Di pinggir Koloni Lembah Hijau, pagi itu diisi riuh riuk hewan yang sibuk memilah hasil panen. Keni, seekor kelinci muda berbulu krem, berdiri dengan canggung di depan gundukan wortel dan biji-bijian. Ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai pengumpul dan penyortir pasokan makanan koloni. Sebagai pendatang baru yang belum pernah merantau, dada Keni berdebar cepat antara antusias dan cemas.
"Hei, kamu pasti Keni, kan? Anggota baru itu!" sebuah suara ramah menyapa.
Ekor Keni menegak. Di depannya berdiri Saka, seekor rubah muda berbulu oranye cerah dengan senyum lebar yang sangat hangat. Tanpa diminta, Saka merangkul bahu Keni, membantunya membawakan keranjang berat, dan memperkenalkannya ke area gudang utama.
"Jangan sungkan padaku, Keni. Lingkungan di sini memang keras dan hewan-hewan lain cenderung individualis. Tapi tenang saja, ada aku. Kita ini tim!" ucap Saka manis. Keni merasa sangat lega dan beruntung menemukan sosok penyelamat di lingkungan baru yang asing ini. Ia menaruh kepercayaan penuh pada Saka.
Namun, menginjak minggu kedua, kehangatan itu perlahan berganti menjadi beban yang menghimpit. Saka mulai menunjukkan perubahan sikap yang halus namun membingungkan.
Suatu sore, Saka mendatangi meja sortir Keni dengan tumpukan berkas catatan pasokan yang berantakan. "Keni, aku tahu kamu sangat berbakat dan teliti. Bisakah kamu selesaikan laporan pasokan musim gugur milik kelompokku? Kepala Pengawas minta ini besok pagi. Aku mau bantu, tapi perutku mendadak sakit sekali," kata Saka dengan wajah memelas.
Keni, yang tidak enak hati dan ingin membuktikan kinerjanya, menyanggupi. Malam itu, saat hewan lain sudah lelap, Keni duduk sendirian menghitung ribuan butir gandum hingga matanya perih.
Tugas ekstra itu ternyata baru permulaan. Hari-hari berikutnya, Saka semakin sering melimpahkan tanggung jawabnya. Mulai dari tugas berat memindahkan karung-karung ubi ke gudang bawah tanah yang lembap, meneliti kualitas jamur beracun yang membutuhkan waktu berjam-jam, hingga menghitung ulang selisih stok buah kering yang rumit.
Anomali perilaku Saka makin terlihat jelas ketika terjadi kekeliruan dalam data distribusi jagung. Saat Pengawas memanggil mereka, Saka dengan cepat memotong pembicaraan dengan nada prihatin, "Maafkan Keni, Pak Pengawas. Dia masih baru dan belum terbiasa dengan sistem hitung kita. Saya sudah coba mengajarinya, tapi tampaknya dia memang masih butuh waktu."
Keni membeku. Padahal, data jagung itu sepenuhnya dikerjakan oleh Saka dan Keni bahkan tidak pernah menyentuhnya. Ketika Keni mencoba mengonfirmasi hal itu secara pribadi setelahnya, Saka justru menepuk bahunya santai sambil tertawa kecil, "Ah, begitu saja dimasukkan ke hati, Keni. Aku kan cuma menyelamatkan wajah tim kita. Lagipula, sebagai kawan, harusnya kamu maklum."
Keni mulai merasa terisolasi, bingung, dan sangat tertekan. Setiap pagi, dadanya terasa sesak saat harus melangkah ke tempat kerja. Ia merasa dimanfaatkan, tetapi kata-kata manis Saka yang dibungkus kepedulian membuat Keni sering menyalahkan dirinya sendiri.
Apakah aku yang terlalu sensitif? Atau aku yang memang tidak kompeten? batinnya sedih.
Sore itu, dengan mata sembap dan napas berat, Keni berjalan keluar dari batas Koloni Lembah Hijau. Ia berjalan jauh ke area bukit tua untuk menemui Paman Aris, seekor beruang kakek yang dulu merupakan mentor senior di koloni tersebut sebelum pensiun.
Di gubuk kayunya yang tenang, Paman Aris mendengarkan setiap tumpahan keluh kesah Keni tanpa memotong. Setelah Keni selesai menangis, beruang tua itu menyeduh teh daun mint hangat dan menyodorkannya.
"Keni," panggil Paman Aris lembut. "Kesalahan terbesarmu bukanlah karena kamu bekerja keras, melainkan karena kamu menaruh kepercayaan bulat-bulat hanya pada senyuman pertama seseorang."
Paman Aris mengelus cangkirnya. "Saka adalah tipe hewan yang pandai memanipulasi. Dia menggunakan ramah-tamah sebagai umpan agar kamu merasa berutang budi, lalu memanfaatkan kepolosanmu untuk memikul beban kerjanya sendiri. Ketika ada masalah, dia melempar batu dan sembunyi tangan."
"Apakah aku harus pindah tempat kerja, Paman? Aku sangat stres melihat wajahnya," bisik Keni luntur harapan.
Paman Aris menggeleng pelan. "Hutan ini penuh dengan berbagai jenis hewan, Keni. Kamu akan selalu bertemu sosok seperti Saka di mana pun kamu pergi. Kamu tidak bisa mengubah naluri rubah untuk memanipulasi, tetapi kamu punya kendali penuh atas bagaimana kamu meresponsnya."
"Bagaimana caranya?" tanya Keni.
"Buat batasan yang tegas," tegas Paman Aris. "Jangan lagi menerima tugas di luar tanggung jawabmu tanpa persetujuan resmi pengawas. Jika dia mulai berpura-pura baik atau memutarbalikkan kata-kata, jangan pakai perasaanmu. Fokus saja pada fakta dan tugas pokokmu. Kendalikan pintumu sendiri."
Nasihat itu membakar semangat baru dalam diri Keni. Esok harinya, Keni kembali ke tempat kerja dengan dada tegap.
Tak butuh waktu lama, Saka kembali mendekatinya dengan senyum manis yang biasa. "Keni! Baguslah kamu sudah datang. Ini, tolong sortir karung apel ini ya? Aku ada urusan mendadak di luar."
Keni menatap Saka lurus-lurus, tanpa amarah, tanpa rasa takut, dan tanpa rasa tidak enak hati.
"Maaf, Saka," jawab Keni dengan suara tenang namun mantap. "Jadwal kerjaku hari ini adalah menyelesaikan verifikasi data buah beri sesuai instruksi Pengawas. Jika kamu butuh bantuan untuk karung apelmu, kamu bisa mengajukan permohonan limpahan tugas resmi ke meja Pengawas dulu."
Saka tertegun. Senyum bahagianya agak memudar, berganti dengan sorot mata kaget. "Lho, Keni... aku kan kawanmu? Masa membantu kawan sendiri hitungannya jadi kaku begini?" uji Saka mencoba memancing rasa bersalahnya lagi.
Keni tersenyum tipis. "Sebagai kawan, aku menghormati porsi tugasmu, dan aku yakin kamu mampu menyelesaikannya sendiri." Setelah itu, Keni langsung kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa sedikit pun menanti tanggapan Saka.
Saka berdiri terpaku, menyadari bahwa umpan manisnya tidak lagi mempan.
Hari-hari berikutnya, Saka tetap berada di sana, dengan watak manipulatifnya yang tidak pernah berubah. Namun bagi Keni, segalanya telah berbeda. Ia tidak lagi tertekan atau sedih. Keni menyadari bahwa keamanan dirinya tidak ditentukan oleh kebaikan orang lain, melainkan oleh ketegasan batas yang ia buat sendiri.
Baca Juga
-
Lontong Medan: Kuliner "Ramai" yang Bikin Rindu, Wajib Ada Mi!
-
Bukan Cuma Juara 1 Jaringan, Ini Alasan Saya Setia Pakai XL Sejak Dahulu
-
Putih di Atas Salju
-
Sindrom Defisit Rumah: Saat Sate Paling Enak Pun Kalah oleh Telur Dadar Buatan Ibu
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Dulu Saya Kira Cuma Main dan Bernyanyi: Realitas Sebenarnya di Balik Profesi Guru TK
-
Isu Lingkungan hingga AI, Riset Pelajar di OMI 2026 Bikin Kaget Para Ahli!
-
Kura-Kura Pakai Kostum Beruang? Buku Ini Bikin Anak Tertawa!
-
Menyelami Sensasi Sensori dan Ketegangan dalam Film 'Tuner'
-
Ekonomi yang Membentuk Isi Piring: Mengapa Makan Sehat Jadi Kemewahan?