanya apakah ia memiliki cukup ruang untuk menampungnya.
“Pernahkah kau membayangkan, Lazuardi,” bisiknya pada kekosongan, menyebut nama suaminya yang sedang mendengkur halus di balik pintu kamar, “bahwa sebuah kelahiran bisa menjadi sebuah kematian yang paling sunyi?”
Kalimat itu tajam, serupa sembilu yang ia asah sendiri di dalam tempurung kepalanya. Ismaya tahu, di dunia yang serbaestetik dan penuh unggahan kebahagiaan yang dikurasi, kalimat itu adalah sebuah penistaan. Mengeluh setelah memiliki anak dianggap sebagai bentuk tidak bersyukur. Menyesal—meski hanya sekejap di tengah malam yang buta—adalah dosa besar yang bisa membuat seorang perempuan dikutuk menjadi batu oleh penghakiman sosial. Namun, Ismaya adalah manusia. Ia bukan sekadar inkubator bernapas yang diprogram untuk selalu tersenyum.
Pikirannya melenting pada sosok ibunya, Galuh. Seorang perempuan yang selalu tampak tegar dengan sanggul kencang dan kebaya yang kaku. Galuh tak pernah mengeluh. Namun, Ismaya ingat betul bagaimana jemari ibunya sering gemetar saat menyuapinya, atau bagaimana tatapan matanya kosong menembus dinding dapur.
Ismaya teringat suatu sore di dapur yang lembap. Ibunya sedang memotong bayam, namun pisau itu berhenti di tengah jalan. Galuh hanya diam, menatap air mendidih dengan pandangan yang mengerikan—seolah ia ingin melompat ke dalamnya hanya untuk merasakan sesuatu yang lain selain kelelahan.
Luka itu, Ismaya menyadarinya sekarang, adalah warisan yang tak tercatat di akta notaris. Luka yang ditutup rapat dengan gincu merah, kini merembes masuk ke dalam sumsum tulangnya. Ibunya tidak pernah bicara, dan kebisuan itu kini menjadi tumor di dalam dada Ismaya.
Ia melangkah mendekati boks bayi dengan gerakan yang menyerupai hantu. Di sana, seorang manusia kecil yang bernama Kala tidur dengan tenang. Kala—sebuah nama yang berarti waktu. Sejak kedatangannya, waktu bagi Ismaya telah berhenti sekaligus berlari terlalu cepat. Ia mencintai Kala, tentu saja. Cinta itu berdenyut di bawah kulitnya seperti aliran listrik. Namun, cinta itu berkelindan dengan rasa takut yang purba. Takut bahwa ia akan menghancurkan jiwa kecil ini dengan kerapuhannya. Takut bahwa ia akan mewariskan “hantu” yang sama dari Galuh.
“Kau adalah matahari, Kala,” gumam Ismaya. Jemarinya menggantung di atas kening bayi itu, ragu untuk menyentuh. “Tapi aku adalah awan hitam yang tak tahu cara menyingkir. Aku takut cahayamu akan padam karena kelembapanku.”
Istilah sungsang tiba-tiba muncul di benaknya. Secara medis, itu adalah posisi bayi yang salah di dalam rahim. Tapi baginya, sungsang adalah kondisi jiwanya sekarang. Kepalanya berada di bawah, terperosok dalam palung depresi yang dangkal namun menyesakkan, sementara kakinya meronta di udara, mencari pegangan pada realitas yang kian menjauh. Ia merasa hidup dalam posisi terbalik; dunianya jungkir balik, dan semua orang menyuruhnya untuk tetap berdiri tegak.
Masyarakat urban di sekelilingnya menuntut kesempurnaan tanpa cela. Ia harus menjadi supermom yang tetap bugar pascamelahirkan, tetap intelek, menjadi istri yang menggairahkan, dan ibu yang selalu penuh kasih. Tak ada ruang untuk kelelahan yang berkarat.
Ismaya teringat kembali pada gemerlap lampu kafe di bilangan Senopati beberapa bulan yang lalu, saat identitasnya masih menjadi miliknya sendiri. Seorang kolega berkata dengan binar mata serupa naskah iklan asuransi, “Anak adalah pelengkap hidup, Ismaya. Kau akan merasa utuh.”
Kini, Ismaya ingin berteriak di depan wajah itu: “Aku tidak merasa utuh! Aku merasa pecah! Aku merasa cermin yang jatuh ke lantai beton dan kini sedang mencoba merekatkan kembali serpihan diriku dengan lem yang sudah kedaluwarsa!”
Namun, teriakan itu hanya tertahan di tenggorokan, menjadi gumpalan lendir yang pahit. Di kota ini, jujur tentang kesehatan mental adalah sebuah kerentanan yang berbahaya. Orang lebih mudah memaafkanmu jika kau bangkrut secara finansial daripada jika kau mengaku bangkrut secara emosional karena anakmu sendiri.
Tiba-tiba, Kala menggeliat. Ismaya menahan napas. Suasana hening seketika menegang. Jika Kala bangun sekarang dan menangis, Ismaya tidak yakin punya cukup energi untuk menggendongnya. Ia merasa tulang-tulangnya terbuat dari kaca yang sudah retak seribu. Namun, Kala hanya mendengus kecil dan kembali terlelap. Sebuah ketenangan yang justru membuat Ismaya merasa sangat berdosa.
Ismaya jatuh terduduk di atas karpet bulu yang mahal. Ia memeluk lututnya, menenggelamkan wajah di sana. Di sinilah letak ironinya: ia merasa sangat kesepian justru saat ia tidak pernah benar-benar sendirian. Kehadiran Kala adalah kehadiran yang absolut, namun identitas Ismaya justru menguap seperti embun tersentuh aspal panas Jakarta.
“Ibu...,” bisik Ismaya lirih. Bukan memanggil dirinya sendiri, tapi memanggil Galuh yang sudah tenang di liang lahat. “Apakah dulu rahimmu juga terasa seperti penjara yang kau bangun sendiri atas nama pengabdian?”
Dulu, Ismaya sering marah pada Galuh yang dingin dan jarang memeluk. Kini, ia paham. Kedinginan itu bukan karena kurang cinta, tapi karena Galuh sedang menggunakan seluruh sisa tenaganya hanya untuk bertahan hidup di dalam kepalanya sendiri. Galuh sedang mematikan saraf-saraf perasaannya agar tidak menjadi gila oleh tuntutan peran yang tak berkesudahan. Luka itu memang diwariskan: ketidakmampuan untuk merayakan diri sendiri setelah menjadi orang tua.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Warna langit berubah dari hitam menjadi ungu lebam, persis seperti lingkar matanya. Sebentar lagi, Lazuardi akan bangun, mencium keningnya, dan bertanya dengan nada ringan yang tak berdosa, “Bagaimana semalam? Kala rewel?”
Dan Ismaya, seperti robot yang sudah diprogram oleh budaya sopan santun yang memuakkan, akan tersenyum manis dan menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang. Semuanya baik-baik saja.”
Kebohongan itu adalah bentuk perlindungan. Bukan untuk Lazuardi, tapi untuk dirinya sendiri agar tetap terlihat “normal”. Namun, di dalam batinnya, Ismaya berjanji suatu saat nanti ia akan berhenti berbohong pada Kala. Ia ingin suatu hari nanti Kala tahu bahwa ibunya adalah manusia yang rapuh. Bahwa menjadi orang tua adalah tentang berjalan di atas tali tipis di atas jurang keputusasaan. Ia ingin memutus rantai kebisuan Galuh.
Ismaya bangkit perlahan, merapikan daster mahalnya yang kusut. Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk, menyentuh boks bayi, lalu menyentuh ujung kakinya. Kota mulai berisik dengan suara klakson dan deru mesin yang tak kenal ampun. Sandiwara hari baru akan segera dimulai.
Ismaya menghapus sisa air mata, mematut diri di depan cermin, dan mengenakan kembali topeng “Ibu” yang dinanti oleh dunia. Namun, di ceruk jiwanya yang paling gelap, ia tahu bahwa ia baru saja memenangkan satu pertempuran sunyi. Ia mengakui penyesalannya, memeluk ketakutannya, dan dengan itu, ia merasa sedikit lebih manusiawi.
Ia tidak lagi sungsang. Ia hanya sedang belajar berjalan kembali, meski dengan kaki yang gemetar dan hati yang penuh tambalan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Amazon MGM Studios Pakai AI, Industri Kreatif Sedang Masuk Fase Kritis
-
Jaga Kulit Tetap Kencang dengan 5 Pelembap Anti-Aging yang Dilengkapi SPF
-
Arafat Nur dan 'Lampuki': Ketika Humor Satir Bertemu dengan Tragedi Kemanusiaan
-
The Judge From Hell Umumkan Season 2, Park Shin Hye Dipastikan Kembali
-
Ulasan Drama Glaze of Love, Kisah Cinta Dua Introver di Ruang Restorasi Kuno