Pada pukul enam pagi, Kota Arunika tidak pernah benar-benar terbangun.
Ia hanya batuk. "Uhuk... uhuk..."
Suara itu keluar dari gedung-gedung tinggi, dari knalpot kendaraan, dari cerobong pabrik, bahkan dari pohon-pohon yang daunnya mulai menguning.
Di sebuah kamar sempit di lantai tujuh, seorang pemuda bernama Raka membuka jendela.
"Udara hari ini pasti lebih buruk." Masker di wajahnya segera dikenakan.
Di bawah sana, lampu lalu lintas bergumam. "Merah, hijau, merah... Aku bosan mengatur manusia yang tidak pernah mau berhenti."
Sebuah sepeda motor menyahut. "Jangan salahkan kami. Manusia yang memutar kunci."
"Benar," kata lampu lalu lintas. "Tapi manusia selalu menyalahkan benda."
Raka mendengar percakapan itu. Ia sudah terbiasa. Di Kota Arunika, barang-barang bisa berbicara. Tempat sampah sering mengeluh karena terlalu penuh. Pohon tua gemar bercerita tentang masa ketika langit masih biru. Bahkan masker yang dipakai Raka kadang berbisik ketika filternya kotor.
Namun, pagi itu ada suara lain.
Dum... dum... dum...
Dari ujung jalan muncul robot setinggi tiga meter. Tubuhnya terbuat dari logam hitam. Di punggungnya terdapat cerobong kecil yang mengepulkan asap kelabu.
"Aku R-09," katanya. "Aku dibuat untuk membuat kota tetap hidup."
Raka mengernyit. "Dengan asap?"
R-09 tertawa mekanis. "Manusia menciptakan mesin agar hidup lebih mudah. Aku hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?" tanya Raka.
Robot itu terdiam. Untuk pertama kalinya, matanya berkedip. "Aku... tidak ingat."
Raka merasa aneh karena melihat robot yang tidak mengingat penciptanya. Di belakang Raka, sebuah kipas angin tua bernama Rizu tiba-tiba bergumam.
"Jangan dekati dia," lantang Rizu si kipas angin.
"Kenapa?" tanya Raka sambil mengerutkan dahi.
"Karena aku pernah melihatnya," kata Rizu.
"Di mana?"
Kipas bernama Rizu berputar pelan. "Di rumahmu," ucap Rizu.
Raka terdiam. Ia menatap robot tersebut. "Mustahil. Aku tinggal sendirian sejak kecil."
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang salah. Raka tidak pernah mengingat orang tuanya. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada akta kelahiran yang ia simpan. Tidak ada satu pun kenangan tentang masa kecil selain sebuah suara samar yang selalu muncul dalam mimpinya. Jangan takut pada asap, Raka. Takutlah pada orang yang menyembunyikannya.
***
Hari-hari berikutnya, polusi semakin parah. R-09 muncul di berbagai penjuru kota. Setiap kali ia datang, udara berubah kelabu.
"Berhenti!" teriak Raka.
Robot itu hanya menjawab, "Aku menjalankan sistem."
Seorang perempuan bernama Mira, aktivis lingkungan yang menjadi teman Raka, mencoba menghentikan robot tersebut.
"Polusi bukan sekadar asap," katanya. "Ada kendaraan, industri, pembakaran sampah, debu, dan banyak sumber lain. Tapi robot ini memperburuk semuanya."
Di samping mereka, sebuah tempat sampah bernama Tras ikut berbicara. "Aku tahu siapa yang mengendalikannya," kata Tras.
Mira menoleh. "Siapa?"
Tempat sampah itu bergetar. "Raka."
Raka membeku. "Apa?"
"Raka yang mengaktifkan R-09."
Mira mundur selangkah. "Itu tidak mungkin."
Namun, R-09 tiba-tiba berbicara. "Perintah utama diterima." Matanya menyala. "Lindungi Raka."
Raka semakin bingung. "Kalau begitu, kenapa kau mencemari kota?"
Robot itu menjawab lirih, "Karena itu adalah cara melindungimu."
***
Malamnya, Raka menemukan sebuah ruangan tersembunyi di bawah rumahnya. Di sana terdapat komputer tua. Layar menyala ketika ia mendekat. "Proyek Arunika", sebuah program pengelolaan udara gratis. Di bawah tulisan itu terdapat sebuah nama. Raka Wardana sebagai Kepala Perancang yang juga ayahnya Raka.
Raka mundur. "Tidak..."
Mira membaca layar itu dengan wajah pucat. "Kamu bukan korban dari sistem ini."
Tiba-tiba seluruh lampu mati. R-09 muncul di pintu. "Memori Anda telah berhasil dipulihkan."
Raka menatap robot itu. "Siapa aku?"
Robot tersebut menjawab, "Manusia terakhir yang membuat kami."
Kemudian layar komputer menampilkan rekaman lama. Raka terlihat jauh lebih tua. Ia sedang berbicara kepada R-09.
"Jika manusia gagal menghentikan polusi, hapus ingatanku. Biarkan aku hidup sebagai warga biasa. Suatu hari, jika kota sudah terlalu tercemar, aktifkan kembali sistem."
Raka terdiam. Tetapi rekaman belum selesai. Versi tua Raka tersenyum di rekaman itu.
"Dan satu hal terakhir." Ia menatap kamera. "Jangan biarkan R-09 menghentikan polusi."
Mira bingung. "Lalu untuk apa robot itu?"
Raka membaca kalimat terakhir di layar. R-09 bukan robot penyebab polusi. Ia robot yang mengukur tingkat polusi.
Raka menoleh kepada robot itu. "Kalau begitu, siapa yang menyebabkan semua asap ini?"
R-09 menjawab, "Jawabannya ada di belakang Anda."
Raka berbalik. Tempat sampah bernama Tras, kipas angin Rizu, lampu lalu lintas, sepeda motor, dan benda-benda lain tiba-tiba diam. Lalu mereka berkata hampir bersamaan, "Manusia."
Raka terdiam. Untuk pertama kalinya, ia memahami mengapa ingatannya sengaja dihapus. Bukan agar ia lupa siapa dirinya. Melainkan agar ia bisa melihat kota sebagai manusia biasa.
Di luar jendela, langit masih kelabu. Namun kali ini Raka tidak menyalahkan robot. Ia membuka jendela lebih lebar.
"Kalau begitu," katanya, "kita mulai dari manusia."
Pohon tua di halaman tersenyum melalui daun-daunnya. "Sudah terlambat."
Raka menoleh.
Pohon itu melanjutkan, "Tidak." Daunnya bergoyang tertiup angin. "Tapi belum selesai."
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Kehilangan Habitat: Saat Satwa Dipaksa Pergi Tanpa Tujuan
-
Samsung Galaxy Book6: Laptop Ringkas Rp14 Jutaan Siap Tantang MacBook Neo
-
The Summer Hiakru Died Tamat dalam Dua Bab, Bab Terakhir Rilis 20 Oktober
-
AIESEC in UNJ Berdayakan Mahasiswa Melalui Program Global Classroom untuk Anak Usia Dini di Bahrain
-
Saatnya Ganti Provider: Ketika Warganet Ramai-Ramai Ngomongin XL