M. Reza Sulaiman | Dinah Ayu Afifi Suherman
Foto Ghibli Pizza Maker Junior (ChatGPT/2026)
Dinah Ayu Afifi Suherman

Dulu saya kira menjadi guru TK hanya tentang mengajar. Datang pagi, menyambut anak-anak, belajar bersama, bermain, bernyanyi, lalu pulang ketika kelas selesai. Ternyata, kenyataannya tidak sesederhana itu. Profesi ini membuat saya sadar bahwa seorang guru harus serba bisa; kadang menjadi pendidik, fotografer, dokter, petugas kebersihan, penjaga pintu, bahkan seperti satpam dan penjaga toilet. Semua ini terjadi bukan karena tertulis dalam deskripsi pekerjaan kami, melainkan karena saat bekerja bersama anak-anak, ada banyak hal tak terduga yang harus ditangani dan tidak selalu ada orang lain yang bisa mengerjakannya.

Ada saatnya tangan yang tadi memegang spidol harus beralih memegang sapu. Kamera yang tadinya hanya untuk dokumentasi harus sigap digunakan untuk mengabadikan kegiatan anak. Ketika ada murid yang menangis, peran kami bukan lagi sekadar mengajar, melainkan menjadi sosok yang menenangkan. Begitu pula saat ada anak yang takut ke toilet, kami harus sedia menemani. Mungkin dari luar rutinitas ini terlihat seperti rentetan pekerjaan kecil, tetapi bagi saya, justru dari hal-hal kecil itulah saya belajar bahwa menjadi guru TK membutuhkan hati yang mau all in. Kami tidak bisa sekadar berkata, “Itu bukan tugas saya,” karena ketika anak membutuhkan bantuan, gurulah yang ada di hadapan mereka, sehingga kami harus selalu siap dan hadir.

Tentu saja hal ini bukan berarti guru harus melakukan semuanya seorang diri, tetapi kenyataan di lapangan memang mengajarkan saya untuk tidak hanya mengandalkan satu kemampuan pokok. Menjadi guru TK menuntut kita untuk pandai mengajar, lihai berkomunikasi, sekreatif dan sesabar mungkin, hingga sigap mengurus banyak hal dalam satu waktu bersamaan. Hal terpenting lainnya adalah kesiapan untuk terus belajar hal-hal baru. Itulah mengapa saya sering merasa profesi ini layaknya pekerjaan all in one, di mana satu orang harus bersedia memainkan puluhan peran berbeda.

Dalam satu hari, kami bisa saja mengajar angka, lalu beberapa menit kemudian harus membersihkan meja, beralih mengambil foto kegiatan, hingga berjongkok membantu anak memakai sepatu. Belum usai membereskan itu semua, sudah ada anak yang menangis dan perlu dipeluk erat. Lelah? Tentu saja. Akan tetapi, selalu ada rasa hangat yang menjalar di dada setiap kali melihat anak-anak pulang dengan senyum semringah di wajah mereka. Saya akhirnya mengerti bahwa menjadi guru TK bukan sekadar tentang mendidik anak menjadi pintar, karena nyatanya kitalah yang justru banyak belajar dari mereka. Kami belajar untuk lebih sabar, ikhlas, dan menyadari bahwa pekerjaan yang acap kali dianggap sepele pun bisa memiliki arti yang sangat besar.

Jadi, kalau ada yang beranggapan menjadi guru TK itu pekerjaannya hanya bermain dan bernyanyi, mungkin mereka belum melihat realitas seutuhnya. Di balik ruang kelas yang terlihat sederhana, berdirilah guru yang bekerja keras memikul pelbagai peran ganda. Mereka dituntut serba bisa, serba ada, dan sebisa mungkin memberikan pelayanan dengan sepenuh hati. Pada akhirnya, menjadi pendidik di usia dini bukan melulu soal seberapa banyak materi yang kita ajarkan, melainkan tentang seberapa tulus kita hadir membersamai mereka tumbuh.