Dulu saya kira menjadi guru TK hanya tentang mengajar. Datang pagi, menyambut anak-anak, belajar bersama, bermain, bernyanyi, lalu pulang ketika kelas selesai. Ternyata, kenyataannya tidak sesederhana itu. Profesi ini membuat saya sadar bahwa seorang guru harus serba bisa; kadang menjadi pendidik, fotografer, dokter, petugas kebersihan, penjaga pintu, bahkan seperti satpam dan penjaga toilet. Semua ini terjadi bukan karena tertulis dalam deskripsi pekerjaan kami, melainkan karena saat bekerja bersama anak-anak, ada banyak hal tak terduga yang harus ditangani dan tidak selalu ada orang lain yang bisa mengerjakannya.
Ada saatnya tangan yang tadi memegang spidol harus beralih memegang sapu. Kamera yang tadinya hanya untuk dokumentasi harus sigap digunakan untuk mengabadikan kegiatan anak. Ketika ada murid yang menangis, peran kami bukan lagi sekadar mengajar, melainkan menjadi sosok yang menenangkan. Begitu pula saat ada anak yang takut ke toilet, kami harus sedia menemani. Mungkin dari luar rutinitas ini terlihat seperti rentetan pekerjaan kecil, tetapi bagi saya, justru dari hal-hal kecil itulah saya belajar bahwa menjadi guru TK membutuhkan hati yang mau all in. Kami tidak bisa sekadar berkata, “Itu bukan tugas saya,” karena ketika anak membutuhkan bantuan, gurulah yang ada di hadapan mereka, sehingga kami harus selalu siap dan hadir.
Tentu saja hal ini bukan berarti guru harus melakukan semuanya seorang diri, tetapi kenyataan di lapangan memang mengajarkan saya untuk tidak hanya mengandalkan satu kemampuan pokok. Menjadi guru TK menuntut kita untuk pandai mengajar, lihai berkomunikasi, sekreatif dan sesabar mungkin, hingga sigap mengurus banyak hal dalam satu waktu bersamaan. Hal terpenting lainnya adalah kesiapan untuk terus belajar hal-hal baru. Itulah mengapa saya sering merasa profesi ini layaknya pekerjaan all in one, di mana satu orang harus bersedia memainkan puluhan peran berbeda.
Dalam satu hari, kami bisa saja mengajar angka, lalu beberapa menit kemudian harus membersihkan meja, beralih mengambil foto kegiatan, hingga berjongkok membantu anak memakai sepatu. Belum usai membereskan itu semua, sudah ada anak yang menangis dan perlu dipeluk erat. Lelah? Tentu saja. Akan tetapi, selalu ada rasa hangat yang menjalar di dada setiap kali melihat anak-anak pulang dengan senyum semringah di wajah mereka. Saya akhirnya mengerti bahwa menjadi guru TK bukan sekadar tentang mendidik anak menjadi pintar, karena nyatanya kitalah yang justru banyak belajar dari mereka. Kami belajar untuk lebih sabar, ikhlas, dan menyadari bahwa pekerjaan yang acap kali dianggap sepele pun bisa memiliki arti yang sangat besar.
Jadi, kalau ada yang beranggapan menjadi guru TK itu pekerjaannya hanya bermain dan bernyanyi, mungkin mereka belum melihat realitas seutuhnya. Di balik ruang kelas yang terlihat sederhana, berdirilah guru yang bekerja keras memikul pelbagai peran ganda. Mereka dituntut serba bisa, serba ada, dan sebisa mungkin memberikan pelayanan dengan sepenuh hati. Pada akhirnya, menjadi pendidik di usia dini bukan melulu soal seberapa banyak materi yang kita ajarkan, melainkan tentang seberapa tulus kita hadir membersamai mereka tumbuh.
Baca Juga
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK
-
Investasi Kebaikan yang Tidak Bisa Dihitung dengan Gaji: Catatan Seorang Guru PAUD
-
Di Balik Senyum Guru di Ujung Desa
-
Belajar Authenticity dari Prilly Latuconsina Lewat Buku Retak, Luruh, dan Kembali Utuh
-
5 Tips Membaca Buku ala Raim Laode agar Lebih Mudah Paham
Artikel Terkait
-
Inovasi Media MUWAKIB: Cara Guru NU Pekalongan Bikin Belajar Bahasa Arab Jadi Seru
-
Ada 5.400 Pesantren di Jateng, Ahmad Luthfi Perkuat Dukungan untuk Santri dan Guru Agama
-
Terima Surat Forum Guru Besar, Hasto: Desakan Gibran Mundur Harus Didengar Presiden dan DPR
-
Anggaran Pendidikan Tembus Rp 17 T, Tapi Sertifikasi Guru di Jakarta Diduga Belum Tembus 50 Persen
-
Inovasi Pendidikan Terhambat: Dilema Guru Dibebani Program di Luar Tupoksi
Kolom
-
Keanekaragaman Hayati Diajarkan di Kelas, Dihancurkan di Dunia Nyata
-
Kacang Hijau: Penyelamat Sawah Saat Kemarau dan Jalan Rezeki Tak Terduga
-
Aksi Greenpeace di Bundaran HI: Alarm Darurat Krisis Iklim yang Kian Mengimpit Rakyat
-
Sirkus Istana: Saat Pemimpin Negara Kehilangan Esensi Gaya Kepresidenan
-
Ketika Kendaraan Listrik Melesat Lebih Cepat daripada Ekosistemnya
Terkini
-
Mengenal Permakultur: Gaya Hidup Bertani yang Bekerja Bersama Alam
-
Ghost in the Shell Umumkan Proyek Anime Baru, Science SARU Kembali Produksi
-
Mengingat Kembali Kelamnya Tragedi Orde Baru Lewat 3 Novel Fiksi Ini
-
Review Norm: The Tale of Norm Macdonald, Harga Sebuah Lelucon yang Dikenang
-
Bebas Iritasi! 4 Brightening Toner Lokal Tanpa Alkohol untuk Kulit Cerah